Prolog.
Malam semakin larut. Jam sudah menunjukkan pukul 22.05 wib. Kartika masih bergulat dengan kerdus-kerdus besar yang menumpuk di kamarnya. Matanya mulai sayup, gerakan tangannya yang merapikan pakaian mulai gemetar. Di hela napasnya yang panjang ia menyenderkan punggungnya di badan lemari.
“andai gue kayak harry potter yang punya tongkat sihir. Pasti gue nggak bakalan sesibuk ini. Huuhh..” gumamnya membuang napas.
Kartika kembali melanjutkan kegiatannya. Jam sudah menunjukkan pukul 22.27 wib. Pintu kamarnya terdengar di ketuk seseorang dari luar. Sontak kartika menghentikan kegiatannya. Dan berusaha berjalan mendekati pintu kamar dengan tubuh yang sempoyongan.
“kamu masih ngerapiin barang-barang kamu tik ?” terdengar suara perempuan separuh baya dari luar kamarnya.
Kartika membuka pintu kamarnya perlahan. “ehh mama. Iya ma. Masih sedikit lagi kok.” Jawabnya mengiyakan pelan.
“sudah malam. Besok hari pertama kamu masuk sekolah kan ? di lanjutin besok aja.” Nasehatnya bijak mencuri pandang melihat keadaan kamar anak gadisnya.
“iya ma. Tika langsung tidur.” Menuruti nasehat ibunya.
“kamu nggak keberatan kan pindah sekolah di sini ?” tanya ibunya yang masih berdiri di ambang pintu kamar Kartika.
“hemm.. iya ma, tika nggak apa-apa kok. Tika bakal nurutin semua ke inginan mama sama papa demi kebaikan hidup Tika nantinya.” Jawab Kartika menyenangkan hati ibunya.
“mama senang kamu ngomong kayak gitu. Tapi itu semua keluar dari hati kamu kan ? bukan kamu ngasal ngomong aja tika ?”
“iya mama, tika serius. Ini dari hati tika. Tika juga kangen sama mama, papa juga kakak. Udah 4 tahun dari SMP sampe SMA tika sekolah di asrama, jadi apa salahnya kalo kelas 2 SMA ini Tika sekolah di SMA umum ma.”
“hemm.. besok kamu udah sekolah, udah malam tidur lagi. Mama ke kamar.” Balasnya sayang dan meninggalkan anak gadisnya.
Kartika menutup pintu kamar. Perlahan ia beranjak ke tempat tidur merebahkan tubuhnya yang kecil. Merenungi kata-katanya barusan yang ia sampaikan pada ibunya. Tapi, yang di katakannya barusan bertolak belakang dengan apa yang ia rasakan sekarang. Rasa kecewa yang masih belum bisa menerima alasan kedua orangtuanya untuk memindahkannya ke sekolah umum ketimbang ia bersekolah di sekolah yang berasrama.
Kartika pindah ke sekolah yang sama dengan kakaknya setelah 4 tahun membiarkannya bersekolah di sekolah yang mempunyai asrama sendiri. Setelah Kartika duduk di kelas 2 SMA, kedua orangtuanya ingin melihat sendiri perkembangan psikologi anak gadisnya tersebut. Dan hal itu merupakan alasan yang sangat simply dan tidak masuk akal bagi Kartika. Tapi apa boleh buat, Kartika hanyalah seorang anak dan sebagai anak yang baik ia ingin menuruti keinginan orangtuanya. Belum lama ia merenung, matanya yang kecil mulai mengatup perlahan.
Sekolah baru.
Kartika berjalan menuju meja makan. Wajahnya tampak kusut. Terdapat katup mata hitam di mukanya pagi itu.
“buonjur.” Sapa kartika duduk di meja makan.
“eh, lo kenapa sih tik ? muka lo kusut banget kayak nggak di setrika gitu. Udah mandi belum sih lo ?” kata Dicky dengan nada meledek.
Kartika hanya menatap kakak laki-lakinya dengan tatapan sinis dan kembali menyantap makanannya.
“ada apa sih ? pagi-pagi udah ribut.” Tegur ayah mereka sesampainya di meja makan.
“itu loh pa si tika. Pagi-pagi udah masem aja mukanya.” Tambah Dicky memojokkan Kartika.
“tika ? kamu baik-baik saja kan ? ini hari pertama kamu sekolah kan ? “ tanya ayah memandang prihatin wajah anak gadisnya yang kusut.
“iya pa, tika baik-baik aja kok. Tuh si Dicky aja yang kepo. Huu” balas kartika kesal.
“tika. Kamu pergi sekolah sama kakak kamu ya ? kalian kan satu sekolah, jadi mama nggak perlu kasih kamu ongkos double.” Sambung ibu membawakan teh hangat untuk suaminya.
“haa, kok gitu ma ? aku nggak mau pergi bareng dia. Bisa ancur reputasi aku di sekolah kalo pergi bareng dia. Dia pergi bareng papa aja.” Tegas Dicky menolak permintaan mamanya.
“Dicky. Kantor papa kamu kan beda arah sama sekolah kalian. Adik kamu juga baru pindah ke sini, dia belum tahu jalan. Nanti malah nyasar lagi. Jangan gitu dong sama adik kamu.” Jawab ibu menasehati.
“yah mama. Suruh dia buka peta dong ma, dora aja bawa peta terus di tasnya.” Ledek Dicky masih mengelak perintah ibunya.
“hah iya. Aku doranya kamu botsnya.” Balas Kartika tak mau kalah.
“sudah sudah. Dicky jangan menyangkal lagi.” Sambung ibu melerai.
Kartika hanya tersenyum senang. Sekarang ia merasa menang dari Dicky karna di bela sama mamanya. Dicky hanya cemberut karna tidak mendapat pembelaan dari papanya dan harus menuruti perintah mamanya.
***
Sesampainya di sekolah, kartika di perintahkan kakaknya untuk menunggu di kantor majelis guru. Karna ia merupakan murid pindahan, jadi ia harus menyelesaikan administrasi sekolah untuk menentukan ruang kelasnya. Kartika duduk di ruang tunggu.
“lama banget sih lo ?” gerutu Kartika pada kakaknya.
“ihh, cerewet banget sih lo. Parkiran tuh jauh, gue tadi ke kelas dulu taro tas. Ayo ikut gue.” Ajak Dicky ketus.
Kartika mengikuti langkah kaki kakaknya dari belakang. Seperti di cuplikan video clip PaterPan menghapus jejak. Tubuh Dicky yang tinggi dan atletis menutupi tubuh Kartika yang berdiri tepat di belakangnya. Sesampainya di ruang TU, Dicky menyelasikan administrasi adik perempuannya.
“Dicky. Mana adik kamu yang baru pindah itu ? kok bapak tidak melihatnya.” Tanya salah satu staf TU sekolah tersebut.
“oh, ada pak. Nih..” tunjuk Dicky memindahkan posisi tubuhnya sehingga terlihatlah tubuh Kartika yang berdiri di belakangnya.
Kartika hanya tersenyum malu. Kemudian menyalami tangan petugas TU tersebut.
“dia ini emang kayak gini pak. Malu-malu orangnya, tapi kadang-kadang malu-maluin pak.” Jelas Dicky meledek Kartika.
Sontak mata Kartika langsung menatap kakaknya tajam dan mengutuk kakaknya dalam hati.
“ohh begitu. Baiklah, bapak akan antar kamu ke ruang kelas, dan kamu Dicky. Kamu boleh kembali ke ruang kelas kamu.”
“okeh pak, terimakasih.”
“sok akrab lo Ky.” Ketus kartika berbisik.
Kartika berjalan mengikuti petugas TU tersebut menuju ruang kelasnya. Dalam perjalanan menuju ruang kelas, mata Kartika menyusuri seluk beluk koridor sekolah yang di lewatinya. Matanya terus mencari perbedaan dan persamaan sekolah barunya tersebut dengan sekolah terdahulunya. Hingga ia harus di pindahkan ke sekolah yang sama dengan kakaknya bersekolah tersebut.
“kartika. Kamu tunggu sebentar disini. Bapak akan berbicara dulu dengan guru yang mengajar didalam.” Perintah petugas TU tersebut ketika sampai di depan ruang kelas yang akan menjadi kelas baru bagi Kartika.
Kartika mengangguk tanda mengiyakan perintah petugas tersebut. Matanya kembali menyusuri ruang kelas di hadapannya sekarang.
Kelas XI IPA 2 ? what ? aku di kelas ini ? yang bener aja nih guru. Di sekolah yang lama aja gue di kelas XI IPA 1, nah sekarang ? waduhhhh. Gerutu kartika dalam hati membandingkan kelas lamanya.
“nah Kartika, bapak sudah berbicara dengan guru yang mengajar di kelas. Kamu boleh masuk kelas ini. Nah silahkan, bapak akan kembali ke TU.” Ujar petugas tersebut keluar dari dalam kelas membuyarkan lamunan Kartika.
“hah iya pak. Terimakasih.” Jawab kartika terkejut.
Petugas TU tersebut meninggalkan Kartika yang masih berdiri kaku tak percaya dengan ucapan petugas tersebut. Perlahan Kartika memasuki ruang kelas. Guru yang mengajar di dalam menyambut kedatangan Kartika dengan hangat tak ingin memberi kesan buruk pada murid barunya tersebut. Berbeda dengan keadaan muridnya di dalam kelas, mereka menyambut kedatangan Kartika dengan heboh seperti halnya mendapat narasumber baru yang siap untuk di wawancarai.
“anak-anak harap tenang !!” perintah guru tersebut tegas.
Alhasil semua anak muridnya tersebut kaget dan terdiam mendengar gertakan gurunya. Suasana kelas menjadi hening seketika. Kartika berdiri di samping guru tersebut tepatnya di depan kelas di hadapan seluruh teman kelas barunya. Guru tersebut memberi isyarat pada Kartika untuk memperkenalkan diri pada teman-temanya di kelas.
“perkenalkan namanya Kartika Putri .K, saya murid pindahan dari SMA BANGSA. Senang bertemu dengan kalian, harap bantuanya.” Ucap Kartika santai dengan gayanya yang percaya diri.
“salam kenal.” Jawab semua murid serentak.
“baiklah Kartika, kamu boleh duduk di sebelah Rere. Dan anak-anak mari kita lanjutkan pelajaran.” Perintah guru tersebut pada anak muridnya.
Dengan masih rasa tak percaya ia berjalan menuju tempat duduknya. Dalam pikirannya Kartika masih bertanya-tanya dengan guru yang memerintahkannya untuk duduk di sebelah muridnya yang menurut analisis paradox Kartika murid ini nggak wajar deh dengan penampilan yang aneh kayak….?udah rambutnya di kepang dua, pake behel di tambah lagi dengan kacamatanya yang nutupin sebagian mukanya. Arrgg… Cupu banget sih lo, norak deh lebih tepatnya. Dengan terpaksa Kartika duduk di sebelah Rere dan mengikuti pelajaran di sekolah barunya tersebut.
“Hay Kartika.. nama aku Renata. Temen-temen biasanya panggil aku Rere.” sapa Rere ramah ingin mencoba mengenal lebih jauh teman baru di sebelahnya.
“he, hay juga.” Balas Kartika datar.
“aku panggil kamu Kartika atau apa ?” tanyanya lebih meyakinkan.
“cukup panggil gue Tika. Okey !” Lanjutnya ketus.
“baiklah. Tadi yang ngajar barusan namanya pak Burhan. Aslinya dia orang yang garang loh tik. Karna berhubung ada murid baru, jadi ia kasih kesan baik di awal perjumpaan belajar.”
“oh ya.. gitu yah.. ehm btw, di sini toiletnya di mana ya ?”
“ohh.. di samping perpustakaan juga ada, tapi kalo mau yang deket di samping kantor guru juga ada.”
“hee.. makasih.” Balas Kartika malas lalu beranjak meninggalkan teman barunya dan suasana kelas yang mulai gaduh.
Dengan masih perasaan tak percaya dengan keinginan orangtuanya yang memindahkannya ke sekolah umum, Kartika terus menelusuri lorong-lorong menuju toilet.
“apa sih maksud mama sama papa pindahin gue ke sekolah umum. Mending di sekolah yang lama, nggak ada tuh yang namanya kelas ribut hanya karna gurunya telat masuk. Nggak ada juga tuh guru yang telat masuk kelas. Gak abis pikir deh gue Kalo hanya karna perkembangan psikologi gue doang ? ampun deh gue.” Gerutu Kartika tak hentinya.
Setibanya di toilet, Kartika langsung menyelesaikan urusannya dan lekas keluar. Dalam perjalanan menuju ruang kelasnya, ia melihat sosok kakaknya yang sedang gather around dengan teman-temannya. Rasa kesal kembali menyelimuti hati Kartika. Menurut kesimpulan paradox yang diambil Kartika mengapa ia di pindahkan itu semua karna kakaknya. Dan karna kakaknya lah ia harus menjalani hari-hari di sekolah barunya yang membosankan.
Dengan wajah yang di tekuk Kartika kembali melanjutkan langakahnya menuju ruang kelas. Meninggalkan berbagai pikiran negatif tentang kakaknya. Dan kembali berhadapan dengan suasana kelas serta teman-teman yang masih asing baginya.
Suasana gaduh yang terjadi di kelas, makin menjadi dari Kartika pergi ke toilet sampai dengan ia kembali lagi ke kelas. Hingga tiba seorang guru piket, sebagai pengganti guru yang tidak masuk di jam pelajaran tersebut. Menenangkan suasana kelas yang semula gaduh. Tak jarang dari sebagian murid di dalam kelas yang menguap menutup mulutnya, menahan kantuk saat guru tersebut menceritakan pengalamannya kepada anak muridnya itu. Tapi hal tersebut terus di lakukan guru yang bersangkutan, karna tidak tau apa lagi yang harus ia lakukan untuk menenangkan situasi kelas yang akan kembali gaduh saat tidak ada guru yang mengajar di dalam.
***
Sudah beberapa hari Kartika menjalani rutinitasnya di sekolah baru. Semua tampak begitu datar baginya. Tak ada Sesutu yang membuatnya tertarik. Setiap hari ia pergi sekolah bersama kakak laki-lakinya. Pulang sekolah juga demikian. Berbeda dengan sekolah lamanya, yang hanya berjarak beberapa meter dari asrama sekolah.
Dalam perjalan menuju sekolah, Kartika menanyakan hal-hal aneh pada kakaknya. Hingga membuat Dicky jenuh dan enggan menjawab pertanyaan Kartika.
“apa sih maksud mama sama papa pindahin gue ke sekolah yang sama dengan lo Ky ?” Tanya Kartika memastikan kesimpulan paradoxnya.
“yah mana gue tau, Tanya aja langsung sama mereka.” Jawab Dicky santai mengendarai sepeda motornya.
“eh, lo tau lah kalo gue Tanya alasannya pasti jawabannya itu lagi itu lagi.” Balas Kartika yang di bonceng kakak laki-lakinya tersebut.
“ya udah terima aja nasib lo.”
“yah lo gitu ya. Nih ya, di bandingin sekolah gue yang sekarang masih bagusan sekolah gue yang dulu, masih berkualitas sekolah gue yang dulu dan masih banyak lagi prestasi-prestasi muridnya termasuk gue. Guru-guru gue aja nyayangin banget gue pindah sekolah.” Cerocos Kartika sombong.
“eh elu ya Tik. Coba deh lo rubah sifat songak lo tuh. Kalo di sekolah lama lo boleh sombong tapi di sini lo nggak boleh bawa-bawa sifat sombong lo. Atau lo bakalan dapat masalah karna sifat sombong lo itu !” Jawab Dicky tegas.
“yaelah, gitu aja marah. Kan ada lo sebagai kakak gue yang katanya selalu jagain adek perempuannya ini. Huu” Sambung Kartika meremehkan.
“elu ya. Terserah lo aja lah. Gue Cuma nasehatin lo sebagai adek gue.”
Kartika hanya mengangguk-angguk menghiraukan nasehat kakaknya. Dicky yang kesal dengan sikap Kartika tersebut menarik gas motornya cepat hingga melaju kencang. Dan membuat Kartika marah padanya, tapi Dicky tidak menghiraukannya. Hingga setibanya di sekolah Kartika masih memasang tampang kesal di wajahnya.
“hay Tika, selamat pagi. Kamu cantik banget deh pagi ini.” Sapa Yogi teman sekelasnya.
“hah, kemana aja lo. Emang kayak lo ya, yang tiap hari makin lecek aja.” Jawabnya ketus.
Yogi yang mendengar perkataan Kartika bungkam seribu bahasa. Yang di katakana Kartika memang benar adanya. Dengan logat sombongnya kartika melengos melewati Yogi dan duduk di kursinya. Di sebelah Kartika duduk, ternyata Rere sudah menunggu kedatangannya. Dengan mata berbinar-binar Rere memandangi Kartika yang pagi itu terlihat berbeda dari awal ia masuk ke kelas tersebut.
“eh kenapa lo liatin gue kayak gitu ? lo nafsu sama gue. Maaf Re, gue masih normal tuh.” Ketus Kartika.
“hahh.. nggak Tik. Gue Cuma seneng aja liat lo. Gue kagum sama lo.” Jawabnya bernada.
“hahah, aneh deh lo. Tapi, it’s oke lah. Gue tau kok kalo gue emang pantas buat di kagumi di sini.” Tambah Kartika menyombongkan dirinya.
Bel sekolah berbunyi tanda kegiatan belajar mengajar di mulai. Seluruh siswa masuk ke dalam kelas menunggu ke datangan guru yang mengajar. Di kelas Kartika murid-murid membuat kegaduhan karna guru yang mengajar terlambat datang. Sehingga di gantikan dengan guru piket yang masuk kelas. Tapi, 3 murid laki-laki di kelas Kartika terlambat datang sehingga harus berhadapan terlebih dahulu dengan guru piket yang lebih dahulu tiba di kelas.
“anak-anak harap tenang.” Perintah Bu Sugi yang pagi itu bertugas sebagai guru piket.
“kalian bertiga darimana, jam segini baru datang. Kenapa pakaian kalian kotor ?” Tanya bu Sugi mengintrogasi murid-murid yang terlambat tersebut.
Dengan entengnya 3 murid tersebut menjawab dengan lirik lagu yang sedang tenar di tahun 2012.
“aku terjatuh dan tak bisa bangkit lagi.”
“jawab yang benar, kenapa pakaian kalian kotor dan basah ?” Tambah bu Sugi menahan amarahnya.
“aku tenggelam dalam lautan luka dalam.”
“kalian bertiga jawab yang benar pertanyaan saya. Apa kalian lupa jalan menuju sekolah ?” Sindir bu Sugi kembali menahan amarahnya hingga membuat wajahnya memerah.
“aku tersesat dan tak tau arah jalan pulang, aku tanpamu butiran debu.”
Seluruh siswa yang berada di kelas saat itu sontak tertawa gaduh mendengar jawaban dari ketiga temannya tersebut termasuk Kartika. Bu Sugi yang sudah kehabisan kesabaran menahan amarahnya mendengar jawaban dari ketiga muridnya yang aneh-aneh, tanpa pikir panjang bu Sugi langsung menggiring 3 murid tersebut ke ruang piket dan memberikan hukuman atas kenakalan mereka.
“haha, aneh tuh orang. Di tanya bener-bener jawabnya ngasal aja. Rasain..” Ujar Kartika menghardik 3 temannya tadi.
“mereka memang seperti itu tik, maklum lah mau jadi komedian tapi nggak ke sampean.” Sambung Rere menerangkan.
“hah, aneh. Ambil jurasan IPA tapi pengen jadi komedian, salah alamat. Kalo di sekolah gue dulu mana ada murid yang kayak mereka, langsung di D.O.” Tambah Kartika membandigkan.
“asal nggak di kasih alamat palsu aja, pasti alamatnya bener.” Lanjut Rere humor.
Tapi hal tersebut tidak lucu bagi Kartika dan hanya memberi senyum hambar. Suasana kelas yang gaduh tiba-tiba kembali tenang setibanya bu Netta yang mangajar mata pelajaran fisika di kelas tersebut. Seluruh murid mengikuti pelajaran seperti biasanya. Dengan sombongnya Kartika menunjukkan ke pintarannya di hadapan teman-temannya saat bu Netta menunjuknya untuk mengerjakan soal latihan fisika di papan tulis. Dengan tampang wajah-wajah takjub, seluruh murid memberikan tepuk tangan yang meriah pada Kartika karna dapat mengerjakan soal latihan dari bu Netta yang sebelumnya tidak pernah ada murid yang bisa menjawab soal fisikanya dengan benar. Sampai jam pelajaran usai dan berkat Kartika mereka tidak di beri PR karna dapat menjawab pertanyaan dengan benar.
“wah Tika, kamu pinter banget deh. Untung ada kamu, biasanya kalo habis belajar dengan bu Netta pasti kita di kasih soal latihan yang rumusnya panjang-panjang banget.” Seru Nevy menghampiri Kartika di tempatnya.
“hah, biasa aja kale. Kalian semua anehnya, ambil jurusan IPA. Tapi cabang dari pelajaran sains aja kalian nggak nguasain. Heran deh gue.” Ketus Kartika menggelengkan kepalanya.
“yah, gimana nggak bisa coba. Gurunya aja ngajarnya kayak gitu. Datangnya telat, terus kasih materi nggak di jelasin. Cuma suruh liat-liat isi buku terus ngerjain soal. Yah mana tau lah tik.” Sambung Rere tak mau ke tinggalan.
“iya tik. Tapi, kamu kok santai banget ya belajar sama bu Netta. Ngerti-ngerti aja tuh apa yang di omongin sama dia.” Tambah Nevy salut.
“haha, ya iya lah. Itulah bedanya aku sama kalian. Di sekolah aku yang lama, semua murid di tuntut untuk belajar mandiri. Bahas materi yang mau di pelajarin bareng temen-temen di barak, kalo belum paham atau ngerti besok paginya tanyain sama gurunya. Sayangnya ini bukan sekolah yang berasrama.” Lagi-lagi Kartika membandingkan sekolah lamanya dengan yang sekarang.
“ohh gitu ya tik. Kalo gitu kita boleh dong belajar bareng sama lo ?” Tanya Nevy memberi usul.
“hemm, kalo Cuma kalian bedua aja nggak seru, gue males. Tapi, kalo rame-rame gue mau deh.” Jawab Kartika lunak.
“oke kalo gitu. Kita bedua bakal ajak temen-temen yang lain. Gimana ?” tambah Rere bersemangat.
“terserah kalian, gue siap-siap aja tuh.”
Dua teman baru. Walaupun sifat sombong Kartika belum hilang, tapi sekarang ia mendapatkan 2 teman baru di sekolah barunya. Yang kemungkinan besar setiap harinya mereka akan mendengarkan perkataan Kartika yang selalu menyombongkan ke ahlian dirinya.
Setelah menyiapkan perlengkapan sekolahnya, Kartika memutuskan untuk browsing. Menerka-nerka apakah teman lamanya ada yag berada di line obrolan. Ternyata dugaannya tepat. Sahabat karibnya sejak kelas 1 SMP dan selalu satu asrama dengannya. “oh Pratiwi, ternyata dugaanku tepat” seru Kartika dalam hati.
K untuk Kartika dan P untuk Pratiwi. Di line obrolan Kartika menceritakan semua hal tentang sekolah barunya pada Pratiwi.
K : baru 3 hari di sekolah baru, tapi gue udah bosen aja. Kangen gue sama temen-temen.
P : kenapa lagi sih honey bee ku ? gue sama temen-temen di sini juga kangen sama lo. nggak ada lagi yang rusuh di asrama, apalagi kalo lagi belajar di barak. Nggak serame waktu lo ada.
K : haha.. gitu ya. Gue masih belum ngerti sama keputusan ortu gue, pindahin gue ke sekolah yang sama dengan Dicky. Apa sih hebatnya Dicky di bandingin gue. Jelas jelas gue lebih pintar lebih lucu lebih imut lebih manis dan pastinya lebih cantik daripada dia.
P : haha ya iya lah non. Lo yang paling cantik di banding dia, dia mah cowok nah lo ? lo itu cewek. Aneh deh lo.. gimana temen barunya, udah dapat belum ? ahha, coba gue tebak. Lo pasti belum punya temen baru kan di sana. Coba deh non, lo kurangin porsi sifat sombong lo tuh !
Kartika terdiam sejenak setelah membaca pesan dari sahabat karibnya tersebut. Kemudian kembali memainkan jari-jarinya di keyboard.
K : enak aja lo. udah dapet 2 kalee.. lo kok kayak Dicky sih. Bête gue jadinya sama lo. uhh
Balas Kartika kesal dan menutup obrolannya. “ahhh semuanya sama aja. Nggak Dicky nggak Tiwi sama aja, gue kan nggak sombong-sombong amat. Masih ada baeknya juga tuh. Huhh.. boring gue.” Kesal Kartika berbicara sendiri dengan boneka beruang kesayangannya.
Dari balik pintu kamarnya, terdengar seseorang sedang mengetuk pintu. Dengan malasnya Kartika mempersilahkan orang tersebut masuk.
“masuk aja, nggak di konci.”
Dari balik pintu yang separuh terbuka, sosok laki-laki muda memasuki kamar Kartika. Dengan memasang wajah cemberut, Kartika meliriknya enggan.
“ngapain lo kesini ? nggak tau ya kalo gue lagi bête ?” Celetuk Kartika kesal.
“hee.. gue Cuma mau pinjem buku rumus lo doang. Pede banget sih. Eh, lo kenapa sih ? Jelek banget muka lo di manyunin kayak gitu.” Tanya Dicky mengambil buku rumus di meja belajar Kartika lalu berjalan perlahan mendekatinya.
“nggak ada tuh. Gue baik-baik aja, emangnya lo yang tiap hari nggak baik terus.” Ketus Kartika.
“ya udah kalo gitu. Gue pinjem buku lo dulu, kapan-kapan gue balikin.” Melangkah pergi meninggalkan Kartika yang masih duduk manyun di tempat tidurnya.
Kartika masih memasang wajah cemberut tak mempedulikan kata-kata kakaknya. Tapi setelah beberapa langkah Dicky meninggalkanya, terdengar suara Kartika memanggilnya.
“ehh, Dick. Kalo gue bilang gue nggak apa-apa, berarti gue lagi kenapa-kenapa. Lo tuh jadi kakak nggak peka banget sih sama adeknya. Gue lagi bête nih, di tanyain coba.” Cerocos Kartika menghentikan langkah Dicky.
“nah, tadi gue tanyain kenapa, jawabnya baik-baik aja. Kenapa lagi sih ? lo nyesel pindah sekolah ke sini ?” Tanya Dicky mengundurkan niatnya pergi meninggalkan adiknya dan memilih duduk di sampingnya.
“bukan itu juga Dick. Tapi, emang bener ya kalo gue sombong Dick ?” Tanya Kartika mulai serius.
Dicky terdiam sejenak, mencoba mencerna pertanyaan adiknya. Dengan penuh kebijaksanaan Dicky menjawab pertanyaan adik perempuannya hingga membuat adiknya tambah kesal.
“Kartika Putri Kartini. Lo tuh emang sombong. Lo baru nyadar ya ? kemana aja lo ?” bukannya memberi kata-kata bijak, tapi ia malah membuat Kartika tambah kesal.
“ihh lo ya. M. Dicky Patra Pratama. Gue serius nih. And jangan pake nama lengkap gue juga kale, gue malu tau.”
“yayayay.. nih ya gue tanya ke lo. Apa sih yang buat lo sombong ? apa juga yang lo sombongin ? lo tau nggak, apa yang lo sombongin tentang diri lo sekarang itu Cuma buat diri lo rendah di hadapan orang yang dengernya.” Kata Dicky dengan bijaknya menasehati adik perempuannya.
Tapi, masih dengan sifat sombongnya. Kartika masih menyangkal apa yang di katakana kakaknya dan balik memberi argumentasinya.
“kakak gue yang tersayang. Itu emang bener apa adanya tentang diri gue. Gue Cuma kasih tau ke orang kalo gue tuh bisa dan gue beda dari mereka. Dan walaupun gue sombong kan gue masih punya sisi baiknya juga. Jadi apa sih yang salah dari apa yang gue bilang ke mereka ?”
“huhhh capek deh ngomong sama lo. Terserah lo deh, lo emang selalu bener. Nggak pernah salah.” Sindir Dicky kesal beradu argument dengan Kartika dan memilih untuk pergi meninggalkannya.
Kini tinggallah Kartika sendiri merenung di kamarnya. Mencoba kembali menyusun kata-kata untuk membenarkan perkataan kakaknya kalau dia memang selalu benar. Toh, Kartika memang selalu tidak mau di salahkan.
The first problem with class sister.
Jam pelajaran telah selesai, berganti dengan jam istirahat sekolah. Seluruh murid tanpa terkecuali berhamburan keluar kelas menyelesaikan urusannya masing-masing di luar kelas sebelum jam istirahat usai. Kartika dan 2 teman barunya memilih untuk mneghabiskan jam istirahat di kantin sekolah. Setibanya mereka di kantin, ternyata meja kantin yang di sediakan sudah terisi penuh dengan siswa yang juga ingin mengisi perut mereka. Hingga mengaharuskan pandangan mereka untuk menelusuri tempat yang masih kosong. Setelah penelusuran yang cukup lama, ternyata mereka mendapatkan tempat kosong. Dengan rasa puas mereka berjalan mendekati tempat kosong tersebut. Tapi, belum sempat mereka duduk. Ternyata sudah ada orang lain yang menduduki tempat tersebut.
“ehhh, kalian ! tempat ini punya kami.” Bentak Kartika marah.
Sorot mata tak sedap tertuju pada Kartika. Salah satu dari rombongan cewek yang menduduki tempat tersebut balik membentak Kartika dengan tatapan matanya yang garang.
“eh lo. nggak sopan banget sama kakak kelas. Emang tempat ini punya nenek moyang lo, bukan kan ?? terserah kita dong !”
“maafin temen kita kak, dia murid baru di sini.” Hadap Rere membela Kartika.
Kartika masih memasang tampang culasnya. Tak memperdulikan pembelaan teman barunya itu.
“ohh, jadi dia murid baru di sini. Pantesan gue baru liat. Ehh, lo dengernya anak baru. Lo jangan nge-sok deh di sini. Atau lo akan berurusan sama geng gue.” Ujar salah satu cewek dari rombongan tersebut.
“hahh.. emangnya gue takut sama kalian. Nggak tuh..” jawab Kartika nyolot.
“ehh lo anak baru. Sombong banget lo ya. Kalo punya mulut tuh di jaga, jangan asal ngomong sama kakak kelas. Yang sopan dong. Emangnya di sekolah lo yang dulu nggak di ajarin sopan santun kalo ngomong sama kakak kelas apa ?!” Tambahnya kesal.
“kakak kelas gue dulu, nggak ada tuh yang kayak kalian. Nggak songong, nggak sok berkuasa dan nggak sok ngatur sama adek kelasnya, kayak kalian semua.” Jawab Kartika membantah.
“ehh lo ya. Di bilangin jawab aja terus. Gue beri juga lo.” Hardiknya marah.
Kedua teman Kartika yang mulai tidak nyaman dengan keadaan tersebut dan takut akan terjadi hal-hal yang tidak mengenakkan padanya, menarik tangan Kartika untuk menjauh dari tempat tersebut. Kartika yang tidak heran dengan sikap kedua temannya memberontak, melepaskan genggaman kedua tangan temannya. Tapi, dengan sekuat tenaga kedua temannya tersebut dapat kembali menarik tangan Kartika dan membawanya jauh-jauh dari tempat mereka berada sekarang.
“hey ! kalian berdua apa-apaan sih ? lepasin tangan gue !” bentak Kartika marah pada dua temannya.
“kartika, lo tuh nggak tau tadi berurusan sama siapa ? daripada lo cari masalah sama gengnya kak Sonia, mending kita bawa lo pergi dari sana.” Terang Nevy sabar.
“iya tik. Kita nggak mau cari masalah sama kakak kelas. Cukup sekali waktu kelas satu dulu deh.” Tambah Rere meyakinkan.
Kartika semakin heran dengan penjelasan kedua temannya tersebut hingga membuatnya mengerutkan dahi.
“hey, stop. Apa-apaan sih. Emangnya siapa tuh kak Sonia ? dan kenapa juga takut berurusan sama kakak kelas. Sama-sama murid aja kok takut. Aneh deh.”
“duhh kartika, kak Sonia itu mantan kapten cheers di sekolah ini. Dan semua murid di sini ngehormatin dia dan gengnya, lebih tepatnya sih takut. Guru-guru aja pada sayang sama dia.” Tambah Nevy menerangkan.
“hah, Cuma mantan kapten kan ? toh sekarang nggak lagi. Ngapain takut sama dia. Sama-sama makan nasi juga. Di sekolah gue yang dulu, setiap murid baru atau adek kelas tuh punya yang namanya kakak angkat. Dan fungsi kakak kelas tuh buat ngayomin dan bantuin adek kelasnya. Bukannya buat adek kelasnya takut gitu. Heran gue.” Celetuk Kartika lagi-lagi membandingkan sekolah lamanya.
“duhhh Kartika, udah deh jangan banding-bandingin sekolah lo yang dulu sama sekolah disini. Emang, bedanya tuh jauuuuuhhh banget. Ini sekolah umum bukannya sekolah asrama kayak sekolah lo dulu.” Jawab Nevy kesal setibanya mereka di depan perpustakaan.
Kartika hanya meremehkan perkataan Nevy, tak memperdulikannya ataupun meresponnya. Nevy yang melihat kelakuan Kartika yang menyebalkan itu kehabisan kesabaran. Wajahnya berubah merah menahan amarah yang tak terbendung lagi. Tangannya di genggam erat seakan-akan ingin mencubit tubuh Kartika. Rere yang melihat hal itu pun langsung mengambil tindakan sebagai tokoh penengah. Ia melerai kedua temannya itu yang sebentar lagi akan mengobarkan bendera perang.
“ehhh, sudah sudah.. yang dikatakan Nevy itu juga ada benarnya Tika. Lo sekarang bersekolah di SMA Karya Cipta bukan di SMA Bangsa lagi, jadi lo nggak usah banding-bandingin sekolah lama lo. gue bukannya sok bijak, tapi kami sebagai siswa SMA Karya Cipta nggak suka dengan sikap lo yang kayak gitu. Dari awal lo masuk sekolah di sini sampe sekarang sikap lo masih kayak gitu. Ketus, jutek, sombong dan banyak deh hal lain yang buruk tentang diri lo. Dan lo, Nevy. Lo ada benernya, tapi nggak kayak gitu juga kan. Bisa lebih di perhalus gitu.” panjang lebar Rere mencegah terjadinya konsleting antara Kartika dan Nevy hingga nafasnya tersengal-sengal menjelaskan.
Mendengar perkataan Rere yang panjang lebar, Kartika dan Nevy hanya terpelongo dan saling pandang. Kemudian kembali memandangi wajah Rere yang memerah karna menahan nafas karna tak hentinya berbicara.
“kotbah lo Re. gila keren banget.. nggak nyangka gue Re, hebat lo, hebat..” celetuk Kartika meledek.
“iya Re, gue nggak nyangka banget. Kenapa lo kemaren nggak ikut lomba pidato aja ? salut gue. Coba tadi gue rekam, pasti anak kelas takjub tuh sama lo.” tambah Nevy meledek.
Rere hanya terdiam memandangi secara bergantian wajah kedua temannya itu. Wajahnya yang tadi memerah sekarang berganti dengan adanya kerutan di dahi seperti berpikir dan bibir yang di manyunkan.
“ahh lo bedua. Cape deh gue, nggak ada manfaatnya nasehatin lo bedua. Marah nih.” Ujarnya kemudian.
“ohh lo marah ya Re ?” kompak Kartika dan Nevy.
“nggak gue nggak marah, gue Cuma kesal + sebel = pengen ngamuk.”
“yee itu mah sama aja Re.”
Setelah terjadi perdebatan yang cukup alot. Mereka memutuskan untuk kembali ke kelas karna jam istirahat telah usai. Dan alhasil mereka tidak jadi mengeyangkan perut mereka yang sejak tadi telah berdendang merdu.
***
Di depan gerbang sekolah, Dicky sudah siap dengan motornya untuk pulang ke rumah. Dengan sabar ia menunggu Kartika. Beberapa menit kemudian, wajahnya berubah kusut karna Kartika tak kunjung datang. Setelah kehabisan kesabaran menunggu, sosok Kartika muncul di hadapannya. Dengan memasang wajah tanpa dosa, Kartika langsung duduk di boncengan motor kakaknya.
“eh lo kemana aja sih ? lumutan gue di sini nunggu lo.” celetuk Dicky kesal, kemudian menyalakan mesin motornya.
“maaf deh kakak ku sayang. Tadi gue lagi runding sama temen-temen gue. Penting.” Jawabnya merayu.
“hee. Udah punya temen lo rupanya ? kirain gue lo nggak bakalan dapet temen baru. Eh, btw runding apaan lo ?”
“ehmm kasih tau nggak ya ? mau tau aja ato mau tau banget ?” tanya Kartika mempermainkan.
“eh lo ya ngeselin aja. Ditanyain baek-baek juga.”
“iya deh. Gue sama temen-temen rencananya mau belajar bareng di Dermaga. Anehnya Ky murid sekolah di sini, beda sama murid sekolah gue dulu.” Mulai Kartika membandingkan sekolahnya.
“mulai lagi nih anak. Udah deh males gue bahas sekolah lo.” jawab Dicky datar.
Kartika hanya mengerutkan dahinya tak berkomentar lagi. Matanya kembali menyusuri jalan-jalan yang sering di lewatinya menuju ke sekolah dan pulang ke rumah. Mulutnya kembali berkomentar panjang, tapi Dicky tidak merespon kata-katanya. Ia hanya berkonsentrasi mengendarai motornya. Seraya dalam hati berdoa agar mulut adiknya keseleo karna sepanjang perjalanan menuju rumah bercikau ria tak jelas.
***
Kartika sudah siap dengan penampilannya yang trend. Dengan manja ia mengetuk pintu kamar kakaknya dan memanggilnya manja. Karna ada sesuatu yang di inginkan Kartika dari kakaknya tersebut. Perlahan Kartika membuka pintu kamar kakaknya, karna setelah sekian lama mengetuk dan memanggilnya tak ada respon ataupun jawaban darinya. Dengan kesal Kartika membangunkan kakaknya dari tidur siang.
“ehh lo, di panggilin sekenceng apa juga nggak bakalan bangun. Udah kayak kebo aja lo tidur. Dicky… ayo bangun !! anterin gue ke Dermaga, sekarang !!!” Teriak Kartika membagunkan Dicky dari tidurnya.
“gangguin orang tidur aja lo, lagi mimpi indah juga. Mau ngapain sih ?” Jawab Dicky dengan suara parau, khas bangun tidur.
“tadi kan gue udah bilang ke lo. gu mau belajar bareng temen-temen gue. Cepet Ky !! ayo !!!”
“hemmm.. udah bawa sendiri aja motor gue tuh. Ati-ati ya..” jawabnya malas, melanjutkan tidur siangnya.
Kartika melirik jam tangannya. Udah telat gue. Gumamnya dalam hati. Wajahnya yang licin seperti habis di setrika tiba-tiba kembali kusut.
“MAMAAAA… Dicky nggak mau anterin Tika ke Dermaga buat belajar bareng temen Tika Ma…” teriak Kartika kencang hingga membangunkan tidur kakaknya.
“Dicky, anterin adik kamu ! mama lagi sibuk nih…” Jawab ibu dari dapur tak kalah kencangnya dengan terikan Kartika.
Dengan malasnya Dicky bangun dari tidurnya. Menatap tajam ke arah Kartika yang berdiri manis di hadapannya, seakan-akan ingin melahapnya bulat-bulat.
“ihh.. males banget gue sama lo. bawa-bawa mama lagi, huu dasar anak mama. Tunggu bentar, gue cuci muka dulu. Lo tunggu di depan sana.” Ujarnya kesal.
Wajah Kartika yang semula kusut sekarang menjadi licin kembali. Tergambar rona kemenangan di wajahnya. Dengan riangnya ia melangkah keluar dari kamar kakaknya, menuruti peritahnya.
“hahah, gue menang !!!” Gumam Kartika puas.
***
Sesampainya di tempat yang di tuju, ternyata teman-teman Kartika sudah berkumpul menunggu kedatangannya. Beberapa pasang mata tertuju pada Kartika. Melihat penuh keheranan dan beragam pertanyaan yang sebentar lagi akan tertuju pada Kartika. Belum sempat Kartika memilih tempat duduk, tangan Nevy sudah menariknya untuk duduk di sebelahnya.
“eh Tika, yang nganterin lo tuh kak Dicky kan ?” tanya Rere memastikan dengan tatapan penuh pertanyaan.
“emang lo pacaran ya sama dia Tik ?” tambah Yogi penasaran.
“kok bisa sih ? lo kenal dari mana ?” sambung Nevy heran.
“iya Tika, jawab dong ? kenapa kak Dicky bisa nganterin lo ke sini ?” Ujar Tono, Yono, dan Bono menanti jawaban Kartika.
Kartika melihat satu per satu wajah teman-temannya yang haus akan jawaban darinya.
“ehmmm.. emang kenapa sih sama kak Dicky sampe kalian segitu banget nanyanya ?” balik Kartika bertanya heran.
“ehh lo nggak tau apa Tik. Kak Dicky tuh mantan ketos di sekolah kita. Dia juga anggota tim inti basket di sekolah.” Jawab Yogi mengagumi.
“iya Tik. Dia tuh juga anak band di sekolah kita.” Sambung Rere ikut menyanjung.
“gila.. dia itu pemegang juara umum di sekolah. Pinter banget.. selain itu dia juga juara 1 karate tingkat komite.” Ujar Rere dengan wajah yang berseri-seri.
“udah ganteng, cool, baek, ramah, pinter, kesayangan guru-guru lagi di sekolah.” Tambah 3 teman lainnya melebih-lebihkan.
Kartika semakin heran dengan sikap teman-temannya yang selalu menyanjung dan melebih-lebihkan kakaknya di sekolah. Mendengar jawaban dari teman-temannya yang selalu memuji kakaknya tersebut. Sontak Kartika menjadi kesal dan mengganti topik pembicaraan. Mengembalikannya ke alasan semula mereka berkumpul di tempat itu. Dengan wajah penuh kekecewaan karna tidak mendapat jawaban yang memuaskan dari Kartika, akhirnya mereka memulai proses belajar kelompok tersebut. Walaupun mereka tidak mengerti sepenuhnya dengan penjelasan Kartika.
“Tika, hafalan rumus senyawa kimia nih. Kayak mantera buat melet cewek deh. Coba ya lo denger. Metana Etana Propana Butana Oktana Nonana na na na na… ah lupa gue.” Ujar Bono memulai komedinya.
“hahah bener tuh Bon. Besok gue praktekin ah di sekolah.” Tambah Yogi menyetujui.
“ehhh kalian nih.. di ajarin juga malah maen-maen. Gue serius nih. Nggak ada tuh yang namanya mantera melet cewek di rumus kimia nih. Yang bener dong belajarnya.” Ketus Kartika kesal.
Suasana yang semula santai, sekarang berubah kembali menjadi tegang. Kartika yang berperan sebagai guru baru bagi teman-temannya dengan sabar berbagi ilmu yang ia peroleh di sekolah lamanya. Walaupun terkadang ia kembali mebanding-bandingkan sekolah lamanya tersebut. Tetapi berkat usaha Rere hal tersebut dapat di gagalkan dengan batuk nakalnya.
All about Dicky.
Matahari mulai tenggelam di ufuk barat. Kartika memutuskan untuk menyudahi kegiatan belajar kelompoknya dan pulang ke rumah masing-masing. Tapi Kartika menemukan kendala saat akan pulang. Ia lupa membawa handphone yang akan di gunakan untuk menghubungi kakaknya dan ia tidak tahu harus naik angkutan umum mana untuk sampai ke rumahnya. Maka dengan senang hati Yogi berkenan untuk mengantarkan Kartika pulang ke rumah dengan selamat.
Sesampainya di rumah. Pikiran Kartika sekarang terfokus dengan pernyataan teman-temannya tentang kakaknya tersebut. Beribu pertanyaan tentang kakaknya mulai menghinggapi otaknya, memaksanaya untuk memastikan hal tersebut langsung dari narasumbernya. Sebelum itu Kartika memutuskan untuk memebersihkan tubuhnya terlebih dahulu yang lengket dengan keringat.
“Assalamualikum…” Ucap Dicky saat Kartika masuk rumah.
“Wa’alaikum salam.. ahh lo Ky. Udah ah gue mau mandi dulu. Kita masih ada urusan. Awas lo !” ancam Kartika pada kakaknya yang sedang duduk santai di depan televisi.
“yee… bodo.” Jawabnya datar.
Sampai malam Kartika masih bimbang untuk menanyakan berbagai pertanyaan yang hinggap di otaknya tentang kakaknya. Tapi, hal itu urung di lakukan Kartika. Karna, menurut kesimpulan paradox yang diambilnya. Kakaknya tersebut pasti akan mengiyakan semua pernyataan dari teman-temannya tersebut dan menyombongkan dirirnya sendiri. Akan tetapi, hal tersebut masih mengganjal di pikiran Kartika. Karna selama besekolah di asrama ia tidak pernah mengetahui kegiatan apa yang di ambil ataupun di lakukan kakaknya di sekolah. Hingga ia mendengar pernyataan yang mengejutkan tentang kakaknya dari teman-temannya. Hemm.. apa mungkin mama sama papa pindahin gue ke sekolah yang sama Dicky karna mereka pikir gue nggak ada apa-apanya di sekolah yang berasrama ? dan sekarang hidup gue ada di bayang-bayang hidupnya Dicky ? apa sih maksud semua nih ? it’s me, no others ! Renung Kartika panjang dengan berbagai argument yang hinggap di kepalanya.
Dengan tekad yang telah di bulatkan sebesar kepalan tangannya, Kartika memutuskan untuk menanyakan hal tersebut pada kakaknya langsung. Perlahan tapi pasti Kartika melangkahkan kakinya menuju kamar kakaknya. Di depan pintu kamar, Kartika menghentikan langkahnya berpikir ulang akan niatnya itu. Belum Kartika mengetuk pintu, ternyata pintu itu sudah terbuka sendiri. Oh tidak, pintu itu di buka oleh Dicky dari dalam. Dengan tatapan heran, Dicky memandangi Kartika yang berdiri kaku di depan pintu kamarnya.
“ngapain lo di situ ?” tanyanya datar meninggalkan Kartika yang masih betahan di posisinya.
Dicky tak menghiraukan Katika. Dengan langkah panjang ia berjalan menuju kamar mandi. Hingga ia kembali lagi ke kamar, Kartika masih di posisinya. Berdiri kaku diam seribu bahasa. Di pandanginya wajah Kartika dengan serius lalu menjentikkan jarinya, membangunkan Kartika dari lamunan panjangnya.
“eh lo Ky.” Jawabnya terkejut.
“lo tuh. Ngapain lo di depan pintu kamar gue. Bediri diem kayak patung lele yang di bunderan dermaga aja lo. Kesambet setan di situ lo ?” Tanya Dicky jutek.
“enak aja lo. gue mau tanyain sesuatu sama lo, tapi gue males. Gimana ya..?” Ujar Kartika lalu masuk ke kamar Dicky tanpa permisi.
“heee siapa suruh lo masuk kamar gue ! hemm beneran nih, kesambet setan lele lo. udah deh keluar sana, gue lagi ngerjain tugas nih !” teriak Dicky melarang Kartika masuk ke kamarnya.
Tapi, usahanya sia-sia. Karna Kartika sudah lebih dahulu masuk ke kamarnya dan menerawang seluruh isi kamar kakaknya yang belum sempat ia terawang tadi siang. Setelah mendapat apa yang ia cari, Kartika duduk di tempat tidur kakanya. Melirik atau lebih tepatnya memandangi foto dan berbagai macam pengharagaan yang terpajang rapi di dinding kamar kakaknya tersebut.
“ehh Ky, emang benernya yang di bilang sama temen-temen gue tadi tentang lo ?” Tanya Kartika meninta kejelasan.
“apaan ?” jawab Dicky mulai serius dengan pertanyaan adik perempuannya itu.
“hemm. Kata temen-temen gue sih, lo tuh populer banget di sekolah. Mantan ketos, anggota inti basket sekolah, anak band, juara umum satu sekolah, kesayangan guru lagi. Bener ya Ky ?”
Sejenak Dicky tertegun dengan pernyataan Kartika dan mulai menebak alur pembicaraanya sekarang.
“gimana ya Tik gue jawabnya. Bagi gue sih itu biasa-biasa aja nggak ada yang luar biasa bagi gue dan simple. Gue tau kok maksud lo nanya itu ke gue. Lo pasti mau…”
Belum sempat Dicky meneruskan kata-katanya, Kartika sudah memotongnya duluan dengan berbagai praduga yang aneh-aneh. Tentang berbagai alasan mengapa kedua orangtuanya memindahkan sekolahnya.
“wauw apaan yang simple ? keren lagi ! banyak fans-nya, di kagumin sama temen-temen satu sekolah. Tapi, kenapa gue harus yang jadi adek lo ? lo tau nggak, temen-temen gue tadi pada nggak terima lo nganterin gue jalan. Mereka bilang, gue sama lo tuh beda benget kayak ubur-ubur sama cumi-cumi. Hahah, nggak ada bedanya ya ? dan lo tau nggak, gue bete banget waktu temen-temen gue muji-muji loh.” Ujar Kartika setengah menahan tangisnya.
“duh Tika udah deh. Itu dulu, sekarang nggak lagi. Gue udah kelas 3 Tik. Gue mau fokus sama pelajaran gue. Udah deh jangan bahas masa lalu, gue benci kalo ungkit-ungkit masa lalu.”
“tapi gue nggak mau lo jadi bayang-bayang hidup gue. Gue nggak mau di bandingin sama lo. gue nggak mau alasan papa sama mama pindahain sekolah gue, Cuma gara-gara lo ! gue lebih milih sekolah di asrama itu karna gue nggak mau di bayangin sama lo. Tapi nyatanya emang bener. Lo di sini lebih hebat di banding gue. Lo selalu di puji sama papa mama, sedangkan gue yang udah ikut bermacam-macam kompetisi nggak pernah kayak gitu. Lo tau, gue iri sama lo Ky.” Tambah Kartika tersedak tak dapat menahan air matanya lagi untuk jatuh membasahi pipinya.
Dicky terdiam mendengar penuturan adik perempuannya itu. Perlahan Dicky mendekati Kartika yang duduk lemas dengan tumpahan air mata di pipinya.
“untung papa sama mama lagi keluar Tik.” Ujarnya memastikan.
“Kartika. Lo salah kalo lo ngomong kayak gitu. Sebenernya gue juga iri sama lo. Karna papa sama mama kasih kebebasan buat lo milih sekolah, sedangkan gue. Gue harus nurutin ke inginan mereka. Gue pengen kayak lo yang selalu dapat perhatian lebih dari papa sama mama. Kartika, gue sayang sama lo. Lo nggak usah dengerin kata-kata temen lo tentang gue. Itu dulu, sekarang ya sekarang. Kalo lo nggak mau temen-temen lo tau gue kakak lo, it’s oke I’m fine. Lo nggak usah bilang ke temen lo kalo lo adek gue. Dan gue bisa jaga rahasia kok. Hoho..” Tambahnya mencoba mencairkan suasana hati Kartika yang mendung.
Kartika melemparkan pandangannya pada Dicky yang duduk di sampingnya. Matanya penuh dengan kaca-kaca pecah yang kemudian jatuh perlahan membasahi pipinya. Dengan pikiran jernih Kartika mencoba memahami penuturan Dicky yang lagi-lagi membuatnya terkejut. Mencoba mencari cahaya kejujuran dari mata kakaknya yang ia tatap dalam. Perlahan dari bibir tipis Kartika mengembang sebuah senyuman yang sangat lebar.
“hahah… ada-ada aja lo Ky. It’s me, ok ! thanks a lot for you’re my brother. I miss you too.” Ucap Kartika memeluk Dicky erat. Hal yang tak biasa ia lakukan lagi sejak 4 tahun lalu.
“ehh apaan sih lo. ihh jijay deh gue di peluk sama lo. Harus mandi kembang tujuh rupa gue malem nih.” Celetu Dicky bergurau.
Tapi gurauannya tersebut membuat Kartika melepaskan pelukannya. Bukan karna Dicky, tapi karna kedua orangtunya yang berdiri kagum di ambang pintu kamar. Melihat geli ke arah kedua anaknya yang sudah dewasa saling berpelukan.
“heheheh, papa, mama. Udah pulang ya ?” ucap Kartika cepat melepaskan pelukannya.
“duhh anak mama sudah akur ya sekarang. Kemarin kayak Tom and Jerry, sekarang udah akur aja. Seneng deh liatnya ya pa. Jadi inget masa kecil kalian dulu. Nggak terasa sekarang udah gede aja anak mama ya.” Kata ibu sayang.
Lalu pergi bersama suaminya dengan perasaan suasana hati yang berbunga-bunga. Meninggalkan kedua anaknya yang mulai akur, menjalin hubungan harmonis antara kakak dan adik.
Bergantian Kartika dan Dicky saling pandang tak mengerti. Kemudian mengalihkan pembicaraan. Berbagi cerita, masalah antara kakak dan adik yang mempunyai hubungan harmonis. Hingga pembicaraan Kartika mengarah pada sebuah pertanyaan tentang mantan ketua cheers di sekolahnya sekarang.
“ehh Ky. Lo pasti kenal kan sama mantan ketua cheers di sekolah ? hemmm siapa tuh namanya, ni ni ni…” Ujarnya berpikir.
“Sonia. Ya, gue kenal. Temen gue, emang kenapa ? coba gue tebak, lo pasti udah buat masalah kan sama dia ?” Tebak Dicky memastikan.
“sotoy lo ya. Tapi lo kok tau sih ? Ada ya orang kayak dia bisa jadi ketua cheers di sekolah yang my felling say good-lah..” Jawabnya meremehkan.
“ya iyalah gue tau. Gue gitu loh..” dengan nada menyombongakan diri sendiri.
“nggak kok, just kidding sist. Yah kalo lo tanya tentang dia, pasti lo udah pernah ketemu sama dia. Dan lo udah cekcok sama dia. Pokoknya ya semua orang yang pernah buat masalah sama dia, pasti tanya-tanya tentang dia ke temen-temen deket dia. Dan salah satunnya gue. Dia tuh aslinya orang baek, tapi semenjak orangtuanya cerai dia jadi kayak gitu. Sering cari-cari sensasi sama adek kelas.” Tambah Dicky serius.
“hahah kayak seleb aja. Cari sensasi yang cetar badai membahana sama adek kelas, maksudnya cari masalah gitu ? emang lo kenal deket ya sama dia Ky ?”
“ahh lo nih, mulai deh. Nggak juga sih. Tapi, temen gue dulu pernah pacaran sama dia dan secara nggak sengaja gue yang jadi mak comblang nya. Hubungan mereka lumayan lama sih. Hampir setengah tahun, dan baru putus empat bulan lalu. Tapi tetep aja tuh Sonia minta balik sama dia dan terus aja nempelin dia kayak perangko. Mereka putus ya karna kesalahan Sonia sendiri. Dia nyelingkuhin temen gue sama 3 cowok sekaligus. Hebat kan. Nggak abis pikir deh gue ada cewek yang tega nyelingkuhin cowok yang sebaek dan sesetia temen gue tuh.” Curhat Dicky panjang lebar.
“ihhh lebay deh… nggak segitunya juga kaleee. Tega tuh cewek, gampangan banget sama cowok. Poliandri dong jadinya.” Celetuk Kartika kesal.
“lo nih, gue lagi curhat juga. Ya udah lah udah berlalu juga kisahnya. Tapi, lama-lama nggak enak juga curhat sama lo. Udah deh sana pergi dari kamar gue. Gue mau ngerjain tugas gue yang tertunda gara-gara lo. Pergi sana, tidur tidur.. anak kecil harus tidur jam segini udah malem.” Usir Dicky menarik tangan Kartika agar segera keluar dari kamarnya.
“huuu dasar lo ya, baru jam 8 juga. Ehh, gue bukan anak kecil lagi tau, bentar lagi umur gue 17 tahun, yah sekarang sih masih 16 tahun setengah sih. Huaahahaha…” Tawa Kartika puas keluar dari kamar kakaknya itu.
Dicky menutup pintu kamar lalu menguncinya mengantisipasi kedatangan Kartika yang sewaktu-waktu bisa muncul di dalam kamarnya. Kartika berjalan gontai menuju dapur. Saat melewati ruang keluarga, ia melihat kedua orangtuanya menjalin kemesraan menonoton televisi berdua saja tanpa di ganggu oleh kedua anaknya itu. Kartika hanya tersenyum geli lalu melanjutkan langkahnya menuju dapur.
Sambil menenggak air minum, Kartika mulai berpikir. Mencerna kata-kata kakaknya tentang sebuah arti perceraian. Yang pada akhirnya berujung pada kata-kata berpisah. Dan yang menjadi korbannya adalah anak-anak mereka. Secara psikologis, mereka akan kehilangan kasih sayang, perhatian, waktu dari kedua orangtua mereka. Yang kemudian akan mereka lampiaskan di kehidupan mereka dengan berbagai masalah yang mereka buat untuk mendapatkan hal tersebut. Dengan senyuman yang mengemabang lebar di bibirnya, Kartika mengucapakan syukur. Karna ia masih mempunyai keluarga yang utuh dan saling melengkapi satu sama lain. Alhamdulillah. Terimakasih ya Allah.
***
“Kartika. Nanti pulang sekolah kita main ke rumah kamu ya ?” Tanya Rere saat jam istirahat sekolah di kantin sekolah.
“haaa.. mau ngapain kalian ? aku lagi sibuk.” Jawab Kartika terkejut.
“yeee Tika. Kita kan mau numpang makan gratis gitu.. ya nggak temen-temen ?” Sambung Yogi tanpa permisi.
“yoi mamen… hohoho” Seru 3 Komedian kompak.
“enak aja. Rumah gue bukan rumah makan. Nggak bisa ! aku mau pergi nanti.”Ketus Kartika mengelak.
Melihat sikap Kartika yang demikian, teman-temannya membujuk serta merayunya agar mengizinkan mereka mampir ke rumahnya. Tapi hal tersebut sia-sia, karna Kartika menolak mentah-mentah keinginan mereka dan mengabaikan rayuan gombalnya. Dengan memasang wajah kecewa dan sedih, mereka menundukkan kepala lemas. Kembali menyantap makanan yang ada di hadapan mereka.
Kartika tidak menghiraukannya. Ia asyik dengan kesibukannya sendiri. Memainkan jari jemarinya yang kecil di keyboard hanphone, seraya tertawa-tertawa sendiri saat melihat layar monitornya. Teman-temannya hanya menggeleng heran melihat kelakuan Kartika yang aneh.
“duh duh duh.. kenapa lagi nih anak ? senyum senyum sendiri kayak orang gila.” Celetuk Nevy sadis.
“smsan sama siapa sih Tik ? asik banget kayaknya. Sama pacarnya ya ?” Tanya Yogi penasaran setengah cemburu.
“hahh ada deh.. kalian nggak perlu tau. Udah lanjutin lagi makan kalian tuh.” Jawabnya acuh.
Karena asyik bermain dengan handphonenya, Kartika tidak menyadari bahwa pandangan mata teman-temannya sekarang beralih ke tempat lain. Kartika heran dengan tatapan mata teman-temannya yang tidak berkedip-kedip. Pandangannya sekarang juga ikut tertuju pada sekumpulan cowok yang duduk di seberang meja tempat mereka sekarang berada. Sekumpulan laki-laki muda dengan berbagai macam gayanya yang trendi dan modis walaupun sedang memakai seragam sekolah putih abu-abu. Sekejap mata Kartika langung terfokus pada sosok laki-laki yang tak asing lagi baginya. Dicky !! ngapain lo di situ ? pergi lo sana jauh-jauh. Kenapa sih, dimana ada gue pasti ada lo. gangguian aja lo. Pasti sekarang lo puas karna temen-temen gue kacangin gue. Gumam Kartika dalam hati kesal, menghujat kakak laki-lakinya itu.
“hey, kalian kenapa sih ngeliatnya sampe segitu amat. Nafsu banget kayaknya, nyampe nggak sadar bola mata kalian aja hampir copot tuh. Ihhh ngences lagi. Iuhhh..” celetuk Kartika membuyarkan pandangan teman-temannya dengan logatnya yang khas.
“ihh apaan sih lo Tik. Ngiri lo ya ?” Tanya Nevy kesal bangun dari lamunan indahnya.
“enak aja. Nggak tuh !” jawanya datar.
“kalo gue jadi kak Dicky, pasti banyak cewek yang ngantri buat jadi cewek gue. Dan gue bakal buat formulir pendaftarannya banyak-banyak.” Gumam Yogi berbisik.
“kalo gue yang jadi kak Reno, gue bakal pacarin semua cewek yang ada di sekolah ini. Wuuhh, mantep tuhh.” Tambah Tono tak mau kalah.
“haaa ???? mimpi lo ! bangun-bangun udah siang nih Ton.” Gugat 3 teman laki-laki yang lain menyorakinya rusuh.
Kartika kembali menggelengkan kepalanya. Yang tak habis-habisnya berpikir dengan teman-temannya yang selalu membicarakan kehebatan kakaknya itu. Tapi, sejenak Kartika berpikir ulang tentang kata-kata yang ungkapkan Tono tadi. Reno ? siapa sih dia ? kenapa ada dalam daftar orang yang di kagumi mereka ? Berbagai pertanyaan seputar Reno, di kepala Kartika mulai menumpuk.
Pandangan Kartika tertuju pada sosok laki-laki yang duduk di sebelah kakaknya. Darahnya mengalir deras. Matanya berbinar takjub saat menatap sosok itu. Rapi, keren, cool, tinggi, ganteng, kayaknya baek deh. Uhh tipe gue banget. Gumam Kartika dalam hati melamunkannya.
Angin sepoi serasa berhembus di kuduk Kartika hingga membuat bulu romanya berdiri. Jantungnya mulai berdetak hulala tak berirama, seakan habis berolahraga. Perasaan yang belum pernah di alaminya selama ini. Pandangannya tak lepas dari setiap gerakan yang di lakukan sosok yang di pandangnya itu. Sampai akhirnya berhenti berdetak untuk seketika. Saat sosok yang ia tatap itu balik menatap ke arahnya. Dan membuat mata mereka saling beradu pandangan. Sepontan Kartika langsung membuang pandangannya dari sosok tersebut. Memalingkannya ke arah pandang yang lain, tak ingin sosok itu curiga dengannya. Hingga membuat Rere yang duduk di sampingnya heran dengan sikapnya yang berubah aneh. Yang kemudian menepuk pudak Kartika, karna panggilannya tak mendapat respon.
“Tika, lo kenapa sih ? di panggilin nggak nyahut-nyahut. Balik ke kelas yuk, udah bel tuh.” Tanya Rere heran.
“ahh nggak kok Re, nggak ada apa-apa. Oh iya Re, cowok yang itu siapa ?” Tanya Kartika menuruti ajakan Rere.
“ohh itu, yang duduk di sebelah kak Dicky. Namanya kak Reno. Dia temen deketnya kak Dicky. Sama-sama cowok terpopuler di sekolah kita. Semua yang di sebutin tentang kak Dicky sama 3 komedian kemaren, semuanya juga sama dengan kak Reno. Tapi bedanya kak Reno tuh mantan ketua tim basket dan bukan mantan ketos. Bagi gue sih, di banding kak Dicky kak Reno lebih ganteng. Senyumnya yang bisa buat semua hati cewek kelepek-kelepek kalo ngeliatnya. Kenapa ? Lo tertarik sama kak Reno juga ya ?”
“nggak kok tanya aja. Udah yuk pergi.” Jawabnya nge-les lalu mengajak teman-temannya masuk ke kelas.
Teman-teman barunya tersebut mengikuti ajakan Kartika, tanpa ada satupun dari mereka yang membantah untuk pergi dari tempat itu. Meninggalkan sekumpulan cowok terpopuler di sekolah tersebut yang masih asyik dengan kesibukannya masing-masing.
Kartika berjalan di barisan paling depan. Seakan ia-lah yang menjadi pemimpin barisan tersebut. Tapi teman-temannya tidak mempermasalahkan hal tersebut, karna itu merupakan salah satu ciri khas Kartika yang tidak ingin di samakan dengan teman-temannya dan orang lain yang ada di sekitarnya.
***
Pandangan pertama.
Besok, tanggal di kalender berwarna merah. Menandakan malam ini adalah malam minggu. Kartika tidak melakukan aktivitas seperti remaja lainnya. Menghabiskan malam minggu bersama pasangannya ataupun pergi keluar untuk menghirup udara malam. Mencari ketenangan setelah seminggu menghabiskan waktu untuk berpikir, mengerjakan semua tugas sekolah yang di berikan oleh guru di sekolah. Berbeda dengan yang di lakukan Kartika. Ia lebih memilih menghabiskan malam minggunya bersama laptop-nya. Nge-browsing sepuasnya dengan teman-teman di dunia maya-nya. Mencari berita atau gosip terhangat seputar selebritis. Tapi bukan itu yang di lakukannya. Ia asyik bermain ria dengan berbagai game terbaru yang baru di download-nya.
Berbanding terbalik dengan hal yang akan di lakukan oleh kakaknya. Pakaian yang rapi dengan kemeja kotak-kotak di pasangkan dengan celana jeans model terbaru di tahun 2013 ini. Gaya rambut yang tak kalah uptudate-nya dengan gaya rambut artis-arits ibukota sekarang. Wangi parfum khas laki-laki tak lupa ia semprotkan. Hingga seluruh ruangan tercemar dengan wangi yang menyengat di hidung itu.
Dicky menghampiri adiknya di kamar. Melihat hal apa yang sedang di lakukannya adiknya pada malam minggu ini. Apakah ia melakukan hal yang sama dengannya sekarang atau melakukan hal lainnya. Dengan gaya-nya yang necis ia menggoda Kartika yang sedang fokus bermain game.
“hay cewek lagi apa tuh ? asik banget kayaknya.” Goda Dicky nakal.
Kartika menghentikan permainannya sejenak. Menatap sosok laki-laki yang berdiri di hadapannya. Dari ujung rambut sampai ujung kaki, dari ujung kaki sampai ujung rambut. Tak henti mata Kartika memandanginya. Kening Kartika berubah mengkerut seperti sedang berpikir. Mencari kata-kata yang cocok untuk memuji sosok laki-laki yang berdiri gagah di hadapannya.
“waahh.. rapi sekali, bagus, keren, mantap. Tapi, berapa botol parfum yang sudah anda habiskan malam ini ? gilaaa.. wangi banget lo Ky, sampe-sampe hidung gue gatel nih nyium bau lo.” Komentar Kartika pedas seperti kritikus.
“enak aja lo. Baru dua botol juga, belum nambah lagi nih.” Jawabnya melebih-lebihkan.
“yeee.. mau kemana lo malem-malem gini ? rapi amat.” Tanyanya heran.
“hahaha. Ikut nggak ? daripada lo malam mingguan di kamar sama laptop lo, nge-browsing nggak jelas. Mending ikut gue ¬hang-out. Gue deh yang minta ijin sama papa mama.” Tawar Dicky lembut.
“nggak ah, males gue. Di kamus gue nggak ada tuh yang namanya malam mingguan. Pergi aja lo sana, gue nggak mau ikut.”
“ya udah kalo nggak mau ikut. Ini penawaran gue yang sangat menguntungkan loh Tik. Lo kan selama nih di asrama mulu, nggak pernah keluar malem. Nih mumpung gue lagi baek sama lo.”
“nggak mau. Udah sama pergi ! gangguin aja ah.” Ujar Kartika meyakinkan.
Dicky hanya menaikkan kedua bahunya lalu pergi meninggalkan Kartika bersama laptopnya. Berjalan perlahan keluar dari kamarnya, menerka-nerka Kartika akan menarik ucapannya untuk menerima tawarannya. Seraya berhitung di dalam hatinya. Satu… du-a… ti-… Ternyata benar dugaannya. Kartika memanggilnya cepat. Dengan gerakan cepat, Dicky langsung mendekati Kartika lagi. Memastikan keputusan adiknya setelah berpikir ulang.
“ehh Ky, gue boleh tanya sesuatu nggak tentang temen-temen lo ?” Tanya Kartika ketika Dicky duduk di sampingnya.
Dengan wajah di tekuk, Dicky menelan ludahnya. Ternyata tebakannya salah total. Kartika bukan menerima tawarannya barusan, tapi ingin menanyakan hal lain seputar teman-temannya di sekolah.
“yaelah, gue kira lo mau nerima ajakan gue. Ngapain sih lo tanya-tanya temen gue ? kenapa, ada yang lo suka ?” Balasnya beruntun.
“hemmm, nggak sih. Tapi gue penasaran aja sama temen lo yang namanya Reno.” Ucap Kartika malu-malu.
Dicky memandangi wajah adiknya itu dalam. Memastikan tidak terjadi hal aneh yang sekarang hinggap di kepalanya. Secara cermat ia menatap mata adiknya tersebut. Menarik kesimpulan dari pertanyaannya.
“ahhh. Udah deh, kan kemaren gue udah cerita sama lo. dah gue pergi, kirain apaan. Good bye baby good bye.” Ujar Dicky lalu meninggalkan Kartika yang kesal dengan jawabannya yang tidak memuaskan.
Tanpa pikir panjang lagi setelah di tinggalkan Dicky dengan jawabannya yang tidak memuaskan. Kartika memutuskan untuk mencari teman chatting-nya di line obrolan. Ternyata di line obrolan tercantum nama ‘ciiebolobolosyabalalapratwitwit’.
Lagi-lagi di daftar obrolannya, K untuk Kartika dan P untuk Pratiwi.
K : malam minggu yang membosankan
P : why sist ? do you have any problem ? share
K : yes ! my brother make me vexed with his answere.
P : emang kakak lo kenapa lagi sih Tik ? perasaan gue nggak lagi smsan nggak lagi chatting, lo selalu cerita tentang kakak lo yang katanya buat hidup lo kacau beliau.
K : hahah. Ember. Gue tanya baik-baik, dia jawabnya asalan aja. Siapa yang kesel coba Wi. Hey, gimana sekolah sekarang ? kabar temen-temen juga gimana ?
P : yahh.. semua lebih baik setelah lo pergi. Walaupun banyak yang nggak enaknya sih di sini. Eh, minggu depan gue ultah yang ke-17 Tik. Lo masih inget kan ? lo dateng ya Tik. Gue ngarep banget lo dateng.
Kartika merenung. Menghentikan gerakan jarinya yang mengetik di keyboard. Bibirnya di manyunkan ke depan. Tanpa memberi jawaban, ia mengakhiri obrolannya. Lalu memutar lagu yang ada di playlist laptop-nya. Mendengarkannya, kemudian menyanyikannya dengan suaranya yang khas. Cempreng.
Ulangtahun. Ke-tujuh belas. Di rayain. Malam minggu. Minggu depan. Pasti seru banget deh. Gue pengen juga kayak gitu. Sekarang tanggal 31maret. Kalo minggu depan ultah-nya Tiwi, berarti bentar lagi masuk bulan April. Hemmm.. tanggal 21 April. Terus gue lagi yang ultah ? ngapain sih pake acara di rayain segala Wi. Kan lo tau gue nggak mungkin dateng ke sana. Paling gue Cuma kasih ucapan selamat, wish you all the best sist. Terus kadonya di kirim lewat pos. ahh percuma lo ngundang gue Wi. Maafin gue ya, di ultah lo yang ke-17 nih gue nggak bisa ceplokin telor terus naburin tepung lagi ke kepala lo.
Lamun Kartika berpikir panjang. Hingga ¬playlist lagu-nya mencapai list lagu terakhir, yang kemudian play back dari list lagu pertama lagi. Karna di playlist lagu Kartika hanya terdapat eman list lagu. Lagu-lagu tersebut merupakn lagu pilihan dan lagu yang sering di play oleh Kartika.
***
Matahari bersinar cerah bersahabat. Jam menujukkan pukul 09.35 wib. Kartika belum bangun dari tidur nyenyaknya. Setelah ia terbangun pukul 05.25 wib untuk mengerjakan sholat subuh, Kartika memutuskan untuk melanjutkan tidurnya. Menyelesaikan mimpi indahnya yang sempat ia tunda sejenak untuk melaksanakan kewajibannya.
Tidak terdengar aktivitas apapun dari dapur ataupun ruang keluarga. Kartika bangun dari tidurnya. Mengecek situasi dan kondisi rumahnya. Mencari orang-orang yang seharusnya berada di rumah untuk menikmati hari minggu pagi. Tapi setelah sekian lama ia mengelilingi rumah, tak satupun ia menemukan penghuni lain di rumah tersebut. Karna sudah putus asa, Kartika duduk di meja makan. Mengisi perutnya yang berdendang ria karna lapar. Dengan wajah penuh kekecewaan, karna tidak menemukan makanan. Akhirnya Kartika melahap habis sisa roti bantal yang ada di kulkas.
Dari pintu depan rumahnya, terdengar suara pintu di ketuk. Bergegas Kartika menuju pintu. Menerka-nerka bahwa orangtuanya yang mengetuk pintu tersebut. Dengan hati berdebar Kartika membuka pintu perlahan.
“dorrrr.. anda saya tangkap.” Kejut Dicky dari balik pintu.
Kartika yang terkejut langsung membanting pintu. Hingga membuat kening kakaknya menabrak pintu yang tiba-tiba tertutup lagi setelah di buka.
“anjritt li Ky. Ngagetin gue. Kirain gue mama sama papa, eh ternyata lo orang yang tak di harapkan.” Ucapnya kesal.
“hahah.. sakit tau ah. Gue baru balik jogging. Lo sih di bangunin nggak bangun bangun. Tidur udah kayak kebo aja. Kenapa muka lo kusut.” Terang Dicky merintih.
“mama sama papa kemana sih ? gue udah muter-muterin rumah juga, nggak ketemu-temu.” Tanyanya penasaran.
“kalo mama sama papa nggak ada di rumah. Coba kita lihat di pintu kulkas, pasti ada memo yang tertempel di sana.” Ujar Dicky menjelaskan.
Kartika mengiktui kakaknya menuju dapur. Memastikan adanya memo yang tertempel di pintu kulkas seperti yang ia katakan. Ternyata benar yang di katakannya. Ada secarik kertas berbentuk memo yang tertempel di sana.
Dear anak mama dan papa,
Mama sama papa keluar kota 2 atau 3 hari untuk menjenguk nenek di kampung. Kalian berdua jaga rumah, jangan ribut terus. Uang saku ambil di kamar mama, di tempat biasa.
Maaf Kartika sayang. Mama sama papa buru-buru tadi, jadi tidak sempat kasih tau kamu. Liat kamu tidur nyenyak jadi nggak tega buat banguninnya. Dan kamu Dicky, selama mama dan papa pergi. Kamu yang handle pekerjaan rumah, termasuk masak buat kalian berdua. Kalo cuci baju, cuci sendiri-sendiri. Jagain adik kamu !
Love,
Mama
Lantang Dicky membaca memo dari mamanya. Mendengar pesan dari mama yang di bacakan Dicky, Kartika tertawa puas dengan isi memo tersebut. Yang mengharuskan kakaknya untuk meng-handle pekerjaan rumah selama mereka pergi. Wajah Dicky berbanding terbalik dengan Kartika yang tertawa puas. Wajahnya di tekuk, bibirnya manyun ke dapan dengan kening yang mengkerut.
“keenakan lo ya. Harusnya lo yang handle pekerjaan rumah, bukan gue. Lo kan cewek, nah gue cowok. Ahh mama pilih kasih nih.” Ujar Dicky kesal.
“hahhhaha.. lo kan kakaknya, gue adeknya. Tapi, jangan ceberut terus dong Ky. Gue bantuin kok. Tenang..” Ucap Kartika bersahabat, menghibur kakaknya yang sedang berkeluh kesah.
Dicky hanya tersenyum tipis melihat adik perempuannya yang tertawa senang di atas penderitaannya.
Setelah seharian mengerjakan pekerjaan rumah yang di tinggalkan kedua orangtuanya. Dicky dan Kartika memutuskan untuk beristirahat sejenak, menarik nafas lega. Kartika memilih untuk mandi terlebih dahulu dan setelah itu tidur untuk mengistirahatkan tubuhnya yang lelah. Sementara Dicky memilih untuk menonton televisi. Membiarkan tubuhnya yang atletis itu lengket dengan keringat.
***
Jam di kamar Kartika berdekat kuat, tapi tak sekuat dengan bunyi yang bersumber dari kamar Dicky. Pukul 14.15 wib. Kartika bangun dari tidur siangnya. Yang langsung memaksanya untuk menuju kamar Dicky yang berada di ruang tengah.
Ternyata benar, suara gaduh itu berasal dari kamar kakaknya. Dengan sekuat tenaga Kartika mengetuk pintu dan memanggil kakaknya itu. Tapi suaranya tak lebih kuat di banding dengan suara gaduh yang ada di dalam kamar tersebut. Dengan terpaksa Kartika langsung membuka pintu kamar kakaknya. Betapa terkejutnya ia, saat melihat ada sekumpulan laki-laki yang sedang bermain alat musik tak jelas instrumennya di telinga Kartika. Kartika hanya berdiri kaku tak dapat berkutik. Matanya mencari sosok kakaknya diantara laki-laki yang berada di hadapannya itu, tapi tak ia temukan.
“hay. Kamu Tika ya, adiknya Dicky ?” Tanya salah satu cowok tersebut menghampiri Kartika yang berdiri kaku di muka pintu.
Kartika masih kaku, bungkam seribu bahasa tak dapat menjawab pertanyaan dari laki-laki yang sejak tadi berdiri di hadapannya memandangi dirinya.
Sosok laki-laki yang pernah ia lihat saat di kantin sekolah tepo hari. Sosok laki-laki yang bisa membuat hati Kartika cenat-cenut saat di pandangi dengan sorot matanya yang tajam itu. Kartika masih berdiri kaku di posisinya, tak melakukan gerakan sedikitpun. Diam tak berkutik hanya terpelongo menatap sosok laki-laki bedriri di hadapannya.
“eh Tika. Ngapain lo di situ ? udah bangun lo ?” Seru Dicky dari belakang Kartika, membangunkannya dari berbagai pikiran negatif tentang kakaknya.
“hah, gimana bisa gue tidur kalo ada bunyi gaduh di dalam rumah. Dan hebatnya bunyi itu dari kamar lo !” Jawab Kartika terkejut membalikkan tubuhnya menghadap ke arah kakaknya yang berada di belakangnya.
“ohh jadi benar ya ini adek kau Ky. Manis juga, lucu, gemes deh liat ya.” Celetuk laki-laki yang tadi berdiri di hadapannya tapi sekarang berganti posisi berdiri di sampingnya.
“hahah, lucu kato lo. Hati-hati lo Ren, dia bisa nyakar lo sewaktu-waktu. Udah sana lanjutin tidur siang lo. Gue ngundang temen-temen gue ke rumah, mumpung mama sama papa nggak ada.” Ujar Dicky mengusir Kartika yang menurutnya – mengganggu.
Kartika kembali terdiam mendengar penuturan kakaknya tersebut. Ren, maksudnya reno ? pikir Kartika dalam hati. Dengan tatapan mata penuh rasa penasaran, ia memandangi sosok laki-laki yang berdiri di sampingnya itu. Tapi, dengan cepat Dicky menarik lai-laki itu masuk ke kamarnya dan menutup pintu. Menghiraukan adik perempuannya yang masih berdiri kaku di depan kamarnya itu.
“awas lo Ky, gue aduin mama sama papa !” Teriak Kartika mengancam.
Tapi, usahanya sia-sia. Karna suara gaduh itu kembali terdengar dari kamar kakaknya hingga suaranya yang kecil tidak terdengar.
Dengan wajah kusut, Kartika berjalan menuju dapur dengan pikirannya yang mulai bercabang-cabang. Sesampainya di dapur ia menuangkan air ke gelas dan menenggukknya perlahan. Ia masih memikirkan tentang kata-kata kakaknya barusan. Apakah benar sosok laki-laki yang tadi berdiri di sampingnya itu Reno atau Re yang lain. Jika benar, perasaan Kartika yang sekarang campur aduk jadi satu itu tidak salah tentang kesimpulan paradox-nya. Ia sedang merasakan apa yang sering di katakan oleh Pratiwi teman di sekolahnya yang dulu. Bukan jatuh bangun, tapi jatuh cinta.
Kartika duduk di meja makan. Meletakkan dagunya di kedua tangannya. Seperti gaya 9 personel grilband yang sedang naik daun di tahun 2012 kemarin. Chibi chibi chibi, ha ha ha. Begitulah slogan yang sering mereka ucapkan saat di atas panggung. Tapi bukan itu yang hendak di lakukan Kartika sekarang. Ia mencoba melamun, berkhayal bebas tentang sosok Reno yang kelak akan menjadi boyfriend-nya, jika mungkin itu terjadi nanti. Hingga membuatnya terbang melayang k atas udara dan jatuh lagi karna tidak punya sayap.
Tanpa ia sadari, ternyata sosok laki-laki yang sedang berada di lamunanya itu sekarang duduk di hadapannya. Nyata. Memandangi wajah Kartika yang tersenyum-senyum sendiri dengan berbagai ekspresi lainnya sehingga tak dapat di ungkapkan dengan kata-kata. Mengutarakan sesuatu hal dengan menggelengkan kepalanya ke kiri ke kanan. Sehingga membuat sosok yang memandanginya itu, ikut mengikuti gerakan kepalanya tersebut.
Perlahan Kartika membuka matanya yang tadi tepejam berkhayal. Dengan ekspersi wajah terkejut yang senasional. Mata melotot seakan ingin lepas dari rongganya dengan mulut yang membuka lebar. Sontak Kartika berteriak histeris. Lalu, menutup mulutnya yang menganga lebar tak percaya dengan apa yang di lihatnya sekarang. untung Dicky nggak denger teriakan gue, kalo nggak bisa berabe nanti urusannya. Gumam Kartika masih menyumpal mututnya dengan kedua tangannya.
“hahahhah, lucu deh liat lo kayak gitu.” Seru cowok itu tertawa geli menatap Kartika.
“lo ? ngapain lo di situ ? nggak sopan banget !” Jawab Kartika ketus dengan rona wajahnya berubah merah menahan malu.
“hemm nggak ada. Gue haus tadi terus ke sini mau makan. Eh ada lo yang senyam-senyum sendiri. hahaha” Lanjtunya humor.
“yee.. kalo haus ya minum, kalo laper ya makan. Aneh deh lo ah.” Ketus Kartika masih menahan malunya.
“hemm.. lo tau tuh. Buatin mie dong. Kasian nih cacing gue udah pada nyanyi dari tadi.” Pintanya manja.
Karna tak sanggup menahan rasa malu. Dan ingin tetap menjaga ciri khas cewek yang sok jual mahal di hadapan cowok yang di sukainya. Kartika bernajak dari duduknya, hendak meninggalkan sosok laki-laki yang tadi sempat hinggap di khayalannya sendirian. Tapi, hal tersebut urung di lakukan Kartika. Karna laki-laki itu menghadangnya, tepat di hadapannya. Hingga membuat Kartika harus menghentikan langkahnya yang cepat agar tidak menabrak tubuh laki-laki itu.
“mau kema sih Tik ? disini aja temenin gue. Kita belum sempat kenalan tadi. Kenalin nama gue Reno dan nama panjang gue Reeeenooooo…” Ujarnya tetap melucu.
Kartika membuang tatapannya, tak ingin memperlihatkan senyumnya karna menahan untuk tidak tertawa. Dan sesekali mencuri pandang untuk melihat sosok yang sekarang berdiri tegap di hadapannya itu.
“nggak kok. Serius nih Tik. Kenalin nama gue Reno Praditya Dewangga. Tapi gue biasa di panggil Reno. Kalo lo ?” ucapnya serius mengulurkan tangannya.
Dengan berbagai perasaan yang masih campur aduk. Kartika berusaha untuk menjaga agar perasaannya itu tidak di ketahui oleh sosok laki-laki yang berdiri di hadapannya. Perlahan Kartika mengulurkan tangannya yang kecil. Membiarkannya di jabat oleh tangan yang berbanding terbalik dengan tangannya itu.
“hem, kenalin nama gue Kartika Putri. Gue biasa di panggil Tika. Tapi sebenarnya gue lebih suka kalo di panggil bee. Yang artinya lebah. Kan kesannya tuh kecil, imut, lucu, manis, dan bla bla bla lah. Ahh, nggak penting ngomongin itu sama lo. kita kan baru kenal. So, what ever lah. Terserah lo mau panggil gue apa.” Jawab Kartika dengan gayanya yang khas.
Reno menatapnya dalam. Seakan mencari sesuatu yang di sembunyikan Kartika darinya. Mencarinya lewat bola mata Kartika yang bening. Kartika yang heran dengan sikap Reno yang terus memandanginya. Balik memandanginya acuh.
“ngapain lo ngeliatain gue kayak gitu ? ada yang salah sama gue hah ?” Tanya Kartika heran.
“ohh nggak ada kok. Lo lucu, gue suka lo. eh tapi, entar dulu gue mau bilang sesuatu ke lo.” Katanya terhenti kembali menatap Kartika dalam.
“Tuh di mata kamu ada beleknya. Hahah..” Ujar Reno berbohong membuat Kartika ilfeel.
Mendengar ucapan tersebut, sontak wajah Kartika berubah kusut. Dengan langkah seribu ia menuju ke kamarnya, meninggalkan Reno sendirian yang masih tertawa ngakak tak jelas asalnya. Kartika membanting pintu kamarnya kesal. Langsung bercermin di depan kaca rias. Memastikan apa yang di katakan Reno tadi padanya. Bibirnya yang tipis kembali di manyunkannya ke depan. Melihat di pinggir kelopak matanya, terdapat sisa dari kotoran mata sehabis tidur. Yang lupa ia bersihkan tadi, ketika bangun dari tidur. Dengan perasaan kesal di sertai rasa malu, Kartika menuju kamar mandi yang berada di samping kamarnya. Melirik ke kiri dan ke kanan, memastikan tidak ada seseorang yang melihatnya. Terutama seseorang yang mengatakan hal tersebut padanya, Reno.
***
Jam dinding menunjukkan pukul 17.21 wib. Sinar matahari menjadi hangat menyengat kulit. Langit berubah warna kemerahan.
Kartika keluar dari kamarnya. Melangkah menuju kamar kakaknya. Memastikan tidak ada lagi suara gaduh dari dalam. Serta memastikan tidak ada lagi tamu-tamu kakaknya yang tak di undang ke rumah mereka. Salah, maksudnya tamu yang di undang oleh kakaknya bukan tamu yang di undang oleh Kartika. Perlahan Kartika membuka pintu kamar. Agar tidak terjadi accident seperti semula. Kartika memasukkan kepalanya ke dalam kamar dengan posisi pintu yang belum terbuka sempurna. Memastikan tidak ada sekumpulan cowok seperti yang di lihatnya beberapa jam yang lalu.
“dor. Ngapain lo ngintip-ngintip ? bintitan tuh mata lo nanti.” Kejut Dicky dari belakang Kartika.
“huuuaaa…” Ujarnya kaget hingga membuat badan pintu kamar menjepit kepalanya. “lo lagi lo lagi. Seneng banget sih ngagetin adeknya. Lama-lama bisa copot nih jantung gue.” Tambahnya melebih-lebihkan.
“yaelah. Cuma gitu aja copot jantung lo. gimana kalo yang laen ? lo belum jawab pertanyaan gue. Ngapain lo ngintipin kamar gue ?”
“ohh, gue Cuma mastiin aja. Udah balik belum semua tamu-tamu lo tuh ? eh ternyata udah, ya udah. Cuma gitu doang.” Jawab Kartika santai.
Meninggalkan kakaknya sendirian yang acuh tak merespon jawabannya. Dicky masuk ke kamarnya. Segera merapikan kamarnya yang berserakan dengan bungkus permen dan kulit kacang. Kartika menuju kamarnya. Tak mengiraukan panggilan kakaknya yang meminta bantuan. Rasain lo ! beresin aja sendiri kamar lo yang kayak sarang tikus tuh. Ngajak temen main ps di kamar. Hahaha, rasain. Hujat Kartika acuh.
Langit menjadi gelap tanpa sinar matahari yang telah bersembunyi di ufuk barat. Berganti dengan cahaya rembulan yang bernisar redup tanpa ada cahya kelap kelip bintang yang menemaninya.
Kartika duduk sofa ruang keluarga. Menikmati sajian berbagai acara dari dalam ataupun luar negeri di televisinya, dengan bantuan satelit pemancar 2013 yang canggih. Ia tertawa lepas saat menikmati sajian acara dari chanel program yang selalu menyajikan tontonan untuk anak-anak.
“yeee, nonton yang begituan lagi. Kartun.. aneh deh lo Tik. Katanya udah 17 tahun, tapi selera nontonnya kayak gitu. Hahahha..” Ledek Dicky duduk di sebelahnya.
“biarin, terserah gue dong. Gue yang ngidupin tv juga, mata-mata gue, yang nonton gue, yang ketawa juga gue bukan lo. Terus masalah buat lo ha ?! oh ya umur gue masih 16 tahun belum 17 tahun. Okay.” Jawabnya sengak melanjutkan tontonannya.
Dicky hanya mengangkat kedua bahunya acuh. Tak menghiraukan perkataan Kartika yang mulai pedas di telenginya. Kembali menikmati seduhan teh hangat yang di bawanya. Sesuai dengan iklan teh yang sering muncul di tv. Apapun situasinya, enaknya minum teh dulu. Sesuai dengan kondisi dan situasi sekarang. Cuaca di luar mulai mendung. Sinar bulan yang tadi bersinar redup, sekarang hilang tertutup awan hitam. Angin berhembus sepoi, tanda akan turun hujan. Dan sekarang, ditambah lagi dengan keberadaan Kartika yang tambah membuat keadaan manjadi horor bagi Dicky.
“ehh nagapain lo Ky ?” Tanyanya memandangi Dicky yang khusuk memimum teh.
“ngapain aja juga boleh. Bego lo ah. Jelas-jelas gue lagi minum teh, masih nanya juga gue lagi ngapain.” Balasnya ketus.
“yee, orang nanya baek-baek jawabnya ketus. Maksud gue, nggak ada ya tu teh buat gue minum gue. Ngences nih ngeliatin lo doang.”
“lo mau ? buat aja sendiri sana. Udah gede juga, masih minta di buatin teh. Lo kan cewek, harusnya gue yang minta dibuatin teh sama lo. Bukannya gue bikin sendiri gini.” Tutur Dicky benar.
“ya ya ya ya… terus aja ngomong kayak gitu. Gue mau ke kamar aja. Bye !” Ucapnya santai beranjak dari duduknya.
“ehh tadi, Reno nanyain lo Tik waktu mau pulang.” Ujar Dicky memberitahu.
Baru berjalan 3 langkah meninggalakan tempat duduknya. Kartika berhenti dan kembali memutar arah untuk kembali ke possisinya semula. Duduk di sebelah kakaknya. Ingin mendengar cerita lengkap tentang Reno yang menanyakannya tadi.
“dia nanyain gue Ky ? dia ngomong apa aja ke lo ? terus terus gimana ?” Tanya Kartika beruntun.
Dicky memandangi wajah adiknya yang berubah 180 derajat setelah mendengar nama Reno. Matanya di sipitkan, mencari sesuatu yang mengganjal di wajah adikknya tersebut.
“ehh.. ngapain lo ngeliat gue kayak gitu ? mata lo udah sipit jangan di sipit-sipitin lagi. Ilang tuh nanti mata lo. Jawab pertanyaan gue dong !” Pintanya manja.
“hemmm.. dia ngomong apa aja ya tadi. Nggak ada tuh, Cuma nanya aja lo kemana. Dan gue bilang aja kalo lo lagi tidur. Terus dia pulang deh.” Jawabnya singkat.
“ihhh lo gitu deh. Gue tadi kan nggak lagi tidur. Cuma mejemin mata bentar doang. Cuma gitu doang Ky ? cerita dong Ky !” Bujuknya halus.
Dicky menghiraukan Kartik, menikmati kembali seduhan tehnya. Kartika menyipitkan matanya. Memandangi wajah kakaknya dalam, mencari sesuatu yang di sembunyikan darinya. Dengan memasang wajah cemberutnya Kartika membuang nafas pendek. Kemudian berusaha merayu kakaknya dengan seribu satu cara terampuh yang di lakukan kaum hawa untuk meluluhkan hati sang adam. Tapi dengan memasang wajah bangganya, dalam hati Dicky bertepuk sorai. Karna usaha Kartika itu tidak mempan kepadanya dan sia-sia belaka. Kembali Kartika memasang wajah sedihnya. Menelan ludah karna usahanya sia-sia saja. Karna dengan berbagai cara yang ia lakukan, tetap saja Dicky menolak permintaannya. Jadi ia mengambil kesimpulan bahwa kakaknya tersebut mempunyai kelainan alias ‘jeruk makan jeruk’.
Dengan berat hati Kartika bangkit dari duduknya, berjalan pelan menjauh dari posisinya. Menerka-nerka akan ada suara yang memanggilnya dan menuruti keinginannya itu. Hingga sampai di depan pintu kamarnya, suara itu tak juga terdengar. Perlahan Kartika membuka pintu kamarnya, masuk ke dalannya dan membantingnya keras mencoba menarik perhatian kakaknya itu. Akan tetapi usaha tersebut juga sia-sia. Dicky masih khusuk menikmati seduhan tehnya tersebut.
Angin yang tadi bertiup sepoi sekarang berganti bertiup kencang. Tetes air hujan mulai jatuh satu per satu menjadi rintik hujan. Yang semakin lama semakin banyak. Mengguyur basah seisi bumi yang di jamahnya malam itu.
Sambil berbaring di tempat tidurnya yang empuk. Kartika berpikir sejenak tentang apa yang di tanyakan Reno pada kakaknya sore tadi. Belum berapa lama ia berpikir, rasa kantuk mulai menerpanya. Matanya yang kecil menutup dan membuka, menahan keinginannya untuk tidur. Tapi, seberapa besar usahanya untuk menahan kantuk tetap saja rasa itu semakin besar. Hingga membuatnya tertidur pulas dengan di temani irama air hujan yang jatuh berderai tak tahu kapan ia akan berhenti jatuh.
***
Senin pagi menyambut hangat. Matahari bersinar cerah. Burung kutilang bersiul di balik pohon cemara. Tapi. Di rumah Kartika tidak ada pohon cemara. Yang ada hanyalah pohon mangga. Itu hanya senandung lagu yang sering di nyanyikan Kartika saat masih TK.
Kartika sudah tampil rapi dengan kostum pakaian putih abu-abu. Siap berangkat ke sekolah. Tapi, sejak tadi ia tidak mendengar suara Dicky yang setiap paginya berteriak memanggilnya karna ke siangan. Karna merasa khawatir dengan kakaknya. Kartika memutuskan untuk mengecek keadaan kakaknya di kamar. Terdengar pintu di ketuk. Tapi Kartika belum sampai di depan pintu kamar kakaknya.
Kartika berjalan menuju pintu depan rumahnya yang tadi di ketuk seseorang dari luar. Dalam pikirannya mungkin yang mengetuk pintu itu adalah kedua orangtuanya. Yang memutuskan untuk pulang lebih awal dari yang di katakan mereka lewat memo kemarin. Kartika membuka pintu. Menyambut sosok yang berada di luar tersebut dengan senyuman hangat.
Seketika senyuman hangat yang di pancarkan Kartika hilang. Berubah ekspresi menjadi terkejut. Menatap dengan penuh ketidak percayaan akan sosok yang ia lihat sekarang di hadapannya itu.
Monday full surpise.
“selamat pagi Tika. Yuk berangkat sekolah bareng.” Sapanya ramah.
“lo ngapain pagi-pagi ke rumah gue ? bukannya pergi ke sekolah malah pergi ke rumah gue.” Ucap Kartika terkejut.
“gue ke sini atas perintah dari kakak lo. coba aja lo tanya ke dia.” Jawabnya ringan lalu duduk di kursi teras depan rumah Kartika.
“awas lo ya. Tunggu sini lo, gue tanya Dicky dulu.” Ujarnya mengawasi.
Reno hanya acuh mengiyakan perintah Kartika. Mengambil handphone yang tercanggih di tahun 2013 dari dalam kantong celananya.
Tanpa mengetuk pintu kamar, Kartika langsung masuk ke kamar Dicky. Ingin menanyakan tentang pernyataan Reno tadi terhadapnya. Walaupun sebenarnya Kartika merasa senang karna bisa pergi sekolah berasa Reno. Laki-laki yang sekarang telah mengisi hatinya. Memebuat perasaannya menjadi tak karuan saat berada di dekatnya.
“Dicky. ngapain lo suruh Reno ke sini ? dia bilang di suruh lo. Beneran ?” tanyanya cepat.
“iya Tika. Gue lagi nggak enak badan. Makanya gue suruh dia ke sini buat pergi sekolah bareng sama lo. Kan lo nggak bisa bawa motor dan juga nggak tau jalan. Daripada lo salah naek angkot dan ujung-ujungnya kesasar di jalan. gue suruh aja dia ke sini buat jemput lo.” Jawabnya lirih dengan suara yang agak serak.
“lo beneran sakit ya Ky. Gue telpone mama sama papa ya ? kasian banget lo.” Serbu Kartika panik.
“nggak usah Tik. Ngehawatirin mereka aja nantinya. Gue cumu butuh istirahat bentar dan minum obat. Udah sana pergi, kesiangan nanti lo. Kasian Reno nunggu lo lama di luar. Eh nih kasih Reno, titip surat izin gue.” Tutur Dicky pelan.
Kartika menuruti perintah kakaknya tanpa membantah lagi perkataannya. Dengan perasaan yang sejak tadi campur aduk, Kartika berjalan menuju pintu depan rumahnya. Menemuui Reno yang sudah menunggunya dari tadi. Ia menarik kata-katanya yang selalu menghujat hari senin dan selalu menjadikan hari senin adalah hari ke sialannya. Karna untuk hari senin yang ini ia mendapat kejutan dari kakaknya, mendapatkan kesempatan pergi sekolah bersama orang yang ia sukai. Makasih banget Ky. Lo tau banget apa yang gue mimpiin semalem. Bisa pergi sekolah bareng Reno. Cowok yang gue suka. Hahah, kalo bisa kayak gini terus. Gue harep lo sakit aja terus Ky. Jadi setiap hari gue bisa pergi sekolah berdua tterus sama dia. Ahaha… ehh jangan deh, kasian lo-nya. Nanti nggak ada lagi yang handle rumah kalo mama sama papa pergi. Terus nanti gua yang gantiin posisi lo. aahh ogahhh..
Dengan memasang wajah datar Kartika menemui Reno. Menyembunyikan ekspresi wajah yang sebenarnya yang berbunga-bunga. Reno hanya menatapnya kosong dari atas motornya. Bersiap untuk pergi.
“Reno. Gue udah tanya Dicky, ya bener dia yang nyuruh lo. Maaf gue udah salah paham sama lo.” Ujar Kartika basa-basi.
“hemm ya udah kalo gitu, yuk kita berngkat. Kesiangan nanti lagi ngikutin upacara bendera.” Balasnya tanpa ekspresi.
“ohh iya nih ada titipan dari Dicky. Surat izin dia.” Tambah Kartika menyodorkan amplop putih.
Reno tidak membalas kata-kata Kartika. Ia menerima amplop itu dan langsung menghidupakan mesin motonya. Bergegas untuk tidak terlamabat mengikuti upacara bendera. Hal yang Kartika benci saat hari senin, mengikuti upacara bendera.
***
Sesampainya di sekolah. Lapangan upacara yang terletak di depan sekolah sudah di penuhi merid-murid yang akan mengikuti upacara bendera. Dari kepala sekolah, mejelis guru dan staf lainnya sudah berbaris rapi siap mengikuti kegiatan. Berbeda dengan keadaan muridnya yang belum berbaris sempurna. Sehingga mengharuskan salah satu guru untuk mengambil tugas menenrtibkan barisan upacara murid-muridnya. Mengajrkan kembali latihan baris berbaris yang benar dan rapi saat akan mengikuti upacara bendera. Setelah beberapa menit kemudian, barisan sudah tersusun rapi sesuai kelasnya masing-masing. Upacara bendera siap di mulai dan di ikuti oleh seluruh peserta dengan khidmat.
Di dalam kelas Kartika, teman-temannya termasuk dia berbuat ke gaduhan selesai mengikuti kegiatan upacara bendera. Karna pembina upacara tadi, merupakan salah satu guru mata pelajaran sejarah yang gaya bicaraya masih khas dengan daerah asalanya, Medan. Banyak di antara mereka membicarakan tentang amanat yang di sampaikanya tadi. Tak jarang juga di antara mereka yang mengikuti logat berbicaranya. Akan tetapi, berbeda dengan keruman yang terjadi di meja Kartika. Rere teman sebangku Kartika, Nevy, Yogi dan 3 komedian yang gagal sedang membicarakan hal lain. Mereka sedang melakukan hal yang sering di lakukan pak polisi di kantornya. Mengintrogasi dan mengejukan berbagai pertanyaan kepadanya. Tak lain dan tak bukan. Mereka menanyakan seputar pertanyaan tentang kedekatan dan hubungan apa yang terjadi antara Kartika dengan kakak kelas idola mereka.
“Tika. Lo ada hubungan apa sih sama kak Dicky ? kan tempo hari lo di anterin sama kak Dicky ke Dermaga. Dan lo belum jawab pertanyaan itu !” Tanya Nevy memaksa.
“Bener tuh Tik. Dan pagi ini, lo pergi sekolah bareng sama kak Reno ? ada hubungan apa sih lo sama mereka berdua, sampe-sampe lo bisa di anterin mereka burdua kemana-kemana.” Tambah Rere beruntun.
“iya Tik. Atau jangan-jangan lo pacaran sama kak Dicky dan lo selingkuhin dia sama kak Reno ? parah lo Tik.” Sambung Yogi menebak.
Kartika hanya duduk diam tak menjawab. Posisinya sekarang seperti terdakwa yang duduk di hadapan hakim dan di ajukan berbagai pertanyaannya. Dengan berbagai praduga bersalah yang di cap di keningnya.
Kartika masih diam tak menjawab berbagai pertanyaan yang di ajukan oleh teman-temannya. Karna ia tak tahu harus menjawab apa. Ia tak ingin teman-temannya tahu kalau Dicky adalah kakaknya dan mengetahui kalau Reno adalah cowok yang ia suka.
“Tika jawab dong !” Paksa 3 komedian menunggu jawaban darinya.
“haaaa… iya iya. Gue lagi mikir nih. Jawab apa ya ? maunya kalian gue jawab apa ?” Balik Kartika bertanya pada teman-temannya.
“ehh lo kok balik tanya sih. Jawab dulu dong pertanyaan kita. Nggak mungkin dong lo pacaran sama mereka. Dan nggak mungkin lo adeknya kak Dicky ataupun Reno. Nggak mirip lo sama mereka berdua. Beda banget.” Jawab Nevy ketus.
“nah lo tau tuh. Gue tetanggaan sama kak Dicky, dan tadi kebetulan aja di jalan gue ketemu sama Reno. Terus dia numpangin gue deh.” Jawab Kartika santai.
“enak banget sih jadi lo. Tetanggaan sama kak Dicky. Lo tau nggak Tik, gue tuh suka benget sama kak Dicky. Pokoknya suka deh.” Ujar Rere lebay.
“ihhh… apaan sih lo ah. Lebay banget sih. Kak Dicky tuh nggak suka sama cewek kayak lo. udah pake giginya di pagarin, rambut di kepang dua, eh di tambahan lagi pake kacamata yang segede muka lo tuh. Dia tuh sukanya sama cewek feminim, baek, pinter dan pastinya selevel lah sama dia.” Celetuk Nevy berkomentar pedas hingga membuat Rere bungakam seribu bahasa.
“ehhh udah deh. Dari pada kalian ngerebutin kak Dicky, mending kalian negerebutin gue aja. Gue kan beti sama dia. Beda-beda tipis gitu.” Ujar Yogi melerai.
“kita bertiga juga. Boleh boleh boleh..” tambah Tono, Yono dan Bono.
“ahhh udah deh kalian semua. Berhenti ngerebutin kak Dicky dan Reno. Daripada bahas tentang mereka yang nggak penting, mending dengerin cerita gue tentang kakak kelas cowok gue dulu di sekolah yang lama. Mereka semua jauh lebih perfect di banding Dicky, Reno dan semua cowok yang kalian sebutin kemaren.” Lerai Kartika kembali menyombongkan diri.
Teman-temannya yang mendengar perkataan Kartika tersebut, langsung pergi membubarkan diri dari kerumunan yang mereka buat di meja Kartika dan Rere barusan. Kembali ke tempat duduk mereka masing-masing. Meninggalkan Rere bersama Kartika. Dan harus mendengarkan sendirian cerita Kartika yang selalu menyombongkan sekolah lamanya itu.
Dengan menghembuskan nafas lega sembari mengelus dada, Rere mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada guru yang telah masuk ke kelas. Sehingga membuat Kartika menghentikan keinginanya untuk bercerita tentang sekolah lamanya. Seluruh murid tenang, karna pelajaran akan segera di mulai. Mendengarkan setiap materi yang di jelaskan oleh guru tersebut. Walaupun tidak banyak dari mereka yang asyik memainkan jarinya di keyboard hp, mengetik sesuatu. Dan ajaibnya guru tersebut tidak mengetaui hal yang di lakukan muridnya saat itu. Hingga membuat Kartika kembali menggelengkan kepalanya heran dengan sikap murid dan guru tersebut.
“ehh Re, itu Sonia kan ? ngapain dia di situ dan kenapa cewek itu nagis ?” Tanya Kartika heran dari balik lemari buku perpustakaan.
Karna guru yang mengajar tidak masuk ke kelas. Jadi seluruh murid XI IPA 2 di perintahkan guru piket untuk belajar di perpustakaan.
“yaaa apa lagi kalo bukan masalah cowok. Kak Sonia emang kayak gitu orangnya. Kalo ada cewek lain yang deketin mantan-mantannya dia di sekolah ini, pasti bakal di buat nangis kayak gitu. Salah satunya nanti pasti lo Tik.” Jawab Rere santai.
Kartika mengerutkan dahinya. Heran dengan jawabannya yang di berikan Rere padanya.
“kok gitu Re ? kalo masalah yang di kantin kemaren tuh kan udah seminggu yang lalu. Terus apa ? dan rasa gue, gue nggak ada tuh berurusan sama mantannya dia.”
“loh emangnya lo nggak tau apa Tik. Lo nggak di kasih tau sama kak Reno kalo dia tuh mantannya kak Sonia ?” Tanya Rere kepo.
“ahhh serius lo. masa sih ???” Heran Kartika tak kalah kepo-nya.
“ahh lo nggak uptudate banget sih. Nih ya dengerin cerita gue.” Perintah Rere mulai bercerita.
Kartika mengacuhkannya, hanya memberi respon ‘ya’ setiap kali Rere berhenti bercerita untuk mengambil napas. Ia mulai berpikir lagi. Kali ini pikirannya mulai bercabang-cabang seperti akar. Mengingat kembali semua hal yang di ceritakan Dicky tempo hari tentang salah seorang teman laki-lakinya yang di selingkuhin sama pacarnya. Ia mulai menarik kesimpulan yang memang benar kenyataannya. Bahwa teman laki-laki kakaknya yang di sleingkuhin sama pacarnya adalah Reno. Laki-laki yang sekarang hinggap untuk mengisi hati Kartika yang masih kosong.
Setelah mendapatkan kesimpulannya itu, Kartika hanya diam masih merenung. Tak memberikan respon apapun lagi pada Rere yang semenjak tadi masih bercerita panjang lebar. Dan berhenti saat mendapati Kartika tidak lagi mendengarkan ceritanya itu.
“Kartika lo dengerin gue ngomong nggak sih dari tadi ?” Ujar Rere kesal mengoyangkan tubuh Kartika yang bersender di lemari buku.
“hahhhh iya, gue denger kok. Lo laper kan, yuk ke kantin. Udah bel kan ?” Balas Kartika terkejut.
“ihh apaan sih lo Tik. Gue nggak laper, gue bilang gue mau ke toilet. Temenin gue. Ihh lo, nggak dengerin gue ngomong dong dari tadi.”
“ohhh gitu ya Re. Gue dengerin kok. Gue yang laper bukan lo. hehe.” Jawab Kartika bohong.
Rere berjalan di depan, ia masih kesal dengan sikap Kartika yang tidak mendengarkan ceritanya. Berbeda dengan sikap yang di tunjukkan Kartika. Ia tidak merasa bersalah terhadap Rere, ia acuh dan berjalan di belakang bersama Nevy kembali membuat percakapan baru dengannya.
***
Bel panjang berbunyi. Tanda jam pelajaran telah selesai dan tanda waktu untuk pulang. Seluruh murid berhamburan ke luar kelas. Ada yang munuju ke parkiran dan ada juga yang langsung menuju ke depan pintu gerbang untuk menunggu jemputan menunggu angkutan umum. Sama seperti yang di lakukan Kartika sekarang. Karna Dicky sakit dan tidak masuk sekolah, jadi ia harus pulang dengan menggunakan angkutan umum. Pergi sekolah bersama Reno, tapi ia tak tahu apakah pulang seolah juga akan bersama dia.
Kartika berdiri di samping pintu gerbang sekolah, menunggu angkutan umum. Sama dengan yang di lakukan siswa lainnya.
“Tika, ngapain kamu di situ ? nunggu angkot. Udah sini buruan, pulang sama gue aja.” Teriak Reno dari motornya.
Kartika masih celingukan. Melihat sekitarnya, mengawasi tidak ada teman-temannya yang melihat terutama Sonia jika ia pulang bersama Reno.
“haaa, iya deh.” Jawabnya mengiyakan ajakan Reno.
Dengan perasaan yang kembali campur aduk, Kartika duduk di boncengan motor besar Reno. Memegang erat pinggangnya takut jatuh. Sepanjang perjalanan, Kartika terus memandangi Reno. Memberi berbagai tanggapan akan sosok laki-laki yang ia sukai itu.
Dengan perasaan takjub dan bangga. Kartika member pujian terhadap Reno. Karna sejak pergi ke sekolah hingga pulang sekolah, pakaiannya masih bersih, penampilannya rapi dan wangi. Sama halnya dengan kakaknya. Oelh sebab itu mereka berteman akrab. Karna menyukai kerapian dan keindahan. Tidak seperti kebanyak anak laki-laki yang penampilannya rapi saat pergi sekolah dan berantakaan saat pulang sekolah. Ternyata benar dengan yang katakana teman-temannya itu. Tidak jarang kalau banyak orang yang menyukai dan mengaguminya. Dari cewek sampai cowok.
“ehh udah pulang adek kakak. Di anter sama siapa tuh ? cowok barunya ya ?” Ledek Dicky yang duduk di teras rumah, menunggu kedatangan Kartika dan Reno.
“hahah, biasa aja bro. Tapi, boleh juga lah. Kalo adek lo mau jadi cewek gue.” Balas Reno meladeni.
“ahh, terserah lo Ky. Gue capek, laperrrr..” Ujar Kartika malu, buru-buru masuk ke rumah tak ingin memperlihatkan wajahnya yang memerah di hadapan kakaknya dan cowok yang ia suka itu.
Dicky hanya memandang Kartika acuh, membiarkannya masuk ke rumah. Dan menyambut Reno, sahabat karibnya untuk duduk di sampingnya. Beristirahat sejenak. Karna terik matahari yang panas dan udara yang juga ikut terkontaminasi olehnya.
Menurut pelajaran di sekolah. Hal tersebut terjadi karena menipisnya lapisan ozon, serta efek dari rumah kaca. Di perparah lagi dengan pemakaian pengharum ruangan yang berlebihan dan penebangan hutan tanpa melakukan peremajaan lagi. Hingga mengakibatkan terjadinya Global Warming.
“lo udah sembuh Ky ?” Tanya Reno menkhawatirkan.
“udah agak mendingan kok. Bosan gue di kamar mulu.”
“ehh Ky, btw di rumah lo sumurnya kering ya ? kok dari tadi nggak ada air yang keluar dari dalam. Bisa dehidrasi nih gue.” Sindir Reno halus.
“ohhh lo bisa aja Ren. Udah ambil aja sendiri di dalam. Anggap rumah sendiri.” Balas Dicky ramah.
Reno beranjak dari duduknya, menuruti perintah Dicky. Ia masuk ke dalam rumah dan langsung menuju dapur untuk mengambil minum. Tapi, sesampainya di dapur. Ia tidak menemukan sosok Kartika di sana. Hingga ia kembali lagi ke luar menemui Dicky, menanyakan keberadaan Kartika. Lalu pamit pulang setelah menanyakan hal itu kepada Dicky.
My First Love.
Sampai malam Kartika menunggu kepulangan kedua orangtuanya. Hingga pukul 20.43 tak terdengar suara pintu di ketuk dari luar. Kartika memutuskan untuk ke kamar kakaknya, menanyakan hal tersebut.
Pintu kamar kakaknya terbuka, hingga membuat Kartika langsung saja menginjakkan kakinya di dalam kamar. Tanpa harus mengetuk pintu kamar lagi, seperti yang harus ia lakukan setiap kali ingin masuk ke kamar kakaknya.
“ehh Ky. Lo bilang papa sama mama mala mini pulang. Tapi kok samape jam segini belum nyampe juga ? udah ngantuk nih gue.” Tanya Kartika mengeluh.
“gue nggak tau juga Tik. Tadi di telpon mama bilang nya gitu. Mungkin nambah lagi satu hari nginep di rumah nenek. Kalo lo udah ngantuk tidur sana. Jangan tidur di kamar gue.” Jawab Dicky ketus asyik memainkan jarinya memetik senar gitar.
“yahh lo gitu deh. Ehh tadi Reno nanyain gue nggak ?”
“ya, dia nanya lo kemana. Udah di anterin pulang nggak bilang makasih lagi, nggak sopan.”
“hehehe gitu ya. Eh Ky, kenapa sih lo nggak bilang kalo temen cowok lo yang di selingkuhin sama Sonia itu Reno ?”
“nah tu lo udah tau. Terus kenapa gue harus bilang ke lo. emang penting gitu ?”
“yaelah lo nih nggak kasian apa sama gue. Gue nih adek lo Ky. Nah terus kalo nanti gue di datengin sama dia terus di buli sama dia gimana ? tega lo ya.”
“nah tu lo tau. Karna lo nyebelin makanya gue tega sama lo. Sonia pasti kalah deh berhadapan sama lo. kan lo jagonya beradu argument plus lo sama kayak dia. Sama-sama angkuh dan sombong. Udah pergi sana, gangguin aja lo.” Jawab Dicky jujur hingga membuat Kartika kesal.
Kartika masih di posisinya, duduk di sebelah Dicky yang asyik memetik senar gitar. Tak menghiraukan perkataannya yang sudah jelas mengusir dirinya untuk pergi dari kamar itu. Pandangan Kartika tertuju pada gitar yang mainkan Dicky.
“eh Ky, itu gitar lo ya ? ajarin gue dong.” Pinta Kartika manja.
“bukan, ini gitar Reno. Kalo mau minta ajarin sama dia aja. Gue males ngajarin orang songong kayak lo. Yang ada, malah gue nanti yang lo ajarin. Kan Reno sabar tuh ngadepin lo. nggak kayak gue yang nggak sabaran dan bawaannya mau nerkam lo aja.”
Kartika tetap dengan pandangannya. Melihat jari-jari Dicky yang memetik senar dengan gampangnya dan terdengar alunan nada yang merdu.
“udah pergi sana. Gangguin aja lo ah. Besok gue bilangin sama Reno. Hus hus hus” Usir Dicky berhenti memetik senarnya.
Dengan berat hati Kartika melangkahkan kakinya keluar kamar Dicky. Wajahnya di tekuk sehingga terlihat cemberut. Seraya melangkahkan kaki menuju kamarnya, Kartika terus mendumel sendiri.
Ssesampainya di kamar, dengan cepat Kartika membuka laptopnya dan menyalakannya. Membuka line obrolan bersama teman-temannya di dunia maya. Memceritakan tentang semua keluh kesahnya. Setalah mencari teman di line obrolannya, ternyata tidak ada satupun temannya yang online malam itu. Hanya tertera nama ‘ciiebolobolosyabalalapratwitwit’, tidak ada yang lain lagi. Dengan terpaksa Kartika membuka line obrolannya.
Belum sempat Kartika mengetikkan sesuatu di kotak dialognya, ternayata ada satu pesan yang di terimanya dari teman obrolannya itu.
P : uh si bee, cemberut aja tiap hari. keep your smile dong.
K : ah lo Wi, bisa aja. Gue lagi bête nih, tapi gue lagi seneng banget juga. Sumpah gila, nggak nyangka gue Wi. Akhirnya gue tahu yang lo maksud dengan JA-TUH-CIN-TA itu. Hebat kan..
P : uuuhhh yang lagi jatuh cinta. First love nih ye ceritanya. Share dong ke gue Tik.
K : tentunya dong. lo tau nggak tadi gue pergi sekolah bareng sama dia. Dia jemput gue. Ahahhhh, gue kira mimpi eh ternyata beneran. Sebernya kebetulan juga sih, Dicky sakit. Jadi dia yang jeput gue, itupun atas permintaan Dicky ke dia.
P : wauw. Asik tuh, udah dapet lampu ijo. Siapa sih namanya Tik ? cowok yang bisa buat lo sampe girang banget kayak gini.
K : namanya Reno Praditya Dewangga. Dari namanya aja keren apa lagi orangnya Wi. Uhhh tipe gue banget deh. Tapi, gue takut Wi.
P : takut kenapa Tik ? emangnya dia udah punya pacar ?
K : nggak Wi, dia nggak punya pacar. Tapi mantannya dia. Kata anak-anak di sini, kalo ada cewek yang berhubungan sama mantannya dia (Reno) pasti bakalan di buli dan di buat mewek sama dia.
P : ihh aneh tuh cewek. Nggak mau terima kenyataan kalo udah di putusin. But, it’s ok lah. Lo harus perjuangin first love lo Tik, sampe hari ultah lo yang ke-17. Usia lo entar lagi 17 tahun bee, tapi gue duluan. hahaha
Kartika berhenti mengetik. Kembali berpikir akan kata-kata temannya itu. Bahwa ia harus memperjuangakan cinta pertamanya pada Reno. Sebentar lagi usianya 17 tahun dan ia bisa merasakan semua hal yang di alami remaja lainnya yang saat berusia 17 tahun.
Usia 17 ? apa sih arti 17 itu ? sebentar lagi, nggak lama lagi. Usia gue jadi 17 tahun. Yah, yang 17tahun kan duluan Tiwi terus gue nyusul. Dan dia udah tau apa itu arti usia 17. Nah gue ? gue nggak tau arti 17. Tinggal beberapa hari lagi setelah hari ini. Terus 2 minggu kemudian gue lagi. Ahhh, please kenapa harus ada usia 17. Kenapa dan apa di balik usia 17 ? pikir Kartika mengeluh dengan adanya angka 17.
***
Di ruang kelas. Seperti biasanya, murid-murid membuat kegaduhan dengan berbagai aktivitasnya di dalam kelas. Kartika duduk di tempatnya. Tak menghiraukan kegaduhan yang di buat teman-temannya. Rere, Nevi dan Yogi yang biasanya menemani Kartika, sekarang lebih memilih untuk menonoton pertunjukan komedi Tono, Yono dan Bono di depan kelas. Pertunjukan yang bagi Kartika adalah hal bodoh saja untuk di lihat.
Tono, Yono dan Bono sudah siap dengan aksinya. Seluruh murid di dalam kelas duduk rapi siap menyaksikannya. Berbeda dengan Kartika yang lebih memilih mencoret-coret bukunya di halaman belakangnya.
“siapa yang pernah nonton stand up comedi ? kalo udah pernah nonton, pasti tau dengan salah satu cerita yang di bawakan oleh Raditya Dika.” Ujar Tono memulai aksinya.
“kalian tau Raditya Dika. Itu loh yang punya kepala, kaki sama tangan.” Tambah Yono melucon.
“nggak nggak. Raditya Dika itu, seorang penulis buku yang cukup terkenal dan bintang iklan. Begini ceritanya. Suatu hari, Raditya pulang dari kantornya. Sesampainya di rumah ia di sambut dengan 2 orang adiknya yang bernama Anggi dan Edgar.” Terang Bono memberitahu alur ceritanya.
Seluruh murid di dalam kelas masih di posisinya masing-masing. Duduk diam. Tak jarang dari mereka ada juga yang membuat ke sibukan lainnya daripada menyaksikan lelucon dari comedian gagal di kelas mereka itu.
“abang abang, anggi abang anggi…” Ucap Tono dengan nada membaca puisi memeranakan sosok Edgar.
“apa ? kenapa anggi kenapa ?” Balas Yono dengan nada yang sama memerankan sosok Raditya Dika.
“abang anggi abang. Dia buat cerita serem abang.”
“cerita serem apa ?”
Salah satu dari 3 komedian gagal itu, Bono. Lebih memilih duduk di meje guru karna tidak mendapatkan peran. Seluruh murid yang melihat bosan aksi 2 komedian gagal itu dan membuang pandangannya dari mereka. Kembali dengan aktivitas mereka sebelumnya yang membuat kegaduhan. Membuat kerumunan, membicarakan tentang hal lain yang lebih menarik daripada menyaksikan aksi dari 3 komedian gagal itu. Bebeda dengan Rere, Nevy dan Yogi yang masih menyaksikan aksi mereka.
“anggi abang, dia buat serpen..” lanjut Tono masih dengan nada membaca puisi.
“cerpen.” Balas Yono membenarkan.
“cepennn….” Ucap Tono dengan nada membaca puisi yang di buat-buat humor.
2 komedian gagal itu tertawa geli. Akan tetapi audiens tidak ada yang tertawa geli seperti mereka. Rere, Nevy dan Yogi yang menyaksikan sejak tadi pun akhirnya memilih untuk duduk di dekat Kartika. Memilih untuk mendengarkan cerita Kartika yang selalu menyombongkan sekolah lamanya daripada menyaksikan aksi 3 komedian gagal yang membosan itu. Dengan wajah sedih karna tidak ada yang menyaksikan aksi mereka, Tono Yono dan Bono berpelukan. Saling berbagi rasa sedih dan kecewanya. Dan dengan senang hati, Kartika menceritakan sekolah lamanya pada 3 temannya itu. Bercerita kalau di sekolah lamanya itu, terdapat fasilitas yang lengkap daripada di sekolahnya sekarang. Dan setiap akhir semester, di sekolah lamanya ada kegiatan tour wisata ke luar kota bahkan keluar negeri yang selalu di ikuti seluruh siswa di sekolah lamanya itu.
Mendengar kata-kata tour wisata keluar kota dan keluar negeri, 3 temannya itu merasa iri dengan Kartika yang pernah ikut kegiatan tersebut. Karna tidak ingin terus menerus di buat iri dengan cerita Kartika, 3 temannya itu mengajak Kartika untuk ke kantin. Mengisi perut mereka yang kosong dan bel istirahat juga sudah berbunyi.
***
Di rumah. Kartika langsung membanting tubuhnya ke kasur karna lelah. Masih dengan pakaian sekolahnya, Kartika mengistirahatkan tubuh dan otaknya dengan tidur siang.
Belum lama Kartika terpejam, ia mendengar suara gitar yang di petik dengan merdu. Kartika bangun dari tidurnya. Membuka pintu kamarnya, berjalan menuju arah suara gitar yang di petik itu. Entah apa yang menutun langkahnya berjalan menuju taman yang berada di belakang rumah.
Di bawah pohon mangga yang rindang. Ia menemukan sosok laki-laki sedang memainkan gitar dengan alunan nada yang merdu. Kartika berjalan perlahan mendekati sosok itu. Ingin mengetahui siapa yang memainkan gitar itu dengan alunan nada yang merdu. Saat Kartika berada di belakang sosok itu. Suara merdu dari senar gitar yang di petik itu berhenti. Seakan-akan mengetahui ada seseorang yang berada di dekatnya. Sosok itu menatap kea rah Kartika yang masih berdiri kaku di belakangnya. Kartika hanya diam terpaku saat sosok itu menatapnya dengan sorot mata yang tajam. Perasaannya kembali campur aduk. Sama seperti saat pertama kali sosok itu menatapnya.
“eeee hay. Gue ganggu ya ? ya udah deh gue pergi.” Celetuk Kartika hendak pergi dari tempat itu.
“ohh nggak Tika. Gu ke sini di suruh sama Dicky. Katanya adek cewek dia mau minta di ajarin main gitar.” Jawabnya mengehentikan niat Kartika yang hendak pergi dari tempat itu.
“haaaa ? terus Dicky nya mana sekarang ?” Ujar Kartika kaget.
“kakak lo pergi ke luar tadi. Katanya mau beli senar gitar terus beli makanan. Gitu.”
Kartika hanya diam tak merespon perkataan Reno. Ia kesal dengan kakaknya karna ulahnya yang selalu mengagetkan dirinya. Tapi disisi lain ia juga senang. Perasaannya berbunga-bunga karna laki-laki yang ia sukai itu sekarang ada di hadapannya. Ingin berbagi ilmu memainkan gitar kepadanya. Kartika berjalan mendekati Reno dan duduk disampingnya di bawah pohon mangga. Pohon yang akan menjadi saksi bisu perjuangan Kartika dalam memperjuangakan cinta pertamanya.
Reno merubah posisi duduknya di belakang Kartika. Tangannya seperti ingin memeluk Kartika, tapi bukan itu yang di lakukannya. Ia membantu Kartika memegang gitar yang lebih besar daripada tangannya. Dengan berusaha keras, Kartika menyembunyikan perasaanya rapat-rapat dari Reno. Karna ia tak ingin Reno tahu kalau Kartika menyukainya. Tak jarang Kartika harus membuang napas pendek menahan diri agar tidak pingsang saat Reno memegang tangannya, untuk mengajarinya memetik senar.
Ohh, Kartika lo harus kuat, kuat kuat. Jangan pingsan okay. Masa Cuma gara-gara di pegang tangannya sama Reno, terus lo nggak sadarkan diri gitu. Pingsan dong ceritanya. Ohh jangan Kartika, jangan. Tapi, gue suka banget sama moment ini. Please di lama-lamain aja. Ohh tuhan, semoga dalam perjalan pulang ban motor Dicky ke tusuk paku gitu, terus harus kebengkel dulu. Jadi telat deh pulangnya. Amin amin… gue egois banget sih, tapi nggak apa lah.. ohhh Reno.. you’re my first love. I like you. I miss you. And love you so much. Huahaha… A B C D E F G… aduh bok cape deh eke fuih, gubrakkk… serius nih, nggak bohong. Gue suka banget sama nih cowok… Ucapnya dalam hati.
Dengan sabarnya Reno memberi tahu Kartika tentang kunci-kunci nada pada gitar serta memberi tahu bagaimana posisi jari saat memegang senarnya. Kartika kaku, mulutnya seperti di lem sehingga tak dapat mengeluarkan suaranya. Tangannya berubah dingin saat Reno menyentuhnya. Kartika hanya menganggukkan kepalanya setiap kali Reno berkata padanya.
“lo ngerti Tik ? kok diem aja dari tadi.” Tanya Reno memastikan.
“haah iya, gue baik-baik aja kok.” Jawab Kartika cepat.
“hahah, udah deh Tik. Gue tau kok. Lo pasti gerogi kan ? it’s ok lah, kita lanjut lagi ya.”
Wajah Reno berpaling menatap wajah Kartika yang berada di depannya. Sehingga membuat wajah keduanya beradu, saling tatap menatap tak jelas. Kartika mengahburkannya dengan senyumannya. Berpaling dari sorot mata Reno yang terus menatapnya tajam.
“hemm, bisa kita lanjut lagi Ren ?” Tanya Kartika gemetar, menahan perasaannya yang semakin campur aduk.
“okay.” Jawabnya mengiyakan, kembali fokus dengan senar gitar yang di pegang Kartika.
Perlahan Reno kembali menggerakkan jemari Kartika yang kecil, menekan salah satu tali senar gitar. Satu per satu jarinya sudah menekan tali senar gitar, dengan kunci dasar ‘re’. Dengan semangatnya Kartika mengayunkan jari tangan kanannya pada tali-tali senar yang sudah di tekan jari-jarinya sebelah kiri. Dan berbunyi, jrenggg… Kartika tertawa geli mendengar petikan suara gitar yang ia buat tersebut. Reno yang mengajarinya ikut tersenyum geli melihat tingkah Kartika yang lucu. Seketika, tawa Kartika pudar. Wajahnya berubah panik, saat melihat jari tangannya yang berdarah.
“yahh berdarah deh… huf huf huf..” Ucap Kartika seketika menahan sakit.
“lo kenapa Tik ? berdarah ya ? mana, coba gue liat.” Ujar Reno cemas, langsung menarik tangan Kartika yang jarinya berdarah.
“lo mau ngapain Ren ? biar gue ambil obat di dalam dulu.”
Belum sempat Kartika bangkit dari duduknya, tangan Reno masih memegang erat tangannya. Tanpa merasa jijik, Reno langsung mengisap jari Kartika yang berdarah. Mencoba menghentikan darah yang mengalir dari jari Kartika yang kecil itu. Kartika hanya terdiam melihat hal tersebut. Tak berani melawan atas tindakan Reno, yang langsung memasukkan jari tangannya ke dalam mulut cowok yang ia sukai. Jantung Kartika kembali berdetak kencang. Hatinya mulai goyah, dengan berbagai perasaan yang mulai muncul begitu saja di dalam hati. Merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Perasaan di sayangi dan di perhatikan oleh seseorang.
Ahhh.. copot nih jantung gue. Satu dua ti… nggak jadi ahh. Kalo gue mati di sini nggak etis dong. masa Cuma gara-gara ini doang pingsan. Ohh, tidak mungkin. Kartika gitu ! santai santai.. argggh nggak bisa. Beneran nih mau copot jantung gue. Ohh tuhan, please hentiin waktu sekarang juga. Eh jangan deh.. ntar Reno-nya jadi patung. Jangan jangan. Ya ampun Ren, lo baek banget. Udah ganteng, cool, baek perhatian juga. Nggak kayak Dicky, kakak sendiri kejam sama adeknya. Ohh nggak salah gue pilih lo buat ngisi hati gue. Tapi, perasaan gue nih nggak bertepuk sebelah tangan kan ? lo juga punya perasaan yang sama kayak gue kan Ren ??? gumam Kartika dalam Hati.
“KARTIKAAAAAA….. ada telpon nih dari mama. Buruan !” Teriak Dicky kencang.
Kartika kaget dengan teriakan Dicky. Hingga membuat Reno melepaskan tangan Kartika dan berhenti mengisap jarinya yang terluka. Dengan perasaan tidak nyaman dan hati masih berdebar-debar, Kartika pergi meninggalkan Reno sendirian di bawah pohon mangga. Berlari menuju arah suara yang memanggilnya tadi.
“dari mana aja lo, lama banget. Ada telpon bunyi nggak di angkat. Nih..” Ujar Dicky ketus menyodorkan gagang telepon pada Kartika.
Kartika hanya menunduk lemas tak berani menjawab ucapan kakaknya. Menerima gagang telepon tersebut dan membiarkan kakaknya berlalu meninggalkannya.
“iya ma, ada apa ?” Ucap Kartika pelan dari sabungan telepon.
“Tika kamu baik-baik saja kan ? kamu udah makan belum ? mama denger kayaknya kamu di siksa ya sama Dicky ?” Tanya ibu mengkhawatirkan keadaan anak gadisnya.
“ahh nggak kok ma. Kita baek-baek aja di rumah. Tika udah makan tadi, pagi. Mama sama papa kapan pulang ? Tika kangen nih, udah 2 hari.”
Baek apanya. Yang ada gue di siksa sama dia, kalo temen-temennya ke rumah. Nah apa lagi sekarang. Ada Reno di rumah, gue tambah di cuekin. Nggak di kasih makan lagi sampe sekarang. Cuma makan roti doang, itupun tadi pagi waktu sarapan. Laperr nih ma… Hujat Kartika dalam hati ngedumel.
“ohh begitu. Mama sama papa mungkin pulangnya 2 hari lagi Tik. Nenek masih sakit Tik, jadi nunggu keadaan nenek udah agak baikan dulu. Maaf ya Tika. Doain aja semoga nenek kamu cepat sembuh dan mama sama papa bisa cepet pulang. Udah ya Tika, kamu istirahat lagi sana. Assalamualaikum..” Ucap ibu mengakhiri percakapannya.
“iya ma, Amin. Wa’alaikum salam..” Balas Kartika menjawab salam dan meletakkan gagang telepon di tempatnya semula.
Kartika melirik jari tangannya yang terluka. Darahnya sudah berhenti karna di hisap oleh Reno. Ia tersenyum-senyum sendiri sambil memegangi tangannya. Mengkhayalkan sesuatu. Belum lama beselang, ia teringat dengan kakaknya tadi. Dengan perasaan was-was, Kartika berjalan perlahan mendekati pintu belakang. Melirik ke arah pohon mangga, tempat dimana ia meninggalkan Reno karna teriakan Dicky yang keras.
Matanya menyusuri tempat itu. Tapi ia tak menemukan keberadaan Reno dan kakaknya tersebut. Wajahnya berubah panik, saat menemukan keberadaan keduanya di tempat lain. Di bawah pohon mangga yang lain yang tersedia bangku taman di bawahnya. Bukan di bawah pohon mangga tempat dimana Reno mengajarkannya bermain gitar tadi.
Pikiran Kartika mulai bercabang. Dengan berbagai pikiran negatif tentang kakaknya yang sedang berbincang-bincang sesuatu hal dengan teman dekatnya itu, Reno.
Duhh, ngapain lagi mereka di situ ? ngomongin apa sih ? please Ren, lo jangan cerita yang enggak enggak sama Dicky. Kalo iya, gue bisa mati di gantung Ren sama dia. Dan gue nggak bisa lagi ngeliat lo. uhhh… Bisik Kartika panik.
Kartika vs Kartini.
“Ky. Gue boleh tanya sesuatu nggak ?” Pinta Kartika membujuk.
“tanya apaan sih ?” Jawab Dicky acuh, menikmati pop crone sambil menonton tv.
“hemmm.. tadi siang lo ngomongin apa sama Reno ?”
“hemm.. lo mau tau ? mau tau aja atau mau tau banget ? kasih tau nggak ya…” Balas Dicky bermain kata.
“ihhhh serius nih gue Ky. Ada nggak dia ngomongin tetang gue tadi ? Cuma jawab aja kok susah sih.” Kesal Kartika.
“yeee.. gitu aja udah marah. Udah ahh, gue nggak mau cerita. Lo tanya ja sendiri langsung sama orangnya. Gue males.” Ketus Dicky mengacuhkan Kartika yang duduk di sampingnya.
Karna tidak mendapat jawaban atas pertanyaannya. Kartika langsung masuk ke kamarnya, meninggalkan Dicky sendiri di ruang keluarga.
Pintu kamar Kartika terdengar di banting keras. Hingga mengagetkan Dicky yang fokus dengan kegiatannya.
“yaelah. Beneran marah nih ceritanya buk. Banting aja pintunya terus. Gue tinggal laporan sama mama papa kalo ada yang lagi ngamuk kemaren di rumah.” Ujar Dicky mengancam.
Dengan pikiran yang masih bercabang sejak tadi siang. Kartika memutuskan untuk curhat dengan teman di dunia maya-nya. Saat mendapat informasi dari layanan service bahwa paket datanya telah habis, Kartika kembali mengeluhkan keadaannya. Dan memutuskan untuk bercerita lewat via sms dengan temannya Pratiwi.
From : Kartika
To : Pratiwi
Wi, gue lagi bete nih. Plus lagi galau tingkat dewa nih.. ahhh.. kakak gue nyebelin. Gue tanya sesuatu sama dia tentang Reno tapi nggak di jawab bener-bener. Gu takut Wi, kalo Reno cerita tentang kejadian tadi siang gue sama dia. Duhh gimana dong Wi ?
From : Pratiwi
To : Kartika
Duhh apaan lagi sih Tik. Perasaan tiap hari gue harus dengerin cerita hidup lo yang merana banget deh kayaknya. Gue lagi sibuk nih, persiapan buat ultah gue. 3 hari lagi cuy. Gue bilanginnya Tik. Jangan pernah lo nangisin keadaan lo yang udah susah kayak gini. Tiap hari ceritanya sedih mulu. Karna bukannya tambah baek, tapi keadaan lo nanti tambah lebih susah lagi. Jagan pernah puas dengan apa yang lo punya sekarang. karna tanpa lo sadari, lo bisa dapet yang lebih dari itu. Come on bee, berbahagialah dengan hidup lo yang sekarang.
Kartika mengerutkan dahinya membaca sms dari sahabatnya itu. Maksud lo apaan sih Wi ? gue nggak ngerti dengan kata-kata lo yang sekarang. Cara ngomong lo sekarang beda banget. Apa karna lo mau ke usia 17 ya ? hemm, bener juga sih kata-kata lo. tapi lo sok bijak. Guman Kartika kesal dan melempar handphone ke atas tempat tidurnya.
***
Seperti biasanya. Keadaan ruang kelas Kartika dalam keadaan gaduh karna guru yang mengajar tidak masuk ke kelas. Menurut kabar yang di terima, guru tersebut sedang mengikuti diklat di luar kota. Sedangkan guru yang piket pada hari itu tidak berada di tempat untuk menggantikan guru yang mengajar di kelas. Sehingga murid-murid di dalam kelas mengambil inisiatif untuk belajar sendiri. Alias membuat ke gaduhan dengan berbagai hal yang mereka lakukuan untuk menghabiskan waktu. Di antaranya menghidupkan musik dari music box dan menyanyikannya kembali dengan suara yang sember. Sama seperti suara ember yang di tabuh.
Kartika bersama 3 temannya Rere, Nevy dan Yogi, sedang membuat ke rumuan sendiri. Mereka bercerita tentang banyak hal yang mereka alami setiap harinya. Dari bangun tidur sampai tidur lagi. Hingga membuat Kartika lepas bicara tentang kakaknya, Dicky. Dengan gayanya, Kartika bisa membuat 3 temannya itu untuk mengalihkan pembicaraan ke topik yang lain.
“ehh Tika. Kalo di sekolah lo yang lama, ada nggak acara peringatan hari-hari besar atau bersejaran gitu ?” Tanya Rere polos.
“ohh itu. So, pasti ada dong. Dan lebih pastinya lagi, acaranya tuh lebih rame daripada di sini. Hemm, atau mungkin disini nggak pernah ngerayain ya ?” Jawab Kartika dengan nada meremehkan.
“huuu, enak aja lo ngomong Tik. Lo tau nggak, sekolah kita ini kalo ngadain acara peringatan hari besar tuh paling rame dan paling bermanfaat tentunya. Di banding sama sekolah-sekolah lainnya.” Balas Yogi tak mau kalah pamernya.
“yup setuju. Apalagi waktu masa jabatan kak Dicky di OSIS. Huu, acara HUT sekolah aja rame banget. Hemm meriah. Ada lomba sepeda ria yang di ikuti seluruh siswa, terus ada kegiatan jalan sehatnya juga, festival band, bazar, turnament, baksos, banyak lagi deh Tik.” Tambah Nevy melebihkan ucapan Yogi.
“nah Tika. Sekarang kan bulan april. Udah hampir masuk minggu kedua, 4 hari lagi. Tanggal 21 april kan ultahnya R.A Kartini. Hem.. pasti kegiatannya tambah seru tuh…” Sambung Rere bersemangat.
Mendengar ucapan Rere tentang HUT R.A Kartini, seketika wajah Kartika berubah horor. Membayangkan sesuatu yang akan terjadi nantinya. Karna tanggal 21 april tersebut adalah hari ulangtahunnya dan juga merupakan HUT R.A Kartini.
“ihh apaan sih. Cuma HUT Kartini aja di rayain rame-rame. Cuma tinggal upacara bendera doang, beres deh.” Ketus Kartika dongkol.
“ehh lo nih gimana sih Tik. Lo tau kan R.A Kartini. Harusnya lo ikut seneng dong kalo HUT Kartini di peringatin dengan banyak kegiatan.” Ucap Nevy kesal.
“iya Tik. Berkat usaha beliau akhirnya kaum perempuan nggak di tindas terus pada massa penjajahan dulu. Peringatan HUT Kartini tuh sama dengan hari jadinya emansipasi wanita terhadap haknya yang ingin bebas dari kodratnya. Yang pada waktu itu, wanita tidak di perbolehkan bersekolah tinggi, karna di anggap nantinya Cuma akan menjadi ibu rumah tangga aja. Lo wanita kan Tik ?” Terang Rere panjang lebar.
Kartika mengacuhkan penjelasan Rere yang panjang lebar tentang peringatan hari Kartini. Karna, menurut Kartika. Perayaan HUT Kartini sama saja dengan peringatan hari ulangtahunnya. Yang setiap tahunnya di rayakan di setiap sekolah dengan berbagai macam kegiatan yang di laksanakan. Di antaranya lomba busana kebaya khas jamannya R.A Kartini.
Sewaktu masih di sekolah dasar, saat Kartika duduk di bangku kelas 6. Sekolahnya mengadakan kegiatan tersebut, lomba busana kebaya. Dan hal tersebut merupakan kejadian yang sangat hironis baginya. Karna ibunya mengharuskan Kartika untuk mengenakan pakaian kebaya dan di dandani dengan aksesoris khas wanita jaman R.A Kartini. Dengan pakaian kebaya yang di kenakannya, Kartika merasa risih karna tidak dapat berjalan dengan leluasa dan berlari-lari seperti yang biasa ia lakukan.
Dan saat merayakan ulangtahunnya yang ke-11, ia juga harus memakai pakaian kebaya dengan terpaksa. Menurut ibunya, ia harus memakai baju kebaya saat merayakan ulangtahunnya. Karna itu juga salah satu cara untuk menghargai jasa pahlawan tersebut dalam memperjuangakan hak wanita. Oleh karenanya, nama lengkap Kartika pada bagian akhirnya di beri inisial ‘K’ yang artinya Kartini.
“Tika… lo denger nggak sih. Capek nih gue ngomong. Di hargain dikit ngapa ?” Ucap Rere kesal mengoyangakn tubuh Kartika pelan.
Ia hanya diam, masih tak merespon ucapan temannya itu. Hingga ia tidak merasakn gerakan tangan Rere yang mengoyangkan tubuhnya.
“emangnya lo mau di hargain berapa sih ?” Celetuk Kartika kasar, melirik heran dengan tatapan mata Rere yang terus mengarah ke pintu kelas.
Kartika mengikuti arah pandangan Rere yang terus menatap lekat ke arah pintu kelas. Ingin mengetahui apa yang sedang di lihat teman-temannya itu. Hingga membuat mereka tidak mendengarkan ucapannya.
Sontak Kartika terkejut melihat dua sosok laki-laki yang berdiri santai di depan pintu kelasnya itu. Sosok laki-laki yang tak asing lagi baginya. Sosok yang selalu ia lihat setiap harinya. Dan salah satunya sosok laki-laki yang ia sukai. Dicky, Reno ? gumam Kartika dalam hati.
“Tika, lo di cariin tuh sama mereka. Buruan sana.” Ujar salah satu teman sekelas Kartika membuyarkan lamunannya.
Seluruh teman sekelas Kartika melihatnya heran, terkejut dan takjub dengan hal yang jarang terjadi di kelas tersebut. Dua laki-laki yang notabennya kakak kelas mereka dan merupakan sosok yang terpopuler dan ter.. ter.. yang lainnya di sekolah. Masuk ke kelas mereka untuk menemui seorang cewek, yang bagi mereka nggak penting banget karna cewek tersebut merupakan anak baru di kelas.
Dengan langkah gemetar Kartika menghampiri dua sosok yang sudah menunggunya itu. Saat melihat ke arah Dicky. Kartika melemparkan tatapan horornya dan saat menatap ke arah Reno, ia melemparkan senyumannya yang paling manis.
“ngapain lo ke sini ?” Tanya Kartika Ketus.
“yee, terpaksa gue ke kelas lo nih. Kalo nggak di suruh sama pak Prapto, gue juga ogah ke sini.” Balas Dicky tak kalah ketusnya.
“ehh udah. Kalian berdua nih, nggak di rumah nggak di sekolah sama aja. Tika, yuk ikut kakak ke kantor. Kamu di cariin sama pak Prapto.” Lerai Reno bersikap manis pada Kartika.
Mereka berlalu meninggalkan kerumunan teman-teman sekelas Kartika yang sejak tadi tak mengedipkan mata melihat ke arah mereka. Pandangan mata yang terus mengikuti arah sosok laki-laki yang membawa Kartika pergi. Dan leyap saat berbelok di ujung koridor sekolah. Menyisakan mereka dengan berbagai pertanyaan tentang kedekatan Kartika dengan kakak kelas yang terpopuler di sekolah. Serta berbagai argument lain tentang mengapa Kartika di panggil untuk menghadap pak Prapto, yang merupakan pembina OSIS di sekolah tersebut.
“ohh ini yang namanya Kartika itu, adik kamu Ky ?” Tanya pak Prapto melepaskan kacamatanya saat menyambut kadatangan mereka.
“iya pak. Nggak mirip tapi kan pak sama saya ?” Jawab Dicky menyindir.
Kartika hanya tersenyum tipis menahan marahnya. Kemudian melirik ke arah Reno, yang berdiri di sampingnya. Tidak sedikitpun memunculkan ekspresi di wajahnya, hanya memandang ke arah pak Prapto yang sedang bergurau dengan Dicky.
“jadi pak, maksud bapak panggil saya ke sini apa ?” Tanya Kartika to the point.
“hemm begini Tika. Dari cerita yang bapak dengar dari Dicky, kamu adalah murid yang teladan dan selalu mendapat grade atas prestasi kamu di sekolah kamu terdahulu. Nah, sekarang kan sudah memeasuki bulan april dan sebentar lagi akan masuk minggu kedua.” Jawab pak Prapto sabar.
Mendengar kata-katanya barusan. Seketika pikiran Kartika mulai berjalan dan memahami maksud dirinya di panggil oleh pembina OSIS itu. Tidak lain dan tidak bukan lagi. Tebakannya sangat jitu tentang arah pembicaraan pembina OSIS tersebut.
“dan di minggu ketiga, sekolah kita akan mengadakan acara yang berhubungan dengan peringatan atau HUT Kartini. Atas berbagai prestasi yang kamu raih di sekolah kamu yang dulu, bapak mendapat ide. Itupun atas usulan dari Dicky dan menurut bapak itu bagus. Jadi, menurut bapak bagaimana kalau kamu yang menjadi ketua panitia penyelenggara acara tersebut ?” Lanjutnya antusias mendengar jawaban dari anak didiknya itu.
Sejenak Kartika diam mendengar kata-kata terakhir yang di ucapkan oleh bapak tersebut. Sorot mata di sekelilingnya sekarang tertuju padanya. Menatap secara bergantian ke arah orang-orang yang terus memdanginya, menanti jawabannya darinya. Ia mentap ke arah guru yang duduk di hadapannya. Dari sorot matanya terpancar sinar penuh harapan bahwa Kartika akan menyetujui hal tersebut. Kartika menatap ke arah Reno yang masih berdiri tegap di sampingnya. Menatapnya dalam penuh arti. Tapi, Reno hanya tersenyum memberi motivasi padanya. Sebenarnya ia enggan untuk menatap ke arah sosok yang satu ini. Akan tetapi hal ini harus ia lakukan. Dengan memendam perasaan kesalnya, Kartika melihat ke arah sosok yang juga berdiri di sampingnya itu. Dari raut wajah Dicky terpancar sinar kemenangan dan bangga atas berbagai prestasi yang telah di raih oleh adiknya itu. Dan salah satunya lagi adalah menjadi ketua panitia untuk peringatan hari Kartini di sekolah barunya itu.
Kartika menundukkan kepalanya lesu. Tak mendapatkan jawaban yang sangat berarti baginya dan sesuai dengan apa yang ia pikirkan sekarang. Menolak dengan halus tawaran dari pembina OSIS tersebut.
“tenang pak. Kartika pasti bisa menjalankan tugas yang sangat penting itu. Dan ia pasti sanggup untuk menyelenggarakan acara peringatan itu dengan meriah. Dan pastinya lagi, sama meriahnya dengan sekolahnya dulu. Benarkan Tika ?” Celetuk Dicky membuyarkan konsentrasi Kartika.
Hello yang ulangtahun tanggal 21 April tuh bukan Kartini doang, tapi gue juga. Kok nggak ada yang ngertiin gue sehhh.. gue juga ulangtahun bro ! Anjritt lo Ky. Oh Tuhan, kenapa gue harus berhadapan dengan masalah yang seperti ini. Ini merupakan bencana batin bagi gue. Dan lo ! ini pasti kerjaan lo kan ? awas lo Ky ! balik lewat mana lo nanti, gue mau numpang. Hahah.. nggak serius nih, gue lagi marah. Ingat gue lagi MARAH !!! gumam Kartika menghujat kakaknya.
“benarkan begitu Kartika ? Bapak sangat mengharapkan parisipasi lebih dari kamu untuk kelancaran kegiatan ini ?” Ujar pak Prapto bersemangat.
“heee, iya pak. Saya akan berusaha semaksimal mungkin.” Jawab Kartika terpaksa.
“kamu pasti bisa Tik. Gue selalu ngedukung lo kok.” Tenang Reno memberi semangat semabari memberikan senyumannya yang lebar pada Kartika.
Melihat senyuman dari Reno, hati Kartika yang tadi beku memendam amarah sekarang leleh saat menatap wajah Reno yang bak malaikat baginya. Dengan hati yang berdebar Kartika membalas senyuman Reno yang rasanya ingin di abadikan olehnya. Tapi, lagi-lagi hal tersebut terhalang oleh keberadaan Dicky di sampingnya. Yang terus menatap ke arahnya dengan sorot mata tajam penuh dengan berbagai ancaman.
***
Semangka ! Semangat Kartika.
Kartika terus mencari sesuatu di dalam dus besarnya. Hingga membuat kamarnya yang tadi rapi, sekarang berubah berantakan. Seperti telah terjadi gempa lokal, yang hanya terjadi di dalam kamarnya saja.
Dengan menghembuskan napas kecil, Kartika duduk bersender di ranjang tempat tidur. Mengistirahatkan tubuhnya sejenak, setelah mencari sesuatu di dalam dus besar yang ada di hadapannya itu. Kemudian mengeluh kesal karna sesuatu yang di carinya itu tidak di temukan.
Ohh Tuhan.. sekarang apa yang harus aku lakuin. Kemana perginya dokumen penting itu ? semua tentang perencanaan acara peringatan hari besar ada di situ semua. Huft, atau jangan-jangan dokumen itu gue tinggalin di lemari asrama. Haaaa.. terus gue harus gimana dong ? dicky, lo harus bertanggungjawab atas semua penderitaan gue sekarang. Keluh Kartika panjang.
Dengan langkah seribu, Kartika meninggalkan kamarnya dalam keadaan berantakan. Menuju kamar kakaknya dengan wajah letihnya. Tanpa mengetuk pintu kamar, Kartika langsung masuk ke dalam kamar. Mencari dan sesegera mungkin mencari sosok kakaknya itu.
“Dicky, lo dimana ??? lo harus bertanggungjawab sama gue !!!!” Teriak Kartika kesal tak menemukan keberadaan Dicky di dalam kamar.
Dengan cepat ia keluar dari kamar itu dan langsung memburu keberadaan kakaknya tersebut di sekitar rumah. Mulai dari ruangan yang terdekat dahulu. Langkahnya menuju ruang tamu, lalu ruang tengah, kemudian ruang keluarga tapi sosok kakaknya itu tak di temukan. Langkahnya kembali mununtun tubuhnya yang sudah letih untuk terus berjalan. Rasa lapar dan haus mulai menyerangnya. Membawanya ke dapur untuk mencari sesuatu yang bisa di makan untuk mengganjal senandung lagu lirih dari perutnya itu.
Betapa kagetnya Kartika saat mendapati ayah, ibu dan kakaknya sedang menyantap makanan dengan lahapnya. Ia hanya dapat menatap terpaku ke arah orang-orang yang sedang lahapnya makan tanpa ada yang menoleh ke arahnya, berdiri terpekur di sudut ruang.
Arah pandang mata-mata itu sekarang mengarah pada sosok Kartika yang berdiri kaku di sudut ruang. Memperlihatkan tatapan ‘kasihan’ padanya. Kemudian menyuruhnya untuk bergabung, duduk di meja makan.
“Tika, kamu lapar ya nak ? sini makan sama mama. Atau mau mama suapin ?” Tanya ibu menawarkan diri. Menatap anak gadisnya penuh keprihatinan.
“ya Tika laper. Laper banget. Sampe-sampe Tika mau ngabisin semua yang ada di meja makan, kalo perlu sama orang-orangnya deh.” Jawab Kartika datar.
“yaelah Cuma gitu doang marah Tik. Makanya, kalo orang manggil tuh di dengerin. Nih, malahan asik ngacak-ngacak dus. Nyari apaan sih lo ?” Celetuk Dicky dengan mulut yang masih penuh dengan makanan.
“awas lo. telen dulu tuh makanan, nyembur gue nanti. Nih juga agar-agar lo deh. Pokoknya lo harus bertanggung jawab atas semua ini. Gue nggak terima !” Balas Kartika marah.
“gara-gara Tika, bukan agar-agar.” Sambung ayah membenarkan perkataan putrinya itu. Kemudian memilih diam daripada ikut campur dengan urusan kedua anaknya yang saling berdebat.
Kartika masih memasang wajah horornya. Menyantap makanan di hadapannya dengan rakus. Selain karna lapar juga karna sedang marah pada kakaknya, Dicky.
“kalian kenapa lagi sih ? Tika. Kamu baik-baik aja kan selama mama tinggalin di rumah sama kakak kamu ? atau kamu marah ya sama mama, karna mama nggak bawain oleh-oleh buat kamu ?” Beruntun mama cemas.
“nggak ma. Tika lagi ada masalah sama Dicky. Bukan masalah besar tapi masalah gede ma. Tika mau minta pertanggungjawabannya dia sama Tika. Masa sih ma, Tika harus ikut berpartisipasi di acara peringatan HUT Kartini ? Tika kan juga ulangtahun di tanggal segitu ma.” Keluh Kartika kesal.
“yee.. Cuma gitu doang mah, kecil. Gue bantuin deh. Ehh ntar dulu. Tapi kan kata lo, lo bisa nge-handle¬ semuanya. Masalah gini doang mah kecil buat lo. itu kan yang sering lo bilang ke gue.” Celetuk Dicky mengungkit perkataan Kartika.
Wajahnya berubah kusut mendengar perkataan kakaknya tersebut. Memang benar kata-kata itu sering bahkan kerap kali Kartika bercerita tentang sekolah lamanya. Dan untuk kali Kartika tidak mendapat alasan yang tepat untuk menjawab pernyataan kakaknya itu. Pikirannya sudah buntu dan tidak dapat berpikir lagi dengan kata-kata yang jernih.
“duhh… anak mama hebat deh. Mama sama papa bangga deh. Nggak apa-apa dong Tik. Kalo di sekolah kamu buat acara peringatan HUT Kartini berarti sekalian ngerayain ulangtahun kamu dong. Harusnya kamu seneng Tik. Mama bakalan dukung 100% acara yang kamu buat itu.” Ujar ibu dengan semangatnya.
Kartika tidak setuju dengan kata-kata ibunnya barusan. Hal itu berbanding terbalik dengan apa yang di inginkan Kartika. Di ulangtahun yang ke-17 nya, Kartika harus merayakannya bersamaan dengan acara HUT Kartini di sekolahnya. Baginya itu adalah hal yang sangat tidak wajar dan sangat tidak sesuai dengan semua hal ia rencanakan untuk sweet seventeen-nya. Semua benar-benar tidak sesuai dengan yang di impikannya.
***
Pukul 19.47. Kartika sudah mempersiapkan segala keperluan yang ia butuhkan untuk sekolah besok pagi. Semuanya sudah tersusun rapi di dalam tasnya.
Kartika mengunjungi keberadaan kedua orangtuanya yang sedang bersantai di ruang keluarga. Menyaksikan acara yang di suguhkan salah satu stasiun televisi yang mempunyai slogan ‘satu untuk semua’. Berharap akan menemukan sosok kakaknya di sana. Karna tidak menemukan apa yang ia cari, Kartika membelokkan langkahnya menuju kamar Dicky. Mengetuk pintu kamarnya sebanyak tiga kali, seperti yang di perintahkan Dicky padanya jika akan masuk ke kamar kakaknya itu. Sudah lebih dari tiga kali Kartika mengetuk pintu, tapi tak ada tanda-tanda pintu akan di buka. Dengan niat awalnya, Kartika langsung membuka pintu kamar. Wajahnya berseri, saat menemukan sosok kakaknya sedang membaca buku di kamar itu.
“Ky. Gue mau nagih utang ke lo.” Ucap Kartika santai, berdiri di hadapan kakaknya.
“emang gue punya utang apa sama lo ?” Balas Dicky cuek, masih melanjutkan bacaannya.
“ehh lu lupa, atau lo udah pikun sih. Kan tadi siang lo janji mau bantuin gue buat proposal kegiatan peringatan HUT Kartini. Janji sama dengan utang, jadi gue mau nagih utang lo.”
“sejak kapan gue buat janji sama lo ? gue lagi sibuk, nggak mau di ganggu. Lo kan hebat dan selalu dapat grade di sekolah lama lo. masa Cuma masalah kayak gini doang lo minta bantuan sama gue. Ogah..”
“Ky. Gue kan nggak pernah minta jadi ketua panitia acara ini, semuakan gara-gara lo yang ngebual sama pak Prapto tentang gue. Dan gue dapet apesnya, lo harus bantu gue. Gue lagi butuh bantuan lo banget nih. Dokumen penting gue tentang acara yang begituan ilang. So, gue nggak tau mau mulainya dari mana. Dan gue nggak pernah ikut-ikut jadi panitia di acara-acara yang kayak gini. Pokoknya lo harus bantu gue !” Ujar Kartika memaksa.
“gue nggak mau. Gue sibuk ! cari aja orang lain yang bisa bantu lo. udah pergi sana.” Usir Dicky bangkit dari tidur malasnya, mengusir Kartika kemuar dari kamarnya.
Dengan sisa-sisa tenaganya Karitka mencoba melawan tindakan Dicky yang mendorongnya keluar dari kamar. Tapi hal itu sia-sia, karna tenaga Dicky lebih kuat daripada tenaga Kartika yang sudah terkuras habis untuk berpikir dan mencari dokumen pentingnya yang hilang.
Dengan melenan kekecewaan, Kartika berjalan gontai menuju kamarnya. Berpikir panjang tentang apa yang harus ia perbuat dengan kegiatan acara di sekolahnya itu. Berharap datang malaikat yang datang menolongnya dengan sukarela. Malaikat yang mempunyai dua sayap, berparas tampan, berpakaian serba putih bersih dan rapi. Seperti hal yang selalu ada di benaknya saat membaca cerita dongeng anak-anak.
***
“Kartika lo baek-baek aja kan ? gue perhatiin, sejak lo di panggil sama pak Prapto kemarin lo jadi aneh gini. Lebih banyak diem, nggak banyak ngomong kayak biasanya.” Tanya Rere cemas duduk di hapan Kartika saat di kantin.
“gue nggak apa-apa kok.” Jawab Kartika simple, mengaduk teh botonya tak berhasrat.
“emang lo kemaren kenapa di panggil sama pak Prapto ? lo buat masalah ya ?” Tambah Nevy mencari penjelasan.
“nggak gue nggak apa-apa. Gue lagi pusing plus bingung sama dengan lagi galau. Kita ke kelas aja yuk !” Ajak Kartika lemas, bangkit dari duduknya.
Kartika berjalan di depan, meninggalkan kedua temannya yang masih duduk di meja kantin. Menatap Kartika yang berjalan dengan tidak bergairah dengan hidupnya sekarang. Melihat cara berjalan Kartika yang aneh tersebut, Rere dan Nevy segera menyusul Kartika. Berjalan beriringan dengannya.
“lo bener nggak apa-apa ? rok lo kenapa, kok ada bercak-bercak merahnya gitu ?” Tanya Nevy heran.
“kecap tuh.” Ucapnya datar.
“hem, lo yakin Tik itu noda kecap ? kok aneh gitu ya warnanya.” Tambah Rere meyakinkan penglihatannya.
“kecap tuh, kecap. Udah deh, gue baek-baek aja. Ke kelas aja sekarang !” Ucapnya kemudian kesal.
Mendengar jawaban yang demikian, dua temannya itu langsung mengambil kesimpulan. Bahwa Kartika dalam keadaan baik-baik saja. Mengambil pikiran yang positif tentang keadaan Kartika yang demikian.
Bel berbunyi dua kali, tanda jam istirahat telah selesai dan masuk dengan jam pelajaran baru. Seluruh murid sudah memasuki kelasnya masing-masing siap mengikuti pelajaran dengan baik. Suasana kelas Kartika berubah menjadi horor saat guru mata pelajaran matematika memasuki ruang kelas dan duduk di tempatnya.
Dengan gaya khas mengajar ala militer menurut murid di kelas itu. Guru tersebut memberikan materi pelajaran yang sesingkat mungkin. Kemudian memberi soal pertanyaan yang harus di jawab benar. Seluruh murid menjadi tegang, saat guru tersebut akan menunjuk salah satu murid di dalam kelas untuk menjawab soalnya tersebut.
“Kartika Putri. Jawab soal nomor satu.” Ujar guru tersebut lantang.
Walaupun dalam keadaan yang galau, menurut penuturannya tadi. Kartika tetap dengan gaya khasanya mengiyakan perintah guru tersebut. Dengan langkah sombong Kartika bangkit dari duduknya, berjalan menuju papan tulis yang ada di hadapannya.
“Tik lo serius nggak apa-apa ? kok noda kecapnya makin banyak ya Tik ?” Tegur Rere sebelum Kartika melangkah jauh dari tempatnya.
Mendengar perkataan Rere, wajah Kartika berubah cemas. Menghentikan langkahnya, melihat kondisi roknya. Seketika wajahnya berubah pucat. Dengan cepat ia kembali ke tempat duduknya, mengurungkan niatnya untuk maju ke depan.
“kenapa lo nggak bilang dari tadi sih ?” Ketus Kartika kesal.
“gue udah bilang dari tadi Tika. Di kantin tadi, juga udah gue bilangin.” Jawab Rere polos.
Melihat kelakuan Kartika yang aneh. Guru tersebut berubah sikap. Yang tadi tidak kenapa-kenapa sekarang menjadi kenapa-kenapa. Dengan langkahnya yang tegap dan lurus menuju meja Kartika tanpa ada halang dan rintang yang menghalanginya.
“Kartika. Kamu kenapa ? cepat ke depan, jawab soal itu sekarang !” Ucap Guru itu masih menahan amarahnya.
“hee, anu pak anu..” jawab Kartikaa terbata.
“anu kenapa ? apa yang anu ?” Balas guru masih menahan amarahnya.
Seluruh murid di dalam kelas menatap ke arah Kartika heran. Khawatir dengan keadaannya yang berhadapan dengan guru itu. Guru yang mendapat julukan ‘guru killer’ di sekolah dari anak muridnya. Dari kabar terakhir yang di dapat, seorang murid yang bermain-main saat jam pelajarannya akan mendapat hukuman membersihkan seluruh tong sampah yang berada di sekolah tersebut. Entah berapa tong sampah yang akan di bersihkan Kartika jika ia berbuat demikian.
“anu pak, Kartika lagi dapet tamu bulanan. Terus tembus pak.” Jawab Rere polos.
Seluruh murid yang mendengar ucapan polos Rere, tiba-tiba tertawa geli menatap ke arah Kartika yang tertunduk malu karna ucapan teman sebangkunya itu. Menertawainya dengan berbagai argument lain tentang Kartika.
“semua diam. Benar begitu Kartika ?” Tanya guru itu kembali memastikan.
Haaaa. Anjrit lo Re. gila parah lo. polos banget lo ngomong kayak gitu di depan guru. Cowok lagi gurunya. Sumpah Re, lo buat gue malu. Di ketawain temen sekelas. Duh parah, mau di tarok di mana nih muka gue. Rere.. awas lo ! Hujat Kartika dalam hati.
“iya pak.” Jawab Kartika pelan.
Dengan gayanya, guru itu berjalan menjauh dari tempat Kartika sambil menahan tawanya. Dengan hal yang terjadi pada salah satu murid perempuannya itu. Tidak mempermasalahkan lagi keadaan yang terjadi pada muridnya tersebut dan melanjutkan pelajarannya lagi.
Di samping Rere, Kartika sudah memasang wajah horornya. Seakan ingin menerkam Rere yang dengan polosnya mengatakan sesuatu hal sangat tertutup bagi wanita pada guru laki-lakinya itu. Rere hanya mengacungkan kedua tangannya, membentuk huruf ‘V’ seraya melayangkan senyum gelinya. Mencoba mencairkan suasana hati Kartika yang saat itu lagi panas. Tapi usahanya gagal. Selama jam pelajaran berlangsung, Kartika tidak menoleh ataupun berbicara dengan teman sebangkunya itu. Diam dan fokus dengan penjelasan yang di berikan guru itu, tidak memperdulikan Rere yang memanggilnya sejak tadi.
Pukul 13.45. Bel sekolah berbunyi panjang, tanda jam pelajaran telah selesai dan waktunya siswa pulang ke rumahnya masing-masing. Sama halnya dengan yang di lakukan Kartika. Dengan cepat Kartika memakai tas ranselnya. Menurunkan talinya hingga tasnya turun kebawah, sampai menutupi noda merah yang ada dirok belakangnya. Kemudian berjalan keluar kelas dengan misterius, seperti menyembunyikan sesuatu.
Sampai di depan pintu gerbang sekolah. Dicky sudah menunggu Kartika seperti biasanya. Menunggu dan menunggu kedatangan adik perempuannya itu dengan sabar.
Dicky memandangi Kartika dengan tatapan menyelidiki. Mencari sesuatu yang sedang di sembunyikan Kartika dari balik tasnya yang di turunkan hingga ke bawah punggungnya.
“lo kenapa sih ? aneh lo, kayak orang gila.” Celetuk Dicky ketus.
“enak aja lo nagatain gue gila. Lo tuh yang gila. Cepetan deh, pulang. Gue lagi gawat darurat nih.” Pinta Kartika langsung duduk di boncengan motor kakaknya.
“yee, terserah gue dong. gue yang bawa motornya bukan lo.” ketus Dicky menyalakan motornya.
Dalam perjalan pulang ke rumah, Kartika terus melakukan hal yang aneh dengan sikap duduknya. Hingga membuat Dicky tidak konsen dengan jalanan, karna sesekali harus melihat kearah Kartika. Memastikan ia masih ada di boncengan motornya. Khawatir jika Kartika tiba-tiba tidak ada lagi di boncengan motornya. Maksudnya jatuh di jalan.
“lo kenapa sih Tik. Aneh banget dari tadi. Kenapa ? lo belum bisa buat proposal kegiatannya ya ?” Tanya Dicky meremehkan.
“ya, kenapa emang ? nih gara-gara lo juga tau. Lo harus tanggung jawab sama gue. Tapi, sekarang gue mau cepet nyampe ke rumah. Kalo nggak lo tanggung sendiri akibatnya.” Celetuk Kartika mengancam.
Mendengar kata-kata Kartika yang ingin cepat sampai di rumah, Dicky langsung melambankan gas motornya. Memperlambat laju kecepatan motor maticnya. Hingga membuat Kartika marah dengan hal tersebut.
Sesampainya di rumah Katika turun dari boncengan motor kakaknya dan langsung masuk ke dalam rumah, meninggalakn Dicky bersama noda merah yang menempel di jok motor kesayangannya. Melihat kelakuan adiknya yang semakin aneh, Dicky langsung mandapat wangsit dengan tindakan Kartika yang aneh sejak tadi. Wajahnya berubah merah, melihat apa yang di tinggalkan Kartika di jok motornya.
“TIKAAAA….. gue nggak mau tau, sekarang juga lo bersiin motor gue ! anjrit lo, motor ke sayangan gue lo nodain dengan sesuatu yang keluar dari tubuh lo. ihhh jijay gue.” Teriak Dicky marah, tidak terima dengan semuai itu.
“bodo. Tadi kan gue udah bilang buat balik cepet, eh lo nya malah di lama-lamain. Derita lo !” Balas Kartika berteriak dari dalam kamar mandi.
“gue nggak mau tau, pokoknya lo harus bersiin motor gue. Kalo perlu lo mandi bareng sama dia. Atau gue nggak mau berangkat sekolah bareng lo. Ogahhhhhhhhhhh” Perintah Dicky dari balik pintu kamar mandi.
“ya ya ya, gue bersiin nanti. Nanti tunggu lebaran monyet. Huahahaha..”
“Terserah lo !” Ucap Dicky, lalu meninggalkan Kartika yang masih berada di kamar mandi.
Dengan berat hati Kartika membersihkan motor kakaknya itu. Dengan sangat sangat terpaksa ia membersihkannya, sehingga ia hanya membersihkan tempat yang terkena noda saja. Daripada ia harus pergi sekolah menggunakan angkutan umun dan kesasar di jalanan.
Hari sudah semakin gelap. Kartika begegas ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang kotor dan lengket dengan keringat. Karna sedang mendapat tamu bulanan, Kartika tidak mengikuti sholat berjama’ah bersama kedua orangtuanya dan kakaknya. Kartika masuk ke kamar, mencari sesuatu yang bisa ia pikirkan dan di kerjakannya. Terutama memikirkan tentang proposal yang harus ia buat untuk peringatan acara HUT Kartini di sekolahnya itu.
Pukul 19.57. Kartika masih mengurung diri di kamarnya. Mencari petunjuk melalui media internet google. Searching contoh-contoh kegiatan apa saja yang di lakukan untuk memeriahkan HUT Kartini di setiap sekolah di nusantara. Ctrl + A, Ctrl + C, Ctrl + V. Gumam Kartika membatin hal yang sedang ia lakukan.
Hemm.. atau gue Tanya aja ma Tiwi ya ? Tapi, entar lagi dia ultah, pasti dia lagi sibuk banget. Gue nggak enak juga sama dia, ngerepotin dia terus selama 4 tahun. Huauahahaa… hebat banget ya gue. Tika gitu loh.. ahhhh terus gue sekarang gimana ? oh, Tuhan tolong turunkan malaikat penolongmu untuk diriku. Pinta Kartika dalam hati memohon.
Terdengar bunyi pintu di ketuk seseorang dengan keras. Kartika menghentikan khayalannya. Berjalan malas menuju pintu kamar dan membukanya.
“jam segini udah tidur aja lo ?” Celetuk Dicky yang berdiri di ambang pintu kamar Kartika.
“lo lagi ? ngapain lo ke kamar gue, tumben juga ngetuk pintu. Biasanya langsung masuk aja. Motor lo udah gue bersiin tuh. Udah kan ? gue lagi bergalau ria nih.” Ucap Kartika malas.
“yeee.. galau galau, Cuma itu aja yang bisa di lakuin seorang Kartika Putri Kartini apa ? kasian benget hidup lo.”
“ehh kalo lo ke kamar gue Cuma ngomong kayak gitu, mending lo pergi aja dari sini. Sekarang.” Ucap Kartika kesal dan menutup pintu kamarnya. Meninggalkan Dicky di luar kamarnya.
“ya udah kalo nggak mau di bantuin. Tuh gue ngajak Reno ke rumah, buat ngajarin lo buat proposal kegiatan. Tapi kalo nggak mau ya udah, gue suruh dia pulang aja lagi.” Ujar Dicky melengos pergi meninggalkan Kartika.
Mendengar nama Reno, Kartika langsung membuka pintu kamarnya cepat. Menyusul kakaknya yang sudah berjalan di depan menemui Reno di ruang tamu. Hatinya kembali berdebar tak menentu. Perasaannya mulai campur aduk saat melihat sosok laki-laki yang ia sukai itu sekarang berada di ruang tamu rumahnya.
Kartika duduk di sebelah Dicky, menemui tamu yang sudah menunggu di ruang tamu sejak tadi. Dicky menetap Kartika sinis. Melihat kelakuan adik perempuannya yang tiba-tiba berubah drastis setelah mendengar nama Reno.
“ngapain lo ke sini. Katanya tadi nggak butuh bantuan lagi ?” Tatap Dicky sinis.
“huu, siapa bilang. Gue lagi butuh bantuan kok.” Jawab Kartika mengelak.
Reno yang duduk di hadapan mereka hanya tersenyum geli melihat pertengkaran yang terjadi antara adik dan kakak itu. Seraya mengumbar senyum termanisnya kepada Kartika, hingga membuat hati Kartika melumer dengan seketika. Tak ingin menghilangkan kesempatannya untuk melihat senyuman Reno yang bak malaikat di hatinya itu.
“hem.. kalian berdua lucu ya, kakak sama adik berdebat aja terus. Kayak doraemon sama nobita tuh.” Celetuk Reno mencoba memperbaiki konsleting listrik antara Dicky dengan Kartika.
“entah ni Ren. Tadi gue tanyain, eh malah gue di kacangin. Ya udah, gue suruh lo pulang aja deh. Toh, yang butuh bantuan nggak mau di bantuin.”
“enak aja. Gue mau kok. Lo nya aja yang sewot dari tadi. Huu..” Balas Kartika tidak mau di salahkan.
“ya udah deh. Jadi intinya sekarang lo ngusir gue buat pulang nih Ky ? ya udah gue pulang aja.” Sambung Reno memelas.
“ahhh.. nggak Ren, Dicky tuh sirik aja orangnya. Gue butuh bantuan lo banget, jadi lo jangan pulang. Cuekin aja omongan Dicky tuh.” Ucap Kartika cepat.
Pipinya berubah warna merah merona, menahan perasaan malunya. Menghentikan niat Reno untuk pulang, menahannya agar berlama-lama di rumahnya.
“ya udah deh. Gue nggak jadi pulang. Gue mau bantuin lo, tapi ada syaratnya. Gimana ?” Ujar Reno mengajukan persyaratan pada Kartika.
“apa tuh Ren ?” Jawab Kartika penasaran.
“lo harus mau jadi pacar gue. Gimana ? setuju nggak.” Pinta Reno dengan memasang tampang serius di wajahnya.
Mendengar persyaratan yang di ajukan Reno padanya. Hati Kartika tiba-tiba penuh dengan bunga. Serasa ingin melompat kegirangan, tapi hal itu tak mungkin ia lakukan di depan laki-laki yang ia sukai. Dengan tersipu malu Kartika menahan emosi dari perasaannya yang begejolak.
Maaf Ren, gue nggak bisa…. Nggak bisa nolak permintaan lo. Gue mau terima lo jadi boyfriend gue. Gue mau banget Ren. Kalo Cuma itu persyaratannya, gue bakal langsung bilang iya. Dan nggak bakalan nolak lagi. Aneh deh lo ah. Malu nih gue. Nih ya, mana ada cewek yang nolak buat jadi girlfriend lo. termasuk gue salah satunya. Dan, nggak ada yang boleh ada cewek lain yang jadi girlfriend lo selain gue. Okay ! hahaha.. Gumam Kartika dalam hati.
“ahhh, gua nggak ikhlas best friend gue yang baeknya nauzubillah kayak gini. Harus pacaran sama orang yang super jutek and sombongnya kelewatan kayak lo. Walaupun lo adek gue sendiri. Wuek.” Celetuk Dicky membantah.
Seketika wajah Kartika berubah kusut mendengar penuturan kakaknya itu. Tidak terima dengan keputusannya yang diambil secara sepihak. Menatap lemas kearah Reno yang duduk di hadapannya, dan tertawa kecil saat mendengar perkatan Dicky.
“hahaha, jahat banget lo Ky. Sama adek sendiri juga. Berarti lo masih ada perasaan dong sama gue Ky ? ya ampun Ky, gue nggak nyangka deh. Berarti selama ini, lo masih nyimpen perasaan itu ke gue. Makasih banget Ky.” Balas Reno dengan nada di tahan, membuat gurauan yang tidak lucu bagi Dicky dan Kartika.
“ihh apaan sih lo, jijay gue dengernya. Udah ahh, daripada gue lama-lama di sini mending gue nonton. Yang ad ague bisa jadi homo kalo deket-deket sama lo. ihh..” Ujar Dicky geli, pergi dari posisi duduknya.
Meninggalkan Kartika dan Reno berdua di ruang tamu. Saling menyembunyikan pandangannya masing-masing, takut di ketahui oleh Dicky. Yang jelas-jelas tidak merestui hubungan yang akan terjadi di antara mereka nantinya.
Reno mulai membuka perckapan setelah sosok Dicky tidak ada lagi di antara mereka. Sesekali terdengar gelak tawa di antara keduanya saat membiacarakan sesuatu yang tentang Dicky. Sejenak berhenti tertawa, agar tidak di ketahui Dicky dan tidak mengusik ketenangan kedua orangtua Kartika.
Kembali ke pokok masalah. Mendengar penjelasan Reno tentang susunan kegiatan yang biasa di adakan di sekolah tersebut, sejenak Kartika diam dan berpikir. Mencoba mencari kegiatan yang belum pernah di adakan sebelumnya di sekolah tersebut. Tapi tidak berhasil. Karna semua rencana kegiatan yang sebelumnya telah terpikirkan olehnya, sudah ada dalam daftar kegiatan yang sering di lakukan sekolah tersebut.
Kasmaran.
“ya udah Tik, kita lanjutin besok aja di sekolah. Udah malem, gue mau pulang dulu. Gue tunggu di perpus sekolah besok, jam istirahat pertama. Okay.” Ucap Reno, meminta izin pulang.
“hemm, oke deh. Thank ya Ren. Gue panggil Dicky dulu ya.”
“oh nggak usah, gue langsung pulang aja. Salam aja buat dia dan orangtua lo.”
Tanpa pikir panjang, Kartika mengiyakan perkataan Reno. Mengantarnya pulang. Eh, maksudnya menemaninya keluar dari rumah. Memastikan tamunya keluar rumah dalam keadaan baik-baik saja. Contoh tuan rumah yang baik dan ramah pada tamunya, dilakukan Kartika dengan ikhlas. Seikhlas mungkin, karna tamunya sekarang adalah seseorang yang special di hatinya.
***
Kegiatan belajar mengajar masih berlangsung dengan tertib di setiap ruang kelas. Guru yang mengajar pun masih bersemangat dan bergairan dalam menyampaikan penjelasan materi yang di ajarkan. Hingga murid-murid yang hadir di dalam kelas pun ikut bersemangat untuk menimba ilmu darinya.
Berbeda dengan Kartika yang biasanya. Satu jam pelajaran, ia masih mengikuti pelajaran dengan baik. Tanpa melakukan sesuatu hal yang aneh. Satu jam kemudian, ia masih mengikuti pelajaran dengan baik. Walaupun sesekali melirik jam tangan yang ia pakai saat itu. Dua jam pelajaran sudan berlangsung. Guru yang mengajar pun berganti, dengan mata pelajaran yang berbeda pula.
Hal-hal aneh pun terjadi pada Kartika. Ia terus menatap jam tangannya. Memastika jarum jamnya berjalan dengan semestinya. Tapi, dalam pikirannya. Jarum jam itu tidak berjalan dengan semestinya dan hanya bergerak di tempat yang sama.
“Eh, Re. Jam tangan gue aneh deh ? dari tadi gue perhatiin, nggak bergerak-gerak Re. Di situ-situ aja muternya.” Bisik Kartika pelan.
“hem, mulai deh oon-nya keluar. Ya iya lah Tika, jarumnya Cuma muter di situ-situ aja. Kan jam lo bentuknya bulet nggak petak atau lonjong jadi dia muter-muter bukan keliling cina buta.” Balas Rere berbisik, mengawasi guru yang mengajar saat itu tidak mendengar perkataannya.
“Eh, Re. Kok lama banget sih belnya bunyi ? gue udah nggak sabar nih.”
Mendengar pertanyaan Kartika yang aneh-aneh, tidak seperti biasanya yang selalu diam dan fokus mengikuti pelajaran. Kali ini Kartika membuat Rere kesal karna tidak dapat fokus dengan penjelasan guru yang mengajar.
“Kartika, kalo lo udah kebelet. Ya udah permisi aja sama gurunya. Atau lo bunyiin tuh sendiri belnya. Gue lagi sibuk nih.” Jawab Rere dengan nada tinggi.
Tatapan seluruh murid di dalam kelas tertuju pada satu titik fokus yang sama. Tempat duduk Kartika dan Rere. Mendengar ucapan Rere yang kuat, hingga mengganggu konsentrasi belajar teman-temannya dan guru yang menjelaskan materi di depan kelas. Melihat tatapan tajam dari sorot mata yang mengarah padanya, Kartika dan Rere tertunduk malu.
“maaf buk.” Ucap Kartika dan Rere bersamaan.
Pelajaran kembali di lanjutkan. Seluruh murid kembali tertib menerima dengan baik setiap materi yang di sampaikan oleh guru yang mengajar. Termasuk Kartika. Setelah terjadi hal yang demikian, Kartika berhenti untuk memandangi jam tangannya. Fokus dengan materi yang di sampaikan guru di depan.
Bel berbunyi, tanda jam pelajaran telah selesai. Berganti dengan jam istirahat sekolah. Kenapa harus istirahat, kenapa bukan suamirahat ? Sesuatu yang sering di bicarakan murid saat mendengar kata-kata istirahat.
Hal yang di nantikan Kartika sejak tadi. Jam istirahat pertama, di perpustakaan sekolah. Ucapan terakhir Reno saat akan pulang dari rumah Kartika tadi malam. Dengan hati yang terus bebunga-bunga dan bahkan sudah ada taman bunga yang tumbuh di hati Kartika saat itu. Ia pergi ke perpustakaan sekolah, tepat seperti yang katakana Reno semalam. Meninggalkan teman-temannya yang sibuk dengan urusan masing-masing, pergi ke kantin dan mengisi perut mereka yang kosong. Tidak di lakukan Kartika saat itu. Hal yang sering ia lakukan, tapi kali ini tidak.
Langkahnya berhenti di ruang perpustakaan sekolah. Hati Kartika berdebar kencang. Melihat sosok laki-laki dengan paras yang tampan, pakaian yang rapi, serta sorot matanya yang tajam melirik ke arahnya. Berdiri tegap di depan perpustakaan sekolah menunggu kedatangannya. Perlahan tapi pasti, Kartika bejalan menghampiri sosok itu dengan langkah anggunnya.
Senyuman manisnya, yang membuat hati Kartika makin derdegup kencang. Sosok itu menyambutnya dengan hangat. Memberi kesan yang sangat dalam di hati Kartika, karna mendapatkan senyuman termanis dari sosok yang ia sukai.
“yuk ikut gue. Kita mulai dari sini, oke.” Perintah sosok laki-laki itu dengan lembut.
Kartika menggelengkan kepalanya pelan, menuruti ajakan sosok yang di pujanya itu. Berjalan di belakang mengikuti langkah kaki seseorang di depan yang menuntunnya. Tidak ada percakapan yang terjadi saat itu. Hanya hening, sunyi dan senyap di dalam perpustakaan.
“nih, coba lo baca-baca makalah ini. Terus proposal ini, buku ini, ini, ini dan ini.” Ucap Reno mengambil beberapa buku dan memberikannya pada Kartika.
Senyuman manis terukir indah di bibir Kartika yang tipis. Menerima setumpuk buku dari Reno dengan penuh rasa senang tanpa ada rasa keberatan dari hatinya. Walaupun sebenarnya dengan sekuat tenaga ia menopang beban yang berat dari buku-buku yang di bawanya.
Asalakan bisa di dekat lo, gue bakal ngelakuin apapun. Termasuk bawain buku yang beratnya.. hemm, nggak berat kok itung-itung olahraga angkat besil. Tapi, lama-lama bisa copot juga nih tangan gue. Nggak apa-apa deh, demi di dekat lo selalu Ren. Haha, azek.. Bisik Kartika dalam hati menyemangati dirinya sendiri.
Reno masih berputar-putar di rak-rak buku bacaan. Membiarkan Kartika membawa beban yang berat dari buku-buku yang di ambilnya.
“hem, Ren. Boleh gue Tanya ?” Tanya Kartika pelan.
“ya boleh. Apaan ?”
“kapan kita mulai buat proposal kegiatannya ? gue udah nggak sanggup lagi nih.” Keluh Kartika mulai merasakan pegal di kedua tangannya.
Mendengar perkataan Kartika, Reno membalikkan tubuhnya ke belakang. Menghadap Kartika yang berdiri tepat di belakangnya. Menatapnya lucu kemudian tertawa sendiri.
Yee.. aneh ni orang lama-lama. Bukannya bantuin gue bawa nih buku, eh malah ketawa-tawa sendiri. Maaf Tika, sini biar gue yang bawa bukunya. Bilang gitu kek ke gue, ngerasa bersalah dikit kek. Eh, kok gue jadi bawa-bawa kakek sih. Huhhh.. ternyata lo sama aja kayak Dicky. Tapi, masih banyakan lo lah baeknya daripada dia.
“duh Tika. Kenapa lo diem aja, coba bilang kek dari tadi. Sini biar gue yang bawa bukunya. Kita ke sana ya.” Tunjuk Reno pada salah satu tempat bacaan yang ada di dalam perpustakaan itu.
Dengan senang hati Kartika memnerikan setumpuk buku yang di bawanya tadi pada Reno. Merasakan kedua tangannya yang telah terbebas dari setumpuk buku dan sekarang membiarkan Reno yang merasakan hal sama.
Kartika mengikuti ajakan Reno. Mengawalnya berjalan dari samping. Takut-takut ada cewek lain yang menggoda cowok yang ia sukai itu. Karna, sejak masuk ke perpusatakaan. Setiap pasang mata tertuju mengarah pada mereka. Menatap dengan penuh rasa ingin tahu yang dalam tentang kedekatan yang terjadi antara Kartika dan Reno. Kakak kelas yang sangat mereka kagumi itu.
Tepat di sebelah Reno, Kartika duduk dengan santai. Walaupun sebenarnya hatinya sejak tadi sudah bercampur dengan perasaan yang tak karuan. Sama halnya yang terjadi saat Reno mengajarinya bermain gitar. Setiap di dekat Reno jantungnya terus berdebar kencang, seperti genderang yang mau perang. Seperti salah satu lirik lagu yang di nyanyikan Ahmad Dani.
Reno menjelaskan dengan sabar, satu per satu isi daftar kegiatan yang ada di dalam salah satu makalah. Memberi tahu tentang inti dan tujuan apa saja yang tekandung dalam kegiatan yang akan di laksanakan nantinya. Sebagai murid yang baik, Kartika mendengarkan penjelasan Reno dengan seksama. Mengembangkan lagi kegiatan yang sudah pernah di laksanakan dengan konsep yang baru dalam pikiran. Hal yang seharusnya ia lakukan. Tapi bukan itu yang di lakukan Kartika. Ia memang mendengarkan dan memperhatikan Reno saat menjelaskan. Akan tetapi ia tidak berpikir tentang cara yang harus ia lakukan untuk mengembangkan kegiatan yang sudah ada. Karna pikirannya sudah berkontaminasi dengan Reno. Wajahnya yang tampan, tutur katanya yang lembut membuat konsentrasi Kartika buyar. Tidak dapat berpikir dengan baik lagi.
Ya Tuhan. Bagitu sempurnanya makhluk ciptaan-Mu yang satu ini. Subhanallah.. ukiran tangan yang tiada duanya di dunia ini. Begitu sempurna. Wajahnya, rambutnya, alis matanya, hidungnya, bibirnya, semua yang telah Kau goreskan di makhluk ciptaan-Mu yang satu ini. Bagiku semua tampak begitu sempurna. Tak ada celah kesalahan yang dapat di kritik lagi. Wauw… tidak bosan-bosannya memandangi kaum adam yang satu ini. Ku rasa ku tlah jatuh cinta padanya. Oh, Tuhan apakah hambamu ini salah ? Gumam Kartika panjang, terus memandangi Reno lekat.
“hem.. Tika ? lo baek-baek aja kan ? lo ngerti nggak dengan yang gue jelasin tadi.” Tanya Reno cepat. Membuyarkan lamunan Kartika tentang dirinya.
“ahh, iya gue ngerti kok. Tika gitu. Tenang semua udah terkonsep di otak gue.” Jawab Kartika terkejut asal menjawab.
“ya udah kalo gitu. Bel udah bunyi, lo masuk ke kelas sana. Entar telat lagi.”
“iya deh. Hemm, terus lo ?”
“gue masih pengen di sini. Palingan ntar Dicky jemput gue ke sini.” Balas Reno merapikan buku yang di ambilnya tadi.
Kartika hanya tersenyum simpul. Meniggalkan sosok yang ia sukai bersama buku-buku yang berserakan di meja. Walapun dengan langkah yang berat, ia pergi meninggalkan Reno atas perintahnya tadi.
Di ruang kelas. Rere dan Nevy sudah menunggu kedatangannya. Kali ini kehadirannya tidak di tunggu oleh Yogi dan tiga comedian gagal. Karna mereka sibuk mengerjakan pr fisika dengan rumus yang sangat panjang, jadi tidak ada waktu untuk menunggu Kartika.
Kartika masuk ruang kelas dan duduk di tempatnya dengan wajah yang berseri-seri riang. Selain itu juga karna, Kartika berbeda dari biasanya. Yang selalu pergi ke kantin bersama mereka setelah bel istirahat berbunyi. Tapi hari ini tidak di lakukannya. Ia malah pergi ke perpustakaan sebelum mengisi perutnya dengan makanan. Melihat hal tersebut, Rere dan Nevy memasang wajah heran tambah aneh samadengan penasaran. Ingin segara mengintrogasi Kartika.
“Tika, lo kenapa sih ? Kok gue perhatiin lo hari ini aneh banget ?” Tanya Nevy memulai introgasinya.
“Iya Tika. Dari awal masuk kelas, lo ngeliatin jam tangan lo terus. Emang jam tangan baru ya Tij ?” Tambah Nevy.
“Nevy, serius nih. Dan kenapa lo tadi langsung ke perpus ? bukannya ke kantin dulu bareng kita, buat makan. Kenapa ?” Ucap Nevy serius, memasang wajah tegangnya.
“hem.. itu ya guys. Gini ya, kan kalian berdua tau tuh kalo kemaren gue di panggil sama pak Prapto. Katanya gue tuh cantik, manis, baek, pinter lagi. Jadi, beliau ngasih tugas ke gue buat jadi ketua panitia penyelenggaraan HUT Kartini di sekolah ini. Terus, ya tadi gue ke perpus buat pelajarin makalah sama proposal kegiatan tentang acara itu.” Jawab Kartika dengan nada sombong yang melebih-lebihkan kata-kata pak Prapto.
“ohhhh..” Sahut Rere dan Nevy kompak.
Dua temannya itu masih menatap aneh kearah Kartika. Tidak seperti biasanya. Kali ini Kartika benar-benar aneh. Tersenyum-senyum sendiri, dan selalu melamun. Seperti sedang memikirkan sesuatu yang sangat penting dan berharga. Hingga kedua temannya yang memanggilnya sejak tadi tidak di perdulikannya.
***
Pukul 14.45. Jam pulang sekolah. Seluruh siswa berhamburan keluar kelas, bersegera untuk pulang. Ada yang menuju parkiran, dan ada juga yang langsung keluar dari sekolah untuk menunggu angkutan umum.
Seperti biasanya Kartika langsung menuju pintu gerbang sekolah. Kali ini dia yang menunggu Dicky. Tidak berselang lama dari kedatangannya di pintu gerbang sekolah. Dicky mengendarai sepeda motornya menuju kea rah Kartika. Kali ini Dicky tidak sendirian, di sebelahnya ada sepeda motor lain yang mengirinya. Sepeda motor yang tak asing lagi baginya. Sepeda motor yang pernah mengantarnya pergi ke sekolah tempo hari.
“Tika, lo pulang sama Reno. Gue masih ada urusan bentar. Nanti gue jemput di rumah Reno.” Ujar Dicky cepat lalu pergi dengan sepeda motornya.
Kartika hanya tertegun mendengar penuturan kakaknya tersebut. Masih berdiri kaku di tampatnya.
“Tika, yuk buruan.” Ajak sosok itu sopan.
Entah mantra apa yang di gunakan sosok laki-laki itu pada Kartika. Hingga dengan tanpa berpikir panjang lagi, ia langsung mengiyakan ajakan sosok itu. Duduk di boncengan motornya lalu memegang erat pinggangnya takut jatuh.
Reno mengendarai motornya santai. Tapi kali ini, jalur yang di lewatinya bukan jalan menuju rumah Kartika. Hingga mereka tiba di sebuah rumah yang sangat mewah.
Kartika turun dari boncengan motor Reno. Berdiri di samping motor besarnya, menunggu aba-aba selanjutnya dari Reno. Pandangannya menyusuri ke segala tempat di sekitarnya. Hingga pandangannya mengarah ke Reno yang sekarang berdiri tegap di sampingnya. Merangkul pundak Kartika erat, membawanya masuk ke dalam rumah mewah itu.
“hem, Reno. Ini rumah siapa ? ngapain kita ke sini ?” Tanya Kartika gemetaran tak sanggup menahan perasaan yang mulai bergejolak tak dapat di kendalikannya lagi.
“ini rumah gue Tik. Kata Dicky lo di suruh maen dulu ke rumah gue, terus nanti dia jemput lo di rumah gue. Udah tenang, anggap rumah sendiri. Okay.” Jawabnya santai.
Kartika menundukkan kepalanya malu. Sorot mata Reno terus menatap ke arah Kartika yang masih berada di rangkulan tangannya. Kartika tak berani menatap sorot mata yang tajam dari sosok yang ia sukai itu. Karna hal itu akan membuatnya pingsan tak sadarkan diri lagi.
Di dalam, sudah menunggu seorang wanita separuh baya di ruang tamu rumah. Menyambut kedatangan mereka dengan hangat dan mengembangkan senyum yang lebar dari bibirnya. Wajah wanita itu tampak cantik dan lebih muda daripada usianya, yang bersekitar 40 tahun lebih.
“eh sudah pulang anak mama. Ini siapa ? cantik sekali. Manis ya Ky, pacar kamu ?” sapa wanita itu ramah.
Mendengar perkataan wanita itu, Kartika langsung menolehkan pandangannya pada Reno. Tak menyadari bahwa sejak tadi, tubuhnya masih dalam rangkulan tangan Reno. Hingga membuat wanita itu berkata demikian. Dengan cepat Kartika melepaskan rangkulan Reno darinya. tapi, usahanya gagal. Karna Reno tak mau melepaskan rangkulannya.
“ehh, bukan tante. Kita Cuma temen.” Jawab Kartika cepat, sebelum terjadi kesalah pahaman.
Haaa.. kenapa lo jawab enggak Tika. Ihh, dodol garut benget deh lo. Harusnya lo bilang. Iya tante saya pacar Reno, anak tante. Gitu doang kok susah Tik. Itu kan hal yang lo tunggu-tunggu Tika. Tapi, entar dulu. Maksudnya gue di bawa ke rumah dia apaa coba ? Pikir Kartika dlam hati kecilnya.
“ah mama. Baru calon pacar ma. Kalo perlu calon istri Reno deh. Hahaha.” Ujar Reno seraya tertawa kecil.
Mata Kartika terbelalak mendengar perkataan Reno barusan. Tak percaya dengan apa yang barusan ia dengar dari mulut laki-laki yang ia sukai diam-diam itu.
“Reno Reno. Tapi, dengan yang ini mama setuju.”
“ya udah ma, Reno titip Kartika dulu sama mama. Reno mau ganti baju.” Ucap Reno melepaskan rangkulan tangannya dan pergi meninggalkan Kartika bersama wanita separuh baya yang di panggilnya dengan sebutan ‘mama’.
Wanita itu mengajak Kartika ke dapur. Menyuguhkan makanan yang telah di masaknya tadi ke hadapan tamunya itu. Tamu yang di sebut-sebut anak laki-lakinya sebagai calon pacar atau calon isrtinya kelak.
Waluapun masih bingung dengan hal yang terjadi. Tapi, dengan senang hati Kartika menikmati hidangan yang di suguhkan oleh ibu Reno kepadanya sebagai tuan rumah. Kartika menyantapnya dengan lahap hidangan yang tesaji di hadapannya. Karna baru pulang dari sekolah, dan sejak tadi belum ada makanan yang enak masuk ke perutnya.
“Wah wah wah… beneran nih kata Dicky, kalo ngajak lo main ke rumah pasti ngabis-ngabisin makanan. Bisa bangkrut deh gue nanti.” Celetuk Reno menghampiri Kartika dan ibunya yang berada di ruang makan.
“ehh enak aja. Tapi, ada benernya juga sih. Mama lo baek banget Ren. Gue betah kalo lama-lama di rumah lo.” Jawab Kartika mulai bisa mengatasi perasaannya.
Ibu Reno yang berada di sekitar mereka hanya tertawa geli melihat keakraban yang terjadi antara anak laki-lakinya dan tamu perempuan anaknya itu. Lalu pamit meninggalkan mereka berdua di ruang makan, menyuruhnya menghabiskan makanan yang tersedia di meja makan.
Reno hanya memandangi Kartika yang masih menguyah makanan di dalam mulutnya yang kecil. Tapi kalau masuk makanan bisa menjadi lebar. Dengan semangat 45 Kartika menghabiskan makanan terakhirnya. Tanpa menyadari bahwa sejak tadi Reno yang duduk di sebelahnya terus manatap ke arahnya.
“udah selesai makannya ?” Tanya Reno sabar.
“Hehe, udah. Kenyang nih. Pengen bobok jadinya.” Jawab Kartika polos.
“hem.. mau lo bobok. Bener juga ya kata kakak lo, lo tuh bisanya Cuma tidur tidur dan tidur kalo nggak tidur nge-browsing di dunia maya. Ahh, udah la. Kakak lo nyuruh gue bawa lo ke rumah gue sekarang tuh, buat bantuin lo buat proposal kegiatan acara Kartini itu. Jadi, yuk kita mulai. Ikut gue !” Tutur Reno cepat, member aba-aba selanjutnya.
Kartika hanya memandanginya kosong. Tak ada yang sesuatu dalam pikirannya sekarang. Hanya terus menatap kea rah Reno yang mulai menjauh darinya. Berjalan di depan sendirian, meninggalkan dirinya yang masih duduk heran di meja makan.
“Tika, buruan sini. Ngapain lo bengong di situ ?” Teriak Reno dari balik dinding yang menyekat ruang tesebut. Hingga sosoknya tak terlihat lagi di kornea mata Kartika.
Seperti biasanya dengan langkah kaki seribu Kartika bengkit dari duduknya lalu menuju arah suara yang memanggilnya tadi. Tak ingin mengecewakan seseorang yang memanggilnya karna menunggu lama.
Langkah kaki Kartika berhenti di tempat yang lain. Di sebuah ruangan yang didalamnya penuh dengan setumpuk buku, bahkan buku-buku itu tersusun rapi di lemari kaca dan kayu yang sangat besar. Di sana terlihat sosok yang memanggilnya tadi. Sosok laki-laki yang sekarang sedang mencari sesuatu di salah satu lemari buku.
“Reno ? ini perpus pribadi lo ya ? keren banget..” Ujar Kartika takjub.
“hah, iya. Tapi, sebenarnya ini semua koleksi buku punya bokap gue Tik. Buku koleksi gue Cuma ada sedikit di sini, banyakan buku bokap. Lumayan lah kalo di kiloin ke tukang loak. Hahaha.” Ujar Reno tertawa irit setelah menemukan buku yang di cari tadi.
Kemudian memberikannya pada Kartika yang berdiri di dekatnya.
“lo pelajari buku itu. Itu contoh proposal kegiatan yang pernah gue buat.”
“punya lo ? berarti lo pernah jadi ketua panitia acara ini dong Ren ?” Tanya Kartika tekejut.
“iya dulu, waktu gue kelas dua. Sekarang di gantiin sama lo. Dan lo harus buat acara yang lebih sukses lagi daripada acara yang gue buat. Okay !”
Ohh.. jadi gitu maksudnya. Kenapa Dicky nyuruh gue nanya sama Reno tentang kegiatan ini. Jadi, Reno dulu pernah jadi ketua panita acara ini juga. Acara kegiatan yang sekarang mau gue laksanain. Tapi kenapa sih, kok acara yang beginian kayaknya penting banget dan harus wauw gitu ? yang sederhana kan juga nggak masalah. Pikir Kartika.
“kalo lo Tanya kenapa ? ya jawabannya Karna, sekolah kita juga ulangtahun di tanggal 21 April bertepatan dengan acara HUT Kartini itu. Yah, walaupun HUT sekolah kita selalu di rayain bareng sama perpisahan kalas XII, nggak bareng sama HUT Kartini. Kenapa acara ini nggak di rayain sederhana aja, itukan yang ada di pikiran lo. Dan jawabannya lagi karna, ya kata pak Prapto dan guru-guru matapelajaran kewarganegaraan acara yang berkaitan dengan hari pahlawan tuh harus di rayain. Karna atas berkat usaha beliau Negara kita bebas dari penjajahan dan sekarang kita bisa seperti ini. Itu katanya. Jadi lo sekarang nggak usah banyak mikir lagi. Yang ada di pikiran lo sekarang hanya kegiatan apa yang harus lo laksanain. Lo pasti bisa, semangat.” Jelas Reno panjang lebar.
Menepukkan kedua tangannya di pundak Kartika, hingga membuat Kartika terbangun dari kahyalannya. Kembali merasakan jantungnya berdebar tak menentu. Menatap dalam pada mata Reno yang terus menatapnya saat berdiri berhadapan.
Suasa menjadi dingin. Seluruh tubuh Kartika mulai kaku, merasakan angin berhembus sepoi di kuduk belakangnya. Reno masih terus memandangi Kartika. Mencari sesuatu dari sinar matanya. Kartika tidak sanggup lagi menahan perasaannya. Membuang wajahnya dari pandangan Reno.
“Hem.. gimana Ren, kalo gue buat acara lomba masak yang pesertanya sepasang. Cewek dan cowok. Atau lomba busana kebaya khas Kartini. Terus lomba ini, ini dan ini..” Tutur Kartika cepat mengalihkan pandangan Reno darinya.
“Hah, oke tuh. Bagus juga. Apalagi kalo di tambah dengan acara musikalisasi puisi, dan acara lain yang mendukung dalam peringatan tersebut.” Tambah Reno kembali fokus dengan topik pembicaraan yang di buat Kartika.
“okeh, gue setuju sama ide lo Ren. Gue catet dulu. Eh tapi buku sama penanya di tas. Gue ambil dulu.” Ujar Kartika membalikkan tubuhnya membelakangi Reno. Melangkan pergi meninggalkannya.
“eh tunggu Tik…” Ucap Reno cepat, menarik tangan kiri Kartika.
Cepat Kartika menghentikan langkah kakinya. Membalikkan tubuhnya lagi menghadap Reno. Dengan jantung yang terus berdebar tak menentu. Keringat dingin mulai membanjiri tubuh Kartika. Hanya majas, bukan seperti yang terjadi sebenarnya.
“Ya Ren ?” Tanya Kartika gemetaran.
“Hem, pake buku sama pena itu aja. Tuh di atas meja.” Lanjut Reno mengarah ke meja yang di atasnya terdapat buku tulis dan pena.
Huft.. gue kirain apaan ? eh Cuma mau ngomong itu doang. Udah mau copot nih jantung gue Ren. Lo pegang tangan gue. Uh senangnya, nggak bakalan gue cuci nih tangan. Biar nggak ilang bekas tangan lo itu. huakakakakk… Guman Kartika tertawa riang dalam hati.
***
Semenjak kejadian tadi siang di rumah Reno. Kartika terus tersenyum-senyum sendiri sambil memegangi tangan kirinya. Seakan sedang membayangkan sesuatu di alam bawah sadarnya. Hingga tidak memperdulikan kakaknya yang sejak tadi terus memanggilnya.
“KARTIKAAAA….. Lo kenapa sih ? sejak pulang dari rumah Reno sampe nih hari udah malam lagi, aneh banget sikap lo gue perhatiin.” Teriak Dicky duduk di sebelah Kartika lalu berteriak di telinganya.
Hingga menbuat selapu gendang telinga Kartika bergetar keras tak kuat menahan volume suara Dicky. Sambil menutup kedua telinganya, takut akan di cemari lagi oleh suara kakaknya. Kartika menoleh kearah Dicky yang duduk di sebelahnya itu. Menatapnya tajam.
“kenapa lagi sih kalian berdua. Kemaren udah akur sekarang ribut lagi. Ada masalah apa lagi Dicky, Kartika ?” Tanya ayah mereka sabar melihat kelakuan kedua anaknya.
“ahh nggak ada kok pa. Dicky aja nih yang kepo. Teriak-teriak di telinga orang, kalo kuping gue budek gimana nanti. Lo mau tanggung jawab apa ?” Jawab Kartika kesal masih melayangkan tatapan tajamnya pada Dicky.
“haha, iya. Gue yang jawab, lo yang naggung. Gimana, deal ?” Ujar Dicky acuh.
“selengean banget sih lo. Bodo ah. Yang penting gue lagi happy.”
“Hem.. kayaknya gue tau deh lo kenapa jadi begini. Pasti lo lagi kas-ma-ran. Hahaha, sama siapa Tik ? Reno ya ?” Mulai Dicky menggoda adiknya.
“sudah-sudah. Dicky, Kartika kalian berdua ribut aja dari tadi. Lagi seru nih filmnya. Hemmm.. Kartika lagi kasmaran ya ? sama siapa Tika, cerita dong sama mama.” Sambung ibu ikut nimbrung dengan dialog antara kedua anaknya itu.
“yeee mama, ikutan kepo deh kayak Dicky. Nggak ada, udah deh Tika masuk kamar aja.” Balas Tika acuh lalu pergi meninggalkan keluarganya yang asyik menonton tv.
Dari wajah Kartika terpancar rona bahagia. Kedua pipinya menjadi merah dan terasa hangat saat di sentuh tangannya sendiri. Kartika duduk di tempat tidurnya. Mencoba kembali mengulang kejadian saat di rumah Reno dalam memorinya. Hingga membuatnya tersenyum-senyum sendiri di kamar.
Ahhh.. gue seneng banget hari ini. Yah walaupun Reno Cuma pegang tangan gue, ngerangkulin tangannya ke pundak gue dan ngomong ngasal sama nyokapnya kalo gue calon pacarnya. Tapi, gue seneng banget. Coba aja kalo tiap hari setiap pulang sekolah gue bisa main ke rumah dia. Haha, asik juga tuh. Ketemu sama camer terus. Huakakak. Sayangnya, Cuma selama gue buat proposal kegiatan HUT Kartini aja. Kalo udah selesai, ya udah gue nggak bisa lagi deket-deket sama dia apalagi main ke rumah dia. Huft.. Ada untungnya juga gue di tunjuk untuk jadi ketua panitia acara ini. Kalo nggak, gue pasti nggak bakalan bisa ngerasain kejadian yang kayak tadi siang. Hohoho. Lamun Kartika menghantarkannya tidur.
***
Jam beker berbunyi keras, hingga membangunkan Kartika dari mimpi indahnya. Tangannya menggapai jam yang terus berdering di samping tempat tidurnya. Dengan mata yang masih sangat berat untuk di buka, Kartika mencoba melihat arah jarum itu yang terus berputar walaupun terlihat samar-samar di matanya.
Pukul 07.10 wib. Kelopak matanya yang tadi sulit untuk terbuka, sekarang dapat melihat jelas arah jarum jam yang di peganggnya. Sampai-sampai bola matanya yang kecil itu seakan ingin keluar dari rongganya.
“MAMAAAAAA…. Kenapa Tika nggak di bangunin sih ? Tika ke siangan nih !” Teriak Kartika kencang.
Menggetarkan seluruh isi rumahnya dengan teriakannya. Mendengar teriakan anaknya itu ibu langsung masuk ke kamar anak gadisnya, melihat keadaannya yang mungkin dalam keadaan yang tidak baik-baik saja.
“Kamu kenapa Tika ? pagi-pagi udah teriak-teriak aja.” Tanya ibu heran.
“mama nih. Udah jam setengah delapan nih. Kenapa Tika nggak di bangunin ? Tika jadi telat kan pergi sekolahnya.” Keluh Kartika masih linglung.
Mendengar alasan anaknya yang berteriak memanggilnya tadi, ia hanya tersenyum geli. Menyembunyikan gelak tawanya yang sebentar lagi akan menggeludak keluar.
“duh Tika. Benar ya kata kakak kamu semalem, kalo kamu itu lagi kasmaran. Ini hari minggu Tika, tuh tanggal di kalender aja warnanya merah, besok baru hitam lagi. Tika, Tika. Mama kirain ada apa.” Jawab ibu tertawa geli tak sanggup menahan tawanya.
Sekarang tinggallah Kartika sendirian di kamarnya. Mencoba menjernihkan pikirannya lagi setelah mendengar jawaban dari ibu tadi. Bahwa hari ini adalah hari minggu bukan hari senin, selasa, rabu, atau yang lainnya. Kartika hanya tersenyum-senyum sendiri dengan sikapnya yang barusan itu.
Hahaa. Bener ya mungkin kalo gue lagi kasmaran. Sampe-sampe gue lupa hari. Eh, ntar dulu kalo ini hari minggu berarti tadi malam, malam minggu ? ulang tahunnya Tiwi. Dan gue lupa, gue nggak ngasih ucapan selamat sama dia. Berarti gue nggak lagi juara 1, sebagai orang yang selalu ngucapin met ultah sama dia. Ya Tuhan… kenapa gue sampee lupa. Jahat banget gue.. maaf Tiwi. Gumam Kartika menyesal.
Pukul 07.30 wib. Kartika duduk di ruang keluarga, menghampiri kakaknya yang sedang asyik nonton film kartun ke sayangannya.
“lo lagi. Pasti belum mandi ?” Tanya Dicky asal, tidak memalingkan pandangannya dari layar televise.
“enak aja. Gue udah mandi tau. Udah wangi nih. Emangnya lo, yang nonton terus. Udah gede nontonnya film kartun. Shinchan lagi. Duhhh.” Balas Kartika tak mau kalah.
“huh biarin. Udah sana pergi aja lo ah. Gangguin gue. Shinchan tuh lebih lucu lagi daripada lo.”
“ye.. masih lucuan gue lagi. Udah cantik, pinter, manis, imut lagi. Nggak kayak Shinchan tuh, oon-nya kelewatan. Yah sih, harap maklum aja. Kan masih anak TK. Haha..” Komentar Kartika meremehkan.
“ihh lo rehe ya. Ya lo lebih imut daripada shinchan, item-item mutung. Pergi sana, nggak khusuk nih nontonnya.” Usir Dicky kesal.
“nggak mau ah.. gue disini aja nemenin lo. kan gue sayang sama lo.”
Dicky tidak memperdulikan kata-kata Kartika. Ia kembali fokus dengan tontonannya yang hanya berdurasi 30 menit itu. Jangan sampai ada satu adegan yang tertinggal sedikitpun, hanya karna Kartika di dekatnya.
Melihat sikap kakaknya yang mulai acuh dengan keberadaannya. Kartika kembali mengambil inisiatif untuk langsung menanyakan sesuatu pada kakaknya itu. Tujuannya awalnya mendekati Dicky.
“Ky, gue boleh minta nasehat nggak ? gue ngerasa bersalah banget nih sama temen gue.” Ujar Kartika memulai pembicaraan yang tadi sempat terpotong.
“hah, tumben lo mau minta nasehat gue. Biasanya kan kalo gue kasih nasehat lo cuek-cuek aja. Dan lo selalu ngerasa yang paling bener dan yang terbaik.”
“Ky, gue mohon. Please, gue nggak tau harus ngomong apa sama dia. Bantuin gue dong cari kata-kata.” Mohon Kartika memelas.
“hem, ya deh gue bantu. Emang apaan sih, yang buat lo segitu nyeselnya ?” Tanya Dicky perduli.
Sabar Dicky menunggu cerita lengkap dari adik perempuannya itu.
Arti 17.
“gini Ky. Best friend gue dari kelas satu smp sampe kemaren sebelum gue pindah sekolah. Malam tadi dia ulangtahun yang ke-17. Terus gue di undang ke acara pestanya semalem di asrama sekolah. Tapi, tadi malem gue nggak ingat banget sama ultah dia. Terus nggak mungkin juga kan gue balik ke asrama sekolah, udah jauh di luar kota dan mama sama papa pasti nggak ngijinin. Dan gue nggak ngucapin selamat sama dia. Gue sedih Ky, dia pasti kecewa banget sama gue.” Curhat Kartika.
“Cuma itu doang toh. Kirain apaan banget sih, Cuma ultah 17 tahun. Ya, lo sekarang kasih ucapan met ultah lah sama dia dan kasih tau alasan yang sebenarnya kenapa lo telat ngasih ucapan met ultah sama dia. Gitu aja repot.” Nasehat Dicky simple.
Kartik mincibir bibirnya, mendengar nasehat bijak yang ingin ia dengar dari kakak laki-lakinya. Tapi sangat mengecewakannya dirinya, berbeda dari apa yang ia harapkan sebelumnya.
“Kok lo gitu sih Ky. Gue pengennya sih gitu. Tapi lo liat situasi dan kondisinya dong. Dia pasti marah banget sama gue. Maksud gue tuh, lo kasih saran kek ke gue biar dia nggak marah sama gue. Gitu !” Tutur Kartika kesal hingga mengeluarkan kata-kata andalannya ‘kek’ bukan ‘kakek’.
Sejenak Dicky merenung. Dengan gayanya yang khas saat berpikir. Memegangi dagunya yang panjang dengan tangan kanannya dan menumpunya dengan tangan kiri yang lingkarkan di perut.
Lama Dicky merenung. Entah apa yang sedang ia pikirkan. Kartika mulai tidak sabar dengan kakak laki-lakinya itu.
“Eh, Ky. Lo ngapain sih ? mikir gitu doang lama amat.” Celetuk Kartika mengganggu konsentrasi Dicky.
“Gue lagi mikir, tunggu bentar. Gue cari wangsit dulu.” Jawabnya kemudian setelah berpikir lama.
Dengan sabar Kartika menunggu lagi lanjutan jawaban dari pertanyaannya tadi.
“Hem.. apa ya ? Gue nggak dapet wangsit nih. Semua jawabannya ada di diri lo sendiri. Gue yakin dia pasti terima alasan lo, asal lo nggak buat cerita yang ngasal.” Lanjut Dicky.
Sekali lagi, Kartika mengerutkan dahinya. Belum mendaptkan jawaban yang memuaskan batinnya.
“Belum ngerti juga lo. Duh Tika, katanya lo hebat, pinter dan slalu dapat grade. Kemana grade lo tuh.” Sorot mata Dicky mengarah pada adik perempuannya yang masih memasang wajah pilon.
“Gini ya Tika. Ada nggak adanya lo di pesta itu sama aja kan ? Dari dulu sampe lo belum pindah ke sini, kalian selalu bertemu dan selalu ngerayain ultah sama-sama. So, it’s oke lah kalo untuh party birthday-nya dia yang ke-17 ini lo nggak bisa dateng. Selain jauh, mama sama papa pasti nggak ngijinin lo pergi ke sana. Toh, di tahun-tahun belakangan kan kalian selalu sama-sama, dan pastinya kalian have fun bukan. Kalo emang dia udah masuk usia 17 tahun, dia pasti tau situasi lo gimana sekarang..” Terang Dicky sabar.”
Kartika hanya menganggukkan kepalanya pelan. Entah apa yang ada di pikirannya sekarang. Mengerti dengan penjelasan kakaknya atau malah sebaliknya.
Setelah mendapat jawaban atas pertanyaannya, Kartika meninggalkan kakaknya sendiri di depan televisi. Begitupun sebalikanya, melihat Kartika yang pergi dengan sendirinya ia kembali melanjutkan tontonannya yang sempat tertunda beberapa menit.
***
Malam menjelang. Kartika memilih untuk tetap berada di kamarnya daripada berkumpul bersama di ruang keluarga untuk menonton televisi. Setelah mendapat jawaban atas pertanyaannya tadi pagi, Kartika segera melakukan apa yang di sarankan kakaknya.
Seperti biasanya, Kartika di temani laptop kesayangannya selain handphone android-nya. Mengetik sesuatu di papan keyboard dengan jari jemari yang lincah menari di atasnya.
To : ciiebolobolosyabalalapratwitwit (Pratiwi)
From : HoneyBeeAnjoengeong (Kartika)
Tiwi.. Gue minta maaf banget sama lo. Gue telat ngucapin met ultah buat lo. Sekali lagi MAAF Wi, gue lupa banget. Bukan karna gue udah lupa sama lo, tapi gue lagi ada tugas dari sekolah. Jadi, gue sibuk banget hari-hari ini buat ngerjain proposal kegiatannya.
Kalo lo nggak mau maafin gue nggak apa-apa kok Wi. Gue tau gue udah ngecewain lo banget. Tapi, gue mau ngucapin congrates buat lo, wish you all the best to me. You’re my best friend, now and forever. If ten people care of you, one of them is me. If one people care of you, that would be me again. If no one care of you, that mean I’m not in this world.
Love,
Tika
Hebus napas kecil Kartika setelah mengirim pesan yang di ketiknya barusan. Sembari beharap sahabatnya itu akan membalas pesannya dan memberi maaf untuknya. Lamun Kartika panjang, menanti pesan balasan dari sahabatnya itu.
Please Wi, bales message gue. Gue harap banget lo bales message gue itu. sebagai tanda lo mau maafin gue. Maafin gue Wi. Pinta Kartika berharap.
Setelah menunggu beberapa menit, cahaya layar laptop yang tadi redup sekarang kembali bercahaya terang. Satu pesan masuk di inbox Kartika. Dengan hati yang berdebar, Kartika melihat pesan yang di terimanya. Berharap itu adalah balasan dari pesannya yang di kirim pada Pratiwi tadi.
To : HoneyBeeAnjoengeong (Kartika)
From : ciiebolobolosyabalalapratwitwit (Pratiwi)
Yes Tika, gue harap maklum dengan keadaan lo sekarang. Gue maafin lo kok. Tapi ada syaratnya. Gimana ?
Tapi, sebelum itu gue mau cerita banyak sama lo. Sebagai gantinya lo harus dengerin semua cerita gue, dari a sampe z. Okey ! Dan kayaknya ini bukan waktu yang tepat Tik, gue masih belajar di barak. Nih aja gue lewat hp bales e-mail lo. Maling-maling pegang hp dari buk Lora. Lo tau lah buk Lora tuh gimana orangnya. Udah dulu ya Tik, besok pagi gue sms. Bye.
Pancaran wajah Kartika berubah seketika membaca pesan yang di terima itu. Perasaannya berubah senang setelah medapat balasan dari sahabatnya, tanda permintaan maafnya di terima. Walaupun ada satu syarat yang harus ia penuhi. Tapi demi sahabat karibnya itu, apapun akan di lakukan Kartika demi mendapat permintaan maafnya.
Setelah mendapat jawaban yang pasti, Kartika membalas lagi pesan yang di terimanya barusan. Kemudian mematikan laptopnya, bergegas menemui kakaknya.
“Ma, Dicky mana ?” Tanya Kartika menanyakan keberadaan kakaknya yang tidak ada di tempat itu.
“di teras depan.” Jawab mama singkat.
Kartika berjalan santai di iringi senandung nada yang keluar dari mulutnya. Menghampiri kakaknya yang duduk merenung sendiri di teras depan. Menatap langit malam itu yang di penuhi dengan cahaya kelap-kelip dari bintang malam.
Dari raut wajahnya, Kartika menebar senyum sumringah kepada kakaknya. Duduk di sebelahnya, memandangi wajah kakaknya dalam.
“ngapain lo liat-liat gue ? cari masalah lo.” Kesal Dicky melihat tatapan aneh dari mata adik perempuannya.
“yee, gitu aja marah. Emosi banget sih lo, lagi dapet ya ?” Jawab Kartika bergurau.
“enak aja, emangnya gue lo apa. Gue tau maksud lo ke sini, pasti ada sesuatunya kan. Kenapa lagi sih, lo kok nggak bisa benget liat kakak lo yang ganteng ini bertafakur. Sukanya ngintilin mulu. Risih tau.”
“Hehe, gue kan sayang sama lo makanya gue ke sini mau nemenin lo. Dan pastinya, ada udang di balik bakwan dong.”
“lo kira bakwan. Apaan lagi sekarang ? lo mau curhat lagi sama gue. Maaf sekarang gue lagi nggak terima pasien curhat, udah tutup pendaftarannya tadi sore.”
Kartika diam sejenak, tak merespon kata-kata kakaknya. Menatap bintang yang bercahaya terang di langit malam itu. Walupun jauh dan hanya bersinar karna mendapat pantulan cahaya dari matahari, tapi ia tampak indah di langit malam. Mengelilingi dan menemani rembulan malam, menghangatkan suasana malam yang dingin.
“Ky, saran lo tadi pagi itu bener ya. Tiwi nggak marah sama gue, dia mau maafin gue. Tapi tetep aja pake syarat. Yah, Cuma dengerin cerita dia aja sih, tapi kayaknya cerita dia yang ini bakal buat gue iri deh Ky. Terus gimana dong ?” Tutur Kartika bercerita.
“Hem belum lagi dia cerita sama lo. Tapi lo udah buat kesimpulan yang negative buat dia. Katanya best friend, kok gitu sih sikapnya. Yang fear dong, dia udah maafin lo dan sebagai gantinya lo juga harus nurutin apa yang dia mau dari lo. Itung-itung sebagai tanda permintaan maaf lo lah ke dia.” Nasehat Dicky dewasa.
“Gitu ya Ky. Kalo menurut lo arti usia 17 tuh apa sih Ky ? kan lo udah pernah ngerasain ummur 17 tahun dan gue belum.”
“17. Itukan tanggal kemerdekaan Negara kita, Negara Kesatuan Republik Indonesia.” Jawab Dicky mengelak.
“gue serius Ky !”
“gue dua rius lagi nih.”
Wajah Kartika berubah horror. Kedua pipinya di gebungkan dengan kedua alis matanya di tekuk ke dalam, sehingga bertemu. Karna merasa bertanggung jawab kepada adiknya. Sebagai kakak, Dicky membimbing adik perempuannya yang masih labil itu. Memberi jawaban atas pertanyaan yang di ajukan kepadanya.
“Usia 17. Cuma ada angka 1 dan angka 7. Jadi apa artinya. Biasa-biasa aja, nggak ada sesuatu yang mistis tuh. Tapi, kalo bagi gue arti angaka 1 dan 7 tuh berarti banget. Angka 1 untuk diriku sendiri dan angka 7 untuk tujuh hal baru yang membuat diriku lebih dewasa.” Tutur Dicky bijak.
Mendengar jawaban dari Dicky yang membuatnya kembali bingung, Kartika terdiam sejenak. Mencoba berpikir, mencari tau maksud dari kata-katanya itu.
“Maksudnya Ky ? gue masih belum ngerti dengan kata-kata lo barusan.” Tanya Kartika bingung.
“pikir aja sendiri. Lo tuh belum pantas masuk usia 17, gitu aja nggak tau. Kalo lo udah ngerasain yang namanya usia 17 lo pasti tau maksud gue. Temen-temen lo yang udah 17 pasti tau maksud gue.” Terang Dicky acuh, lalu pergi meninggalkan tempatnya.
Ia hanya melihat kakaknya yang berlalu dari hadapannya. Masih bingung dengan ungkapan yang di katakan Dicky padanya. Kemudian kembali menatap langit malam yang saat itu masih di penuhi bintang. Mencoba bertanya pada salah satu bintang akan kata-kata Dicky tadi padanya.
17.Emang bener Cuma ada angka 1 dan 7 yang menyusunya. Tapi maksud dari angka 1 dan 7 tuh apa ? Enak aja Dicky ngatain gue belum pantas masuk usia 17. Padahal tinggal seminngu lagi ultah gue yang ke-17. Dan gue harus buktiin sama dia kalo gue pantas ngerasain usia 17 tahun. Gue bakal cari tau maksud dari kata-katanya itu. Awas lo Ky, gue bukan anak kecil lagi. Semangat Kartika dalam hati.
***
Jam Istirahat sekolah. Kartika dan dua temannya Rere dan Nevy memilih untuk menghabiskan waktu istirahat di kantin sekolah. Seperti biasanya, mereka mengisi perut mereka dengan makanan yang di jual di kantin sekolah.
“Hey, gue mau nanya sama kalian ?” Tanya Kartika cepat.
“apaan Tik ?” Jawab Rere dengan mulut yang masih penuh dengan makanan.
“Kalian tau arti usia 17 ? angak 1 untuk diriku dan angka 7 untuk tujuh hal baru yang membuat diriku lebih dewasa.” Tambah Kartika.
Dua temannya yang tadi sibuk menguyah makanan yang ada di mulut, dengan kompak langsung menelannya. Berpikir sejenak untuk menjawab pertanyaan Kartika, agar tidak mendapat sanggahan darinya.
“Angaka 1 ya emang untuk diri lo sendiri Tik. Kalo angkan 7 ya juga untuk tujuh hal baru yang akan membuat diri lo lebih dewasa lagi. Contohnya ya, dapet temen baru kayak kita berdua. Ya nggak Re.” Jelas Nevy dewasa.
“Iya bener tuh. Yah walaupun gue belum berumur 17 tahun, tapi gue tau maksudnya. Tujuh hal baru yang akan membuat diri lo lebih dewasa itu. Salah satunya dapet temen baru. Selain dari kita berdua, temen baru lo ya dapet KTP, SIM dan kartu ATM. Itu barang-barang baru yang bakal nemenin lo sepanjang usia lo.” Tambah Rere setuju.
Kartika menyimak serius penjelasan teman-temannya, tanpa menyanggah sedikitpun penjelasan mereka. Memahami dan mengartikan maksud tujuh hal baru yang akan membuat dirinya dewasa.
“Terus apa lagi selanjutnya ? masih eman lagi.” Celetuk Kartika menanti jawaban selanjutnya.
Rere dan Nevy saling pandang, kemudian bersamaan memandang Kartika aneh. Sekarang mereka berdua yang merasa pintar daripada Kartika. Yang biasanya selalu di remehkan Kartika dalam berbagai hal.
“Karna udah punya KTP, jadi lo punya tagas baru. Ikut nyumbangin suara lo dalam pemilu. Selain itu lo juga harus mempunyai cara berpikir yang baru. Jangan selalu berpikir negative dan merendahkan kemampuan orang lain.” Ujar Nevy menambahkan.
“Lebih mandiri, lebih bisa mengendalikan emosi lo lagi dan pastinya lo akan mendapat tantangan baru di usia 17.” Ucap Rere menambahkan jawaban Nevy.
Sekarang Kartika mendapat jawaban akan tujuh hal baru yang akan membuat dirinya lebih dewasa. Tapi, setelah menghitung jawaban yang di katakan teman-temannya. Ternyata masih ada satu lagi jawabannya yang ingin dia dengar untuk melengkapi tujuh hal baru itu.
“Terus satunya lagi apa Re, Vy ? baru eman.” Kartika penasaran.
“lo yakin Tik ? tapi kayaknya lo nggak akan bisa deh dapetin yang satu ini.” Remeh Nevy.
“apaan emang ?”
“Udah boleh pacaran. Kan udah 17 tahun Tik, pastinya udah boleh punya pacar.” Tambah Rere semangat.
Mendengar jawaban yang di katakan Rere, Kartika langsung mengerutkan dahinya kesal. Perkataan Nevy yang seolah-olah meremehkan dirinya. Tapi Kartika tidak mabil pusing akan hal itu, karna sekarang ia sudah mendaptkan jawaban dari penuturan kakaknya tentang arti usia 17 tahun baginya.
Mendapatkan jawaban akan arti usia 17, Kartika merasa senang. Hingga dalam perjalannya menuju ruang kelas, ia tak menyadari bahwa ada seseorang yang menghadang jalannya. Menatap Kartika tajam dengan sorot mata yang sinis. Seakan ingin menerkam Kartika yang saat itu berjalan bersama dua orang temannya tertawa riang.
Dengan sengaja kaki seseorang yang menatap Kartika itu, menjagal langkah kaki Kartika hingga membuatnya terjatuh. Bertekuk lutut di hadapan gadis itu dan dua temannya yang berdiri di belakangnya. Lalu menatapnya sinis merendahkan.
Kartika bangkit dari jatuhnya menahan rasa sakit di lututnya. Di bantu kedua orang temannya yang khawatir dengan keadaanya. Ia berdiri tegap, membuang jauh-jauh rasa sakit yang menderanya. Kembali menatap sosok seorang gadis di hadapannya dengan tatapan marah. Menghiraukan tatapan sinis kedua teman gadis itu. Tidak mengerti maksud dari perbuatannya, yang menjagal Kartika. Dengan gaya Kartika yang khas, ia memaki gadis yang berdiri angkuh di hadapannya.
“Maksud lo apa jagal kaki gue ? cari masalah lo sama gue ?” Bentak Kartika marah.
“Hah, nggak salah ngomong lo ? Lo yang cari masalah sama gue ! Harusnya gue yang ngomong gitu ke lo !” Balasnya garang.
Kedua teman Kartika yang berdiri di belakangnya, menarik tangan Kartika bersebelahan. Mencegahnya untuk meladeni sosok gadis yang ada di hadapannya itu.
“Tik, udah deh. Lo masih inget kan sama kakak kelas yang tempo hari ribut sama lo di kantin. Ini orangnya, dia kak Sonia.” Bisik Rere pelan.
Mendengar penuturan dari Rere, emosi Kartika yang tadi menggeludak tiba-tiba padam untuk sejenak. Mengingat kembali cerita yang pernah ia dengar tentang sosok gadis yang sekarang berdiri angkuh di hadapannya. Dalam benaknya, setelah mengetahui bahwa gadis itu bernama Sonia. Ia langsung teringat tentang Reno. Sosok laki-laki yang sekarang menjalin kedekatan dengannya. Menghubungkan antara kisah Reno dengan Sonia.
The second problem with class sister.
Oh, jadi ini yang namanya Sonia itu. Gue lupa orangnya, tapi namanya masih jelas banget di ingetan gue. Cewek yang pernah cari ribut sama gue di kantin kemaren. Dan satu lagi, cewek yang pernah hadir di kehidupan cowok yang gue sayang, Reno. Lo yang pernah ngecewain perasaan Reno. Lo yang pernah buat dia patah hati. Dan lo juga yang buat catatan hitam di kisah hidup dia. Jadi cewek nggak punya perasaan banget sih lo ! Gumam Kartika menghujat Sonia.
Sorot matanya yang tajam tak lepas dari sosok yang berdiri angkuh di hadapannya. Kartika terus memandanginya. Menghujatnya kesal dengan hal yang pernah ia lakukan pada laki-laki yang ia sayangi. Ingin rasanya Kartika melayangkan tangannya yang kecil ke pipi Sonia. Melukis gambar tangannya di pipinya yang mulus.
“Kenapa lo ngeliat-liat gue ? Nggak terima lo, mau bales. Bales aja gue nggak takut sama lo !” Celetuknya angkuh.
“Anak baru aja udah sombong lo. Nggak nyadar lo sekarang berhadapan sama siapa hah !” Sambung salah satu temannya.
Bukan Kartika namanya kalau tidak membantah kalimat seseorang yang membuatnya marah. Meladeni ketiga kakak kelasnya yang angkuh dan berbuat semena-mena terhadapnya.
“Hah. Sama kalian ? Gue takut ? Nggak tuh ! Gue nggak ada salah sama kalian, jadi kenapa gue harus takut. Harusnya kalian yang takut sama gue. Karna gue bukan orang yang pengecut kayak kalian yang beraninya main keroyok doang.” Balas Kartika menantang.
“Oh gitu. Jadi lo masih belum ngerti salah lo apa ? Nih ya gue bilangin sama lo ! Lo tuh jangan kegatelan sama Dicky terutama Reno. Lo masih baru di sini. Adek kelas lagi, nggak ada apa-apanya lo sama kita yang udah senior di sini. Jadi mendingan lo jauhin mereka berdua !” Bentak Sonia menjelaskan.
Mendorong tubuh Kartika kesal. Hingga membuatnya mundur kebelakang mengenai Rere dan Nevy yang berada di belakangnya. Kartika tidak terima dengan perbuatan Sonia terhadapanya. Dan balas mendorong tubuh Sonia.
“Heh. Lo denger ya ! Lo tuh bukan siapa-siapanya mereka berdua. Lo tuh Cuma cewek yang nggak punya perasaan, yang bisanya Cuma buat orang sakit hati dengan tingkah lo yang kenak-kanakan itu ! Terserah gue mau deket sama siapa, Dicky, Reno. Itu urusan gue. Jadi lo jangan ikut campur. Lo tuh Cuma mantan Reno ! Nggak lebih dari itu.” Teriak Kartika emosi.
“Lo yah ! Berani lo ngomong gitu ke gue. Jangan sotoy deh lo.” Garang Sonia kesal.
Mendengar perkataan Kartika yang asal berujar tentang dirinya. Tangan kanannya yang tadi di genggamnya erat, tiba-tiba terbuka lebar dan menghampiri pipi kiri Kartika. Hingga tertinggal bekas merah cap tangan Sonia di pipinya.
Mendapat lukisan tangan Sonia di pipinya. Kartika merasakan pedar di pipinya dan memeganginya. Matanya merah dan berkaca-kaca menatap sosok Sonia yang masih berdiri angkuh di hadapannya. Dua temannya yang berdiri di belakang tubuhnya, menatap Kartika cemas menahan tubuhnya yang mulai goyah. Takut terjadi sesuatu hal yang mengerikan akan di lakukan Kartika untuk membalas perlakuan Sonia terhadapnya.
“Lo jadi cewek jangan ngasal ngomong. Punya mulut tuh coba di jaga. Enggak pernah di ajarin sopan santun apa sama orangtua lo di rumah !” Tambah Sonia membeludak.
Dua teman Sonia yang berada di belakangnya menahan tubuh Sonia. Takut terjadi sesuatu, yang akan membuat mereka berusrusan dengan guru BP. Karna, beberapa murid lain mulai mengerumuni mereka.
Kartika melangkahkan kakinya mendekati Sonia. Melepaskan genggaman tangan kedua temannya yang menopang tubunya.
“Lo ! Yang nggak di ajarin sopan santun sama orangtua lo ! Katanya udah senior tapi ngasih contoh yang nggak bener sama juniornya. Senior apaan lo ! Lo dan dua temen lo tuh, percuma aja sekolah. Nggak ada tampang orang berpendidikan, tertutama lo !” Balas Kartika murka, melayangkan tangan kanannya tepat di pipi kanan Sonia.
Hingga membuat Sonia ikut merasakan apa yang di rasakannya tadi. Suasa manjadi tambah panas dengan banyaknya siswa yang mengerumuni mereka. Dengan cepat Rere dan Nevy menarik kembali tangan Kartika, menjauhkannya dari Sonia. Begitu pula yang di lakukan dua sahabat Sonia terhadapnya.
Kedatangan guru BP ke tempat kejadian perkara membuat murid yang tadi berkerumun bubar barisan. Wajah guru itu tampak merah menahan amarahnya. Lalu membawa Kartika dan Sonia beserta empat temannya yang melerai pertengkaran mereka ke ruang BP.
Kartika dan Sonia masuk ruang BP, berhadapan dengan guru yang akan memproses keributan yang mereka buat di koridor sekolah tadi. Sedangkan keempat temannya, di persilahkan masuk ke kelas untuk mengikuti jam KBM. Setelah sebelumnya mendengar penjelasan dari saksi di sekitar kejadian, guru BP langsung membuat keputusan untuk menjatuhkan hukuman keada Sonia. Karna menurut desas-desusnya, Sonia-lah yang membuat masalah terlebih dahulu kepada Kartika. Sedangkan Kartika tidak mendapat hukuman, karna ia di panggil oleh Pembina OSIS untuk membahas kegiatan yang akan di laksanakan pada tanggal 21 april mendatang.
***
Jam pelajaran telah selesai. Seluruh murid telah mengikuti jam KBM di sekolah dengan sempurna, terkecuali Kartika. Karna tadi ia harus berurusan dengan guru BP dan Pembina OSIS.
Ruang kelas XI IPA 2 sudah sepi. Kartika masih berada di ruang kelas, wajahnya tampak lelah. Kepalanya tertunduk lemas, duduk di tempatnya. Membayangkan hal yang terjadi beberapa jam sebelumnya. Pertengkaran yang terjadi antara dirinya dan Sonia di koridor sekolah, hingga membuatnya harus berurusan dengan guru BP. Untuk pertama kalinya, Kartika harus berhadapan dengan guru BP karna tersangkut masalah, yang belum pernah tejadi sebelumnya di sekolah terdahulu.
Terdengar langkah kaki seseorang menghampirinya. Kemudian berhenti, berlutut di sebelahnya. Kepalanya masih tertunduk lemas, mencoba manatap sosok yang berlutut di sebelahnya. Wajahnya berubah cemas, jantungnya berdegup kencang memompa aliran darahnya ke seluruh tubuh cepat.
“Lo kenapa Tika ? Apa yang terjadi sama lo ?” Tanya sosok laki-laki itu sabar.
Kartika kembali menundukkan kepalanya, memalingkan wajahnya dari sorot mata yang terus memandanginya. Tak menjawab pertanyannya.
“Lihat gue Tik ! Lo kenapa ? jawab pertanyaan gue.” Bujuknya lagi.
“Gue nggak kenapa-kenapa kok. Gue baek-baek aja.” Jawab Kartika pelan.
Suaranya terdengar serak menahan air matanya agar tidak jatuh membasahi pipinya. Sosok laki-laki itu masih menatapnya dalam. Mengarahkan wajah Kartika untuk menghadap kepadanya dengan tangan kanannya. Memastikan keadaan Kartika yang sebenarnya.
“Lo bohong Tik. Jawab yang bener pertanyaan gue, lo kenapa ? Pipi kanan lo merah.” Pintanya keras.
Ia tak sanggup lagi menutupi perasaan hatinya. Air matanya jatuh berderai membasahi pipinya. Dengan kepala yang kembali tertunduk Kartika menahan tangisnya agar tidak terdengar orang lain.
“Maafin gue Ren, gue yang salah. Harusnya gue nggak kepancing dengan kata-katanya Sonia.” Tutur Kartika terbata.
Reno hanya tersenyum simpul mendengar penuturan Kartika terhadapnya. Mengahapus air mata Kartika yang jatuh di pipi Kartika dengan tangannya.
“Hem. Lo kenapa sih ? Udah deh, lo nggak usah minta maaf sama gue. Lo nggak ada salah sama gue. Harusnya lo minta maaf sama Dicky tuh. Dia udah nunggu lo lama di depan, tapi lo nggak muncul-mucul. Jadi gue yang ke sini buat nyari lo, eh lo nya malah kayak gini.” Balas Reno menenagkan.
Ternyata Reno nggak tau kejadian tadi siang. Jadi dia nggak tau masalah yang terjadi antara gue sama mantan dia, Sonia. Alhamdulillah. Jadi gue masih aman. Gue kira dia tau. Tapi kenapa gue nangis ? Nggak jelas banget sih lo Tik. Lamun Kartika dalam hati.
“udah yuk kita pulang. Jangan nangis lagi dong. Entar di kira anak-anak gue yang buat lo nangis. Udah ya, gue nggak punya permen Tik.” Ujarnya humor.
Kartika tersenyum, tertawa kecil mendengar perkataan Reno yang sedikit menghibur dirinya. Masih menyembunyikan perasaan yang sebenarnya dari Reno.
Reno bangkit dari simpuhnya, berdiri di tegap di hadapan Kartika. Kemudian mengulurkan tangannya, mengajak Kartika pergi dari tempatnya berada sekarang. Senyum Kartika mengembang lebar dari bibir tipisnya, menerima uluran tangan Reno. Berjalan beriringan dengan sosok laki-laki yang ia suka dan ia sayang. Berharap tak ada lagi sosok Sonia di sekitar mereka, yang akan melepaskan gengaman tangan Reno darinya.
Dalam perjalanan menuju pintu gerbang sekolah. Terdengar suara seseorang memanggil sosok yang berada di samping Kartika. Hingga membuat sosok itu melepaskan genggaman tangannya. Berjalan menuju arah seseorang yang memanggilnya. Lalu hilang di balik dinding pembatas, masuk ke dalam sebuah ruang.
“Tik, lo tunggu di sini bentar. Gue ada urusan dikit. Oke !” Ujar Reno, lantas pergi.
Kartika hanya menganggukkan kepalanya pelan. Tanda menyetujui perintah yang diberikan padanya. Ia memalingkan pandangannya, menatap jauh ke sekitar tempatnya berada. Hingga pandangannya berhenti saat menemukan sesuatu di kejauhan. Perlahan tapi pasti sosok yang di lihatnya dari ke jauhan itu menuju ke arahnya cepat. Tap tap tap. Beberapa langkah kakinya berjalan cepat kemudian. Berhenti di hadapan Kartika yang berdiri kaku. Menatap sosok yang di hadapannya dingin.
Teringat kembali kejadian beberapa jam yang lalu. Saat sosok itu melayangkan tangannya tepat mendarat di pipi kanannya. Hingga sampai sekarang bekas tangan itu masih tergores jelas di pipi Kartika. Memberi efek warna merah bergambar tangan.
“Mau ngapain lagi lo ? Masih belum puas dengan kejadian tadi siang hah !” Ucap Kartika dengan nada sengak.
Sosok itu kembali menatap Kartika dengan tatapan yang sama saat mereka bertemu di koridor sekolah. Sorot mata yang tajam, penuh rasa dendam.
“Lo boleh seneng sekarang. Tapi nanti jangan harap lo bisa kayak gini lagi. Gue peringatin lo ! Gue bakal rebut apa yang seharusnya jadi milik gue dari lo. Karna lo nggak pantas dapatin itu. Ingat kata-kata gue !” Ancamnya berbisik di telinga Kartika.
Kartika tersenyum irit mendengar ancaman dari seseorang itu. Tak memperdulikan kata-katanya.
“Terserah lo ! Tapi gue, akan tetep mempertahanin itu. Dan gue nggak takut sama ancaman lo.” Bisiknya, sama seperti yang di lakukan sosok itu terhadapanya.
Setelah saling melemparkan ancaman, mereka berdiri tegap berhadapan. Saling menatap satu sama lain dengan tatapan tidak saling menyukai, mengibarkan bendera perang di kedua belah pihak.
Tak lama keduian, sosok Reno muncul dari balik dinding pembatas. Pandangannya tertuju pada kedua gadis yang saling bertatapan itu. Melihat kedatangan Reno, sosok yang menghampri Kartika itu pun pergi dengan sendirinya. Menjauh dari keberadaan mereka.
“Itu tadi Sonia kan Tik ? Ngapain dia ?” Tanya Reno penasaran.
“Ah.. iya. Nggak apa-apa kok Ren. Udah yuk pulang.” Jawab Kartika mengalihkan.
Pandangannya masih tertuju pada sosok Sonia yang terus berjalan menjauh. Mentapnya mengawasi. Mendengar jawaban Kartika yang baik-baik saja, Reno pun mengikuti sarannya untuk segera pulang. Tanpa membuat pertanyaan lain untuk mengetahui maksud pertemuan Kartika dan Sonia tadi.
***
Malam hari di kamar Kartika. Hal yang selalu ia lakukan jika telah selesai dengan semua tugas sekolahnya. Nge-browsing, menjelajah dunia maya dan melupakan semua masalah yang terjadi di sekolah tadi.
Karna, tidak mendapat kabar dari sahabatnya Pratiwi. Ia memutuskan untuk mengirimkan inbox di line obrolannya Pratiwi. Karna di line chat-nya terlihat akun Pratiwi sedang aktif.
K : Gue lagi boring nih. Pengen dengerin cerita lo.
P : Hahaha.. Biasanya lo yang mulai cerita tentang kisah hidup lo. Tapi, OK lah gue ladenin. Dengan senang hati. Mau mulai dari mana nih ?
K :Terserah lo.Tapi gue pengen denger tentang pesta 17 lo, gimana ?
P : pengen tau banget lo ya. Entar lo ngiri sama gue. Tapi baiklah kalo lo maksa.
Aneh nih anak. Perasaan, gue nggak maksa dia buat cerita deh. Terus kenapa juga gue mesti iri denger cerita dia. Pikir Kartika dengan perasaannya.
P : Lo tau nggak Tik, pesta gue seru banget. Awalnya gue Cuma ngundang temen sekelas doang, eh anak asrama yang laen ikut juga. Gue di ceplokin telor, di siram pake tepung, air warna, tradisi yang selalu kita lakuin di asrama Tik. Lo tau lah, nggak ketinggalan kue tart gue yang lilin angka 17 dong pastinya. Seru banget. Rasanya gue nggak pengen malem itu berakhir, pengen berhenti di malam itu doang Tik. Tapi sayangnya lo nggak ada. Walaupun lo nggak ada, tetep aja pesta 17 gue rame Tik.
K : Cuma itu doang ?
P : Yeee.. nggak lah Tik ! pesta 17 tuh asik banget. Gue dapet kejutan yang nggak pernah gue bayangin sebelumnya. Kejutan itu dari sesorang yang nggak gue sangka ke hadirannya dalam hidup gue, Tik. Lo tau Febry kan ? anak cowok yang satu kelas sama kita waktu kelas satu ?
K : Ya gue tau. Anak cowok yang selalu gue jadiin kelinci percobaan. Pake kaca mata, culun, cupu, lengkap deh. Gue dapetin penggantinya di sekoalah gue yang baru..
P : Ahhh lo, jangan ungkit masa lalu deh. Gue jamin lo nggak kenal dia yang sekarang ! Gue nggak nyangka banget sama dia Tik. Lo tau juga kan kalo dia ikut pertukaran pelajar ke newzeland ?
K : Y ague tau. Emang kenapa sih ? pake acara di perlambat lagi ceritanya. To the point dong !
P : Hhaha. Nggak sabaran banget sih. Nih ya asal lo tau. Waktu pesta gue kemaren dia baru pulang dari Newzeland. Dan dia bela-belain dateng ke acara gue. Cuma buat ungkapin perasaannya dia ke gue. Lo tau dia bilang apa ke gue ? Lo mau nggak jadi pacar gue ? Tapi, lo juga pasti tau jawaban gue apa. Nggak !
Lo bener deh, kayaknya gue sekarang mula iri denger cerita lo. Ternyata selama ini di sekolah, ada seorang cowok yang suka sama lo. Nah gue. Gue yang suka sama nih cowok, bukan tuh cowok yang suka sama gue. Tapi lo kok bego banget sih. Lo tolak cintanya mentah-mentah. Hargain usaha dia dong Wi.
K : why ?
P : Lo pasti nyangkanya gue tolak dia kan Tik ? Lo salah. Mana mungkin gue bisa nolak dia. Dan jawaban gue yang selengkapnya tuh, gue nggak bisa nolak dia buat jadi pacar gue. Gila Tik ! Dia tuh beda benget sama yang dulu. Perfect banget deh sekarang. Dan di usia gue yang ke 17, gue udah punya pacar. Hahaha. Lo liat foto gue sama dia, di album 17 gue. Lo pasti ngiri.
Membaca pesan dari Pratiwi, Kartika langsung mengerutkan dahinya. Tak percaya dengan apa yang di ceritakan sahabatnya itu. Dan segera ingin melihat foto yang seperti di sebutkan Pratiwi kepadanya tadi.
Lagi-lagi Kartika kembali tercengang dengan apa yang di lihatnya. Berbagai foto seputar pesta 17 tahun sahabatnya itu terlihat sangat meriah tanpa ke hadirannya. Ada salah satu foto yang membuat Kartika tambah ilfeel dengan sahabatnya itu. Foto Pratiwi bersama Febry. Semua yang di ceritakan Pratiwi tentang pesta 17 tahunnya benar adanya, dan semuanya membuat Kartika iri dengannya. Tapi bukan Kartika namaya kalau tidak mengakui bahwa dirinya ingin seperti sahabatnya itu.
Pintu kamar Kartika terbuka, seseorang masuk dengan perlahan menghampiri Kartika yang berbaring di tempat tidurnya. Duduk di sebelahnya.
“Hayo ! Lagi liatin foto siapa tuh ?” Kaget Dicky.
“Ah lo Ky. Ngagetin aja. Nggak, nih foto temen gue di sekolah yang dulu.” Jawab Kartika pelan.
Adanya kehadiran Dicky di samping dirinya. Kartika kembali teringat akan masalah yang terjadi tadi siang di sekolah antara dirinya dan Sonia. Kartika membuang wajahnya dari pandangan kakaknya. Berusaha menutupi hal tersebut dari kakaknya.
“Tik, gue mau tanya sesuatu sama lo tentang tadi siang di sekolah.” Tanya Dicky serius tanpa basa-basi terlebih dahulu.
“Apaan ?”
Dicky menatap wajah adiknya serius. Walupun Kartika menyembunyikan wajahnya dari Dicky. Tetap saja Dicky membuatnya ketakutan dengan sorot matanya yang tajam itu. terus memandanginya tanpa berkedip sekali pun.
“Lihat gue Tika ! Gue denger dari guru BP, lo sama Sonia terlibat masalah. Ngapain lo cari masalah sama dia. Kan gue udah bilang sama lo dari awal, jangan buat masalah di sekolah.” Ujar Dicky dengan nada tinggi.
Kartika tersentak dengan perkataan Dicky terhadapnya. Hatinya mulai goyah. Matanya mulai berkaca-kaca. Baru kali ini ia mendapat teguran keras dari kakaknya. Dengan menahan perasaannya, Kartika berusaha bangkit. Lalu duduk berhadapan dengan kakaknya, masih dengan kepala yang tertunduk.
“Lo tau ya Ky. Maafin gue. Gue tau gue yang salah. Lo bener gue emang orang yang sombong. Tapi bukan salah gue kalo gue bales nampar dia Ky. Dia yang mulai duluan cari masalah sama gue.”
Mendengar pernyataan Kartika, Dicky langsung tau maksud Sonia berbuat demikian dengan adiknya. Dicky memegang pipi kanan Kartika yang masih merah. Mencoba menenangkan adik perempuannya yang mulai meneteskan air matanya.
“Udah jangan nangis, kalo mama sama papa tau ini mereka pasti marah sama lo. Gue tau dia cari ribut sama lo karna apa.” Tenang Dicky.
“Apa ?”
“Lo deket sama Reno. Dia nggak suka itu. Tapi, gue nggak abis pikir dia bisa ngelakuin ini ke lo. Berani banget dia nampar lo. Emang lo nggak bilang kalo lo itu adek gue ?”
Kartika hanya menggelengkan kepalanya pelan.
“Bego lo ! Kalo lo bilang lo nggak akan kayak gini. Emang ya, lo tuh bandel, keras kepala, satu lagi sombonnya terlalu. Udah ah, gue Cuma pengen tau keadaan lo doang kok. Soalnya tadi Reno bilang lo kacau banget.” Ujar Dicky lalu pergi dari kamar Kartika.
Masih di tempat tidurnya. Kartika mematikan laptopnya, mengakhiri percakapannya dengan Pratiwi tanpa membalas pesan darinya.
Ia membaringkan tubuhnya, menatap langit-langit kamarnya. Mencoba menjernihkan pikirannya, melupakan masalah yang terjadi di sekolah tadi. Berharap semua masalah yang terjadi tadi tidak akan terulang kembali. Membayangkan pesta ulang tahun sahabatnya yang meriah, akan pula terjadi pada dirinya. Mendapat banyak kejutan di usia 17 tahun.
Hari ini cukup berat. Gue lelah, capek dengan semua ini. Dan gue harap semua itu nggak akan terjadi lagi. Semua yang terjadi tadi, akan jadi pelajaran yang berharga benget buat gue. Gue harap menjelang ulang tahun gue yng ke 17, semua masalah ini akan selesai. Jadi, gue bisa ngerasain hal yang sama kayak yng di certain Pratiwi tadi. Reno gue harap lo juga punya perasaan yang sama kayak gue, jadi perasaan gue nih nggak bertepuk sebelah tangan.
***
Hujan.
Beberapa hari di sekolah setelah kejadian itu. Semua berjalan lancar tanpa ada suatu masalah lain yang mengganggunya lagi. Terkecuali masalahnya dengan proposal kegiatan HUT Kartini yang harus segera ia selesaikan. Karna setiap kali Kartika berjumpa dengan pak Prapto, seorang yang menunjuknya untuk mejadi ketua panitia acara tersebut. Ia selalu di tanyai dengan berbagai pertanyaan seputar kegiatan apa saja yang akan di laksanakan untuk memeriahkan acara itu.
Dengan berbagai alasan pula, Kartika mejawab pertanyaan itu. Hingga membuat Pembina OSIS itu tak sabar lagi untuk menerima laporan yang di buat Kartika. Memberi tenggang waktu hanya sampai besok pagi kepada Kartika sebelum tanggal pelaksanaan. Karna di kejar deadline, hari ini Kartika kembali harus membawa laptop kesayangannya ke sekolah untuk membuat proposal kegiatan itu bersama Reno. Walaupun terkadang ia harus mengerjakannya sendiri di perpustakaan, karna Reno ada urusan lain.
Gue bersyukur Sonia nggak ganggu hidup gue lagi di sekolah. Jadi sekarang gue bisa fokus untuk ngerjain proposal ini. Yah walaupun gue tiap hari harus bawa laptop dan selalu ketemu sama pak Prapto. Tapi gue seneng, karna tiap hari bisa ketemu terus sama Reno. Reno oh Reno. Itu berarti Sonia belum bisa penuhin misinya buat ngerebut Reno dari gue. Yeyeyeye, gue seneng. Lo kalah Sonia ! Lo kalah dari gue, dan lo nggak akan pernah bisa menang dari gue. Kartika gitu ! hahaha. Ujar Kartika senang dalam hatinya.
Kartika masih asik dengan kegiatannya. Mengetik kembali kegiatan acara yang sebelumnya telah ia rancang di kertas coret-coretnya. Hingga ia tak menyadari bahwa Reno sudah berada lagi di sampingnya.
“Udah selesai Tik ?” Tanya Reno sabar.
“Hem, iya dikit lagi nih.” Jawab Kartika bernada.
Reno mengambil laptop dari pangkuan Kartika. Menaruh laptop itu di pangkuannya. Kartika hanya berkedip melihat hal itu, tak ada sedikitpun rasa kesal di hatinya terhadap Reno.
“Okey, bagus. Keren. Tapi, masih sedikit lagi ada yang perlu di tambahin.” Komentar Reno memberi saran.
“Yang mana lagi Ren ? Gue udah nggak tau lagi apa yang mau gue buat. Udah nggak bisa mikir lagi nih.” Ujar Kartika pasrah.
“Ya udah kalo gitu. Pulang sekolah nanti lo bareng gue aja. Lo mampir bentar ke rumah gue, ada yang mau tunjukin ke lo. Gimana ?” Saran Reno bersahabat.
“Oke gue setuju. Tapi Dicky gimana ?”
“Biar gue yang bilang sama dia. Tenang aja, dia pasti ngebolehin lo kok.”
Penuturan Reno yang sangat bertanggung jawab terhadapnya, ia membalas perkataannya dengan senyuman. Menerima saran yang sangat cemerlang itu. Karna keinginannya untuk kembali mampir di rumah Reno tercapai. Ia bisa lebih lama lagi berada di dekat Reno dan selalu mendapat perhatian lebih darinya. Juga bisa numpang makan gratis di rumahnya dan di temani ibu Reno yang ramah dan baik kepadanya.
Bel berbunyi dua kali. Tanda jam istirahat sekolah telah usai. Seluruh murid menghentikan aktivitasanya di luar kelas. Masuk ke kelas dengan tertib, menunggu kedatangan guru yang akan memberikan sebagian ilmunya kepada mereka.
Reno memerintahkan Kartika mengehentikan kegiatannya dan menyuruhnya masuk ke kelas. Sebelum guru yang mengajar masuk ke kelas terlebih dahulu. Kartika tersenyum lagi kepadanya. Menuruti semua perintah yang ia berikan kepadanya dengan senang hati, tanpa membantahnya.
“Tika, lo dari mana ? setiap jam istirhat lo selalu pergi bawa laptop lo. nggak pernah lagi mau bareng kita makan di kantin.” Tanya Nevy heran dengan sikap Kartika belakangan ini.
“Iya Tika. Lo kemana sih ? Lo ngerjain proposal kegiatan itu ya ? sama siapa ?” Sambung Rere.
“Jangan bilang lo ngerjain proposal itu sama kak Reno. Duh Tika, lo tuh selalu cari masalah. Lo masih ingat kejadian tempo hari kan ?” Ikut Yogi berkomentar.
“Ih kalian apa-apaan sih. Gue baru dateng dan gue lagi pusing nih. Kalian malah nanyain yang kayak gitu. Ya gue masih inget kejadian itu. Terus kenapa kalo gue ngerjain proposal itu sama kak Reno ? pak Prapto sendiri yang nyuruh kok. Kalo Sonia mau protes, dia harus protes sama pak Prapto dong. Jangan sama gue !” Jawab Kartika, menyangkal semua pertanyaan teman-temannya itu.
“iya deh. Lo bener. Tapi kita Cuma mau ingetin lo Tik, kita nggak pengen lo berurusan lagi sama kak Sonia.” Ucap Rere bersahabat.
“Iya Rere, makasih. Kalian berdua juga, Nevy, Yogi. Gue seneng kalian masih perduli sama gue.” Ujar Kartika senang.
Beberapa murid yang tadi mengerumuni meja Kartika, bubar. Kembali ke tempatnya masing-masing setelah guru yang mengajar masuk ke ruang kelas mereka. Duduk di meja guru, siap memberikan sbagian ilmunya kepada murid-murid di dalam kelas.
***
“Ky, gue balik sama Reno ya ? Dia udah bilang kan tadi sama lo.” Ijin Kartika pada kakaknya yang sudah menunggu di pintu gerbang sekolah.
“Iya, tadi dia udah bilang. Jangan sore-sore lo pulang. Entar mama khawatir.” Ucapnya mengizinkan.
“Okeh. Makasih ya.”
Setelah memberi ijin kepada Kartika, Dicky langsung pergi meninggalkannya sendiri di pintu gerbang sekolah menunggu kedatangan Reno.
Cuaca hari ini tak begitu bersahabat. Awan hitam mulai menutupi langit yang tadi berwarna cerah. Menutupi sinar matahari yang memancarkan sinarnya. Angin berhembus kencang. Menerbangkan debu dan dedaunan yang jatuh di pinggir jalan. Tetes air hujan turun masih dengan bentuk rintik-rintik yang menetes. Lambat laun rintik itu berubah menjadi deraian air hujan yang turun dengan lebatnya. Jatuh, menyiram seluruh isi bumi yang di lewatinya.
Tubuh Reno mulai merasakan sakit dari tetes air hujan yang jatuh di tangannya tajam. Bagaikan di tusuk duri-duri jeruk. Ia memutuskan untuk berteduh terlebih dahulu di sebuah toko. Tapi toko itu tutup, tak ada pemiliknya. Selain untuk menghindari derasnya air hujan yang turun, juga untuk menyelamatkan laptop Kartika dari guyuran air hujan. Menunggu hingga hujan reda.
Terlihat di beberapa toko di sekitar mereka. Beberapa pengemudi motor yang di antaranya adalah anak sekolah, dan pegawai kantor yang juga berteduh di toko-toko seberang jalan. Sama seperti mereka menunggu hujan reda. Tak banyak dari pengendara motor lain yang nekad untuk menembus deraian hujan yang turun dengan derasnya itu. Ingin segera sampai ke rumah ataupun ke tempat tujuan mereka.
Kartika merasakan dingin di sekujur tubuhnya. Demi menyelamatkan laptopnya, ia memeluk tasnya erat membiarkan tubuhnya yang kecil di guyur air hujan. Hingga membuat baju batik sekolah yang ia kenakan basah. Rambutnya yang panjang sebahu dan terikat rapi, juga ikut basah karnanya. Wajahnya berubah pucat, menggigil ke dinginan.
“Tika, lo baik-baik aja kan ?” Tanya Reno cemas melihat keadaan Kartika yang demikian.
“Gue nggak apa-apa Ren.” Jawabnya gemetar.
“Lo yakin ? Tapi muka lo pucet banget Tik. Pake jaket gue ya.” Pinta Reno, melepaskan jaket yang ia kenakan lalu mengenakannya pada tubuh Kartika.
“Makasih Ren. Tapi gue baik-baik aja kok.” Ujarnya sekali lagi dengan suara yang makin parau.
“Sabar ya Tik. Bentar lagi hujannya reda kok. Terus kita pulang.” Tenang Reno, memeluk tubuh Kartika yang makin gemetaran.
Beberapa puluh menit kemudian. Hujan yang tadi turun deras, sekarang reda. Reno menyalakan motornya. Membawa Kartika pergi dari toko tempat mereka berteduh tadi. Dengan pedal gas yang laju kencang, Reno membawa Kartika menuju rumahnya yang hanya berjarak beberapa meter lagi dari tempat tadi. Keputusan yang di ambilnya cepat. Daripada membawa Kartika pulang ke rumahnya sendiri yang masih jauh lagi dari tempat itu.
“Tik, kita udah nyampe di rumah gue. Maaf gue nggak bawa lo pulang ke rumah lo. Gue cari amannya aja.” Ucap Reno pelan.
Menuntun Kartika berjalan menuju ruang tamu dan menyilahkannya duduk di kursi sofa. Mengambil tas yang sejak tadi di peluk Kartika erat, menaruhnya di atas meja. Dan membaringkan tubuh Kartika pelan.
“Ya ampun Reno. Tika kenapa ? Kalian hujan-hujanannya ?” Tanya ibu Reno panik.
“Iya ma. Tadi di jalan kita ke hujanan. Jadinya dia kedinginan. Daripada Reno bawa pulang ke rumah dia yang masih jauh lagi, Reno bawa aja dia pulang ke rumah.” Jawab Reno menjelaskan.
“Ya, udah mama buatin yang hangat-hangat dulu ya buat dia. Kamu ganti baju dulu terus jagain dia.” Perintah mama cepat.
Dengan gerakan langkah cepat ibu Reno langsung pergi ke belakang. Membuat sesuatu yang di katakannya tadi.
Kartika bangun dari tidurnyan yang hanya sejenak. Merasakan kehangatan pada tubuhnya. Ia membuka matanya pelan, kemudian duduk bersender di sofa. Menatap sosok laki-laki yang tak asing lagi baginya. Ternyata sosok itu yang memberinya kehangatan dengan selembar selimut tebal yang di selimutkan ke tubuhnya. Sosok itu membantunya duduk. Memberi secangkir teh hangat yang telah di buatkan ibunya tadi.
“Nih, minum dulu Tik ?” Menawarkan secangkir teh hangat pada Kartika.
“Makasih Ren. Gue ngerepotin lo lagi.” Ucap Kartika merasa bersalah.
“Udah lah Tik, nggak apa-apa. Gue suka lo repotin. Tadi gue udah telpon Dicky, dan minta maaf sama dia juga ortu lo. Bukannya bawa lo pulang ke rumah langsung, eh malah bawa lo pulang ke rumah gue dulu. Dan sebagai petanggung jawabannya, gue nanti yang akan antar lo pulang.” Ujar Reno menjelaskan, di riringi gelak tawanya.
Pandangannya tertuju pada jendela ruang yang ada di rumah tersebut. Menerawang dari balik kaca. Derai air hujan kembali turun dengan intonasi yang sama, jatuh ke permukaan tanah menyirami tumbuhan yang hidup di atasnya. Bukan itu saja, tapi semua yang ada di permukaan bumi ini yang di laluinya.
“Nggak pake motor lagi kok Tik. Gue bawa mobil kok. Tenang.” Tambahnya kemudian.
“Terus, proposalnya gimana ? kalo nggak selesai sekarang pak Prapto bisa marah ke gue. Dan tamatlah riwayat gue Ren.” Celetuk Kartika cemas.
“Lo tuh ya. Semua yang Dicky certain tentang lo tuh bener semua. Lo tuh keras kepala, bandel, dan nekad.”
Mendengar perkatann Reno yang demikian. Sorot matanya langsung tertuju menatap sosok yang ada si sampingnya itu. Menatapnya dalam penuh makna.
Dicky cerita semua tentang gue ke Reno ? Maksudnya apa ? Tapi syukur deh, dia nggak bilang ke Reno kalo gue tuh sombong. Hehe.. makasih Dicky, lo tau cara nutupin kekurangan adek lo nih.
“Lo mau ngerjain sekarang ? atau biar gue yang ngerjainnya sendiri. Tapi laptop lo gue pinjem. Gimana ?” Tawarnya bersahabat.
“Hah, nggak usah Ren. Kita kerjain sekarang aja.”
Dengan cepat Kartika langsung mengammbil laptopnya dan menyalakannya. Mendegar tawaran Reno yang akan mengerjakan sendiri proposal itu, memang akan sangat membantu dirinya. Tapi tidak jika laptop kesayangannya itu akan di pakai Reno sendiri. Hanya sendirian tanpa ada Kartika di sisinya. Karna jika demikian, Reno akan segera tahu bahwa Kartika menyukai dirinya. Mengapa tidak ? Hari-hari yang di lalui bersama Reno, selalu ia ceritakan kembali di dokumen yang ia simpan di laptopnya. Dan dengan mudah Reno akan mengetahuinya, karna dokumen itu di beri nama ‘semua tentang aku dan Reno’.
Walaupun kondisi fisiknya sedang tidak baik, Kartika tetap memaksakan otaknya untuk berpikir keras. Mencari ide yang menarik untuk menyelesaikan proposal kegiatannya. Di sebelahnya, Reno hanya memandangi Kartika yang terus berpikir tanpa membantunya untuk berpikir. Entah apa yang di lakukan Kartika, hingga Reno tertawa geli melihat kelakuannya.
“Lo kenapa sih ketawa mulu ? Bantuin gue kek. Kepala gue pusing nih.” Celetuk Kartika kesal melihat Reno yang hanya tertawa melihatnya.
“Hahahaa.. Tika Tika. Lo tuh ya, di bilangin emang ngeyel. Lo liat lagi contoh proposal gue, nggak nyampe sapanjang itu juga acara yang mau di buat. Cukup yang penting-pentingnnya aja untuk tanggal 21-nya. Kalo sebelum tanggal itu terserah lo, asal cukup waktunya.” Jelas Reno memberi masukan.
“Terus apa ?”
“Duh. 2 acara aja deh di tanggal 21. Cukup lomba busana kebaya sama musikalisasi. Terus acara yang lainnya sebelum tanggal itu. Jangan banyak-banyak entar lo sendiri yang repot.”
“Ya deh. Terus yang lainnya apa ? tanggal 21-nya ?” Sindir Kartika mengarah ke tanggal ulang tahunnya yang sama dengan HUT Kartini tersebut.
“Hem.. gimana kalo siswa yang ceweknya pake baju kebaya semua ? pasti lebih khas Kartini banget tuh.” Celetuk Reno cepat.
Sesuatu yang menurut Kartika adalah tragedi. Memakai busana kebaya samadengan malapetaka baginya. Sudah berapa tahun ia melupakan kenangannya tentang pesta ulangtahun dengan gaun kebaya. Ide yang di berikan Reno tadi, langsung ia tolak tanpa memberikan alasan yang jelas.
Gila aja lo Ren. Gue di suruh pake baju kebaya lagi ? di hari ulangtahun gue yang ke-17. Ohh, no no no.. Gue udah nyimpen rapat-rapat kenangan gue dengan baju kebaya di hari ulangtahun gue. Gue nggak mau kejadian dulu terulang. Walaupun itu waktu gue masih SD. Nggak mau lagi ! Gumam Kartika kesal, melupakan masa lalunya.
“Haaaa ? NGGAK MAU ! Lo aja yang pake kebaya, gue mah ogah. Nggak usah pake kebaya-kebayaan. Pake baju sekolah aja udah cukup. Titik.” Bantah Kartika cepat.
Sudah ada tanda titik ya berhenti. Di tambahkan kata titik lagi, agar lebih jelas dan menegaskan. Kartika memasang wajah kesalnya. Tak ingin membicarakan masalah busana kebaya lagi dengan Reno.
“Ya udah kalo gitu. Sini biar gue liat proposalnya.” Ujar Reno sabar, menggeser laptop yang menghadap ke arah Kartika agar menghadap ke arahnya.
Dengan seksama Reno membaca beberapa kalimat proposal kegiatan yang di buat Kartika. Mengedit kembali kata-katanya dan menambahkan beberapa kata lagi ke dalamnya. Setelah selesai dengan editannya, Reno kembali menggeser laptop agar menghadap Kartika.
Kartika melihat hasil editan Reno pada proposal kegiatannya. Matanya tak berkedip, hingga membuat bola matanya merah terkena radiasi.
“Hem.. Gue suka, keren. Okeh, gue langsung print entar malem. Terus besok pagi gue kasih ke pak Prapto. Selesai deh urusan gue.” Ucap Kartika girang.
“Enggak ada bilang makasih gitu sama gue ?” Sindir Reno menatap Kartika.
“Hehehe.. Ya deh, makasih kak Reno yang baik hati, tidak sombong, dan…”
Reno menatap Kartika lama, mencari arti di balik kata-katanya yang terpotong.
“Dan apa Tik ?” Tanya Reno penasaran.
“Haa.. nggak jadi deh. Udah ah, lupain aja.”
Haa.. Bego lo Tik. Hampir aja lo keceplosan ngomong. Bisa-bisa lo mati kutu di hadapan dia. Kalo sampe lo bilang dia cakep. Tambah lagi, masih ada embel-embelnya di belakang. Ganteng, manis, cool, sempurna, perfect banget. Apa sih bedanya ? sama aja. Yang jelas gue suka sama lo Reno. Itu yang harus lo tau. Bisik Kartika dalam hati.
Proposal kegiatan telah selesai. Kartika memutuskan untuk segera pulang ke rumahnya. Akan tetapi, cuaca di luar masih di guyur hujan lebat. Tenang. Seperti yang di katakana Reno tadi kepadanya. Bahwa ia akan mengantar Kartika pulang ke rumahnya tanpa harus hujan-hujanan lagi.
“Ren, gue pengen pulang nih. Udah sore, gue bisa kena marah Dicky nanti. Mama sama papa juga.” Pinta Kartika melas.
“Ya deh gue anter pulang. Tapi sebenarnya gue masih pengen lo lama-lama di rumah gue. Ya udah deh, gue bilang ke mama dulu.” Ujar Reno cepat tak ingin berlama-lama dengan kata-katanya.
Sejenak Kartika tertegun dengan kata-kata Reno yang menginginkan dirinya berada lebih lama di rumahnya. Hal itu sekarang terngiang di kepalanya. Kembali memutar otaknya untuk berpikir, setelah tadi berusaha keras berpikir untuk menyelesaikan proposal kegiatan itu. Akan tetapi kali ini Kartika tidak dapat berpikir dengan jernih lagi. Kepalanya terasa berat, rasa dingin mulai menyerang tubuhnya lagi. Tangan seseorang menepuk pundaknya dan orang itu adalah Reno Dengan cepat ia menyembunyikan perasaan, tak ingin Reno mengetahuinya.
“Yuk pulang.” Ajak Reno, mengayunkan kunci mobil yang di pegangnya.
“Pake mobil ?” Tanya Kartika memastikan.
“Iya Tika. Terus apke apa lagi ? kalo pake motor, nanti kita mandi hujan lagi. Gue nggak mau lo sakit. Pake mobil aja ya.”
Kartika diam. Berdiri kaku menatap deraian air hujan yang turun melewati atap rumah.
“Gue udah punya SIM. Tenang aja Tik. Lo lucu ya. Udah yuk.” Tambah Reno mengajak Kartika untuk segera masuk ke mobil.
Laju mobil yang di kendarai Reno dalam kecepatan normal. Tidak ugal-ugalan seperti mobil yang tadi melintas menyalip mobil mereka. Membelah tirai hujan yang turun deras. Jatuh di kaca depan mobil kemudian hilang di sapu kipas hujan. Tetes air hujan terdengar mengetuk dari balik kaca, mengharap ingin masuk. Mendengar ceritanya dan berbagi rasa dingin yang menerpanya di luar.
Dalam perjalan menuju rumah Kartika. Tidak ada percakapan yang terjadi antara mereka. Sang pengemudi mobil fokus dengan jalur kemudinya. Sedangkan penumpangnya berusaha menahan rasa dingin yang merasuk, menusuk ke dalam tulang. Mencibir bibirnya sesekali.
Mobil itu berhenti di halaman rumah seseorang. Di depan teras rumah itu, terlihat pemilik rumah sudah menunggu kedatangannya. Menyambut mereka hangat. Mempersilahkan tamunya masuk.
“Tika, lo nggak apa-apa kan ? Dari tadi diem aja ?” Tegur Reno khawatir.
“Ya, gue baek-baek aja.”Jawab Kartika datar.
Tatapan mata dua orang laki-laki yang ada di sekitarnya mengarah pada Kartika. Menatapnya penuh kekhawatiran. Tapi langsung segera ambil posisi setelah mendengar pernyataan bahwa dia baik-baik saja. Membiarkan pergi begitu saja.
Kartika meninggalkan Reno dan Dicky di ruang tamu, segera menuju kamarnya. Di dalam kamarnya, Kartika langsung berbaring di tempat tidurnya. Menyelimuti tubuhnya dengan selimut tebal. Matanya yang kecil terlihat sayup, perlahan menutup terpejam. Meninggalkan sejenak dunia nyata, masuk ke dunia mimpinya yang indah.
***
Pukul 19.27. Kartika bangun dari mimpinya. Menghadapi kenyataan hidupnya di dunia nyata. Kepalanya terasa berat. Merasakan kondisi tubuhnya dalam keadaan yang tidak baik. Perlahan Kartika mencoba duduk di tempat tidurnya. Mengambil tasnya yang berisi laptop. Belum sempat tangannya menjangkau tas, seseorang telah menolongnya.
“Dicky.” Ucapnya parau.
“Lo tuh ya. Udah tau sakit, masih aja nekad. Mau ngapain lagi sih ?” Tanya Dicky heran.
“Proposal gue belum di print. Besok udah harus di kasih sama pak Prapto. Gue mau ngeprint sekarang.”
“Lo tuh nggak kasihan sama badan lo sendiri. Biar gue yang ngeprint. Lo tidur aja lagi.”
Baru kali ini Kartika mendapat perhatian dari kakaknya. Setelah sebelumnya selalu berpikiran bahwa kakaknya itu adalah orang yang garang. Dan selalu menjadi bayang-bayang dalam hidupnya. Tapi, sekarang ia sadar. Bahwa kakaknya itu teramat sayang kepadanya dan sikapnya yang acuh tak acuh selama ini semata-mata demi melindungi adik perempuannya.
Pikirannya mulai menerawang seeorang yang mengantarnya tadi. Berbagai pertanyaan seputar Reno mulai menghampirinya. Kartika menatap Dicky cepat. Ingin mengajukan berbagai pertanyaannya seputar Reno. Belum sempat Kartika memanggil Dicky ataupun mengajukan pertanyaan. Bayangan Dicky sudah leyap dari pandangannya. Menghilang di balik pintu kamarnya yang tertutup kemudian. Memendam rasa ingin tahunya.
***
Pupus.
Pukul 07.15. Dengan menahan rasa sakit yang masih mendera kepalanya, Kartika keluar dari kamarnya bergegas menuju kamar mandi rumahnya. Setelah merasakan dinginnya air pagi itu, ia kembali teringat dengan air huja yang kemarin menguyur tubuhnya. Rasanya lebih dingin daripada air yang ada di kamar mandinya itu.
Perlahan Kartika berjalan menuju ruang makan. Mencari keberadaan orang-orang yang tinggal di rumah itu, tapi tak di temukannya. Langkahnya menuntun tubuhnya untuk segera menuju ke ruang keluarga, tapi disana ia juga tak menemukannya.
“Orang-orang pada kemana sih ? Sepi banget nih rumah. Kayak kuburan aja. Ihh serem, gue sendirian lagi. Mama.. Papa.. Dicky.. Kalian dimana ? Kok gue di tinggalin sendirian di rumah sih. Tega banget.. “ Ucap Kartika lirih.
Dari ruang tengah, terdengar suara pintu di buka dari luar. Dengan langkah cepat, Kartika segera menuju ruang tengah rumahnya. Memastikan keadaan rumahnya yang sepi. Dan berjaga-jaga jika ada maling yang hendak masuk ke rumahnya.
“Tika. Kamu udah bangun ?” Tanya ibu heran melihat tingkah anaknya yang berjalan mengendap-ngendap.
“Mama. Tika kirain maling tadi. Kok rumah sepi sih ma ? Yang Dicky mana ? Papa ?”
“Kamu mulai lagi deh. Kan sekarang hari kamis. Papa ya ke kantor. Dicky ya sekolah. Kok bingung hitu sih.” Jawab ibu santai.
Mendengar peuturan ibunya, mata Kartika langsung tebelalak tak percaya. Pikirannya mulai kacau, hingga tak tahu bahwa hari ini adalah hari kamis.
“Haaaaa.. Terus kenapa Tika tadi nggak di bangunin Ma ? Tika harus sekolah hari ini, kalo nggak.. Ahhh” Ujar Kartika bertubi-tubi.
“Tadi kakak kamu bilang, kamu sakit. Jadi untuk hari ini nggak usah sekolah dulu. Surat ijinnya udah di buatin sama kakak kamu. Terus proposal kegiatannya udah selesai. Mama Cuma jawab iya iya aja.”
Lagi-lagi, Kartika tertolong oleh kakaknya. Ia menghemuskan napas lega. Dan sekali lagi ia bersyukur mempunyai kakak seperti Dicky. Tak tahu apa yang akan terjadi nanti, jika kakaknya bukan Dicky. Tiba-tiba wajahnya kembali berubah ekspresi cemas. Entah hal apa lagi yang sekarang ia pikirkan.
Kalo gue nggak sekolah, berarti surat ijin gue ????? Dicky yang nganter ke kelas. Haaaaaaa.. ketahaun deh kalo gue adek dia. Temen-temen pasti jadi aneh sama gue kalo tau gue adeknya Dicky. gue nggak mau temen-temen tau ! Huh huh huh.. Tapi ya udah lah, gue bisa ngatasi semua itu. Tenang, tenang. Lo harus berterimakasih sama dia Tika, berkat dia lo selamat dari ancaman pak Prapto yang bakal hukum lo kalo proposal itu nggak ada di tangannya sekarang. Masih ada untungnya juga, walaupun banyak ruginya. Hahaha. Gumam Kartika dalam hati.
Karna hari ini Kartika tidak masuk sekolah dengan alasan sakit, tapi pada kenyataannya sekarang ia sudah sehat wal afiat. Walaupun kepalanya masih terasa sakit. Sepanjang hari, Kartika menghabiskan waktunya di depan televisi sembari menunggu Dicky pulang dari sekolah. Hal yang jarang ia lakukan jika libur sakit di sekolahnya terdahulu.
Setelah sekian lama menghabiskan waktu di depan tv, Dicky yang di tunggu pun datang. Langsung masuk ke kamarnya tanpa basa-basi terhadap Kartika yang terus menatapnya antusias.
“Lo kenapa, dari tadi ngeliatnya gitu amat ?” Tanya Dicky heran, keluar dari kamarnya.
“Nggak ada. Cuma nunggu lo pulang aja.” Jawab Kartika datar.
“Ada yang nyariin lo tuh di luar.” Ucapnya kemudian, lalu pergi menuju dapur.
Seseorang mencarinya dan menunggu di luar. Kartik bangun dari tidur malasnya, melompat kegirangan mendengar ucapan kakaknya barusan. Walaupun tidak tahu siapa yang mencarinya, tapi Kartika mendapat wangsit kalau yang mencarinya itu adalah seseorang ia kenal. Bahkan seseorang yang selalu hadir di mimpi indahnya.
Kartika berjalan menuju teras depan rumahnya. Menghampiri seseorang yang mencarinya itu. Betapa Kartika terkejut dengan apa yang di lihatnya. Di kursi teras rumahnya, seseorang itu menunggunya sabar menatap ke arahnya dengan senyum yang mengembang di bibir indahnya.
“Reno ?” Sapa Kartika, tak percaya dengan apa yang di lihatnya.
“Hay Tika. Lo udah sehat ?” Balas Reno menanyakan keadaan Kartika.
“Ya, seperti yang lo lihat sekarang. Alhamdulillah, gue udah sehat Ren.”
“Maaf ya Tik. Gara-gara gue lo sakit. Dan sebagai gantinya gue bakal lakuin apa aja buat lo.” Ujar Reno merasa bersalah.
Ya ampun Ren. Lo yakin mau ngelakuin apa aja buat gue ? Sumpah demi apa lo ? ciyus, enelan, cungguh, mie apa ? mie ayam dong pastinya, soalnya gue nggak boleh makan bakso Ren. Hahhaa, kidding deh. Serius nih sekarang. Gue mau lo jadi pacar gue ? Gimana ? Mau ya ? Please… Senang Kartika dalam hatinya yang sekarang penuh dengan bunga, mawar melati semuanya indah.
“Haha, nggak lah Ren. Udah deh, nih bukan seutuhnya salah lo kok. Woles lah. Toh, gue sekarang udah sehat kok. Hem, gimana proposalnya ?” Ucap Kartika masih menyembunyikan perasaannya.
Sejenak Reno menatap Kartika yang duduk di sebelahnya. Seakan ada sesuatu yang ingin di ketahui Reno dari sorot mata Kartika. Mendapatkan apa yang ia cari, tapi tak memberitahukannya kepada Kartika.
“Hem… Oke, semua udah beres berkat Dicky. Pak Prapto setuju sama kegiatan yang akan lo buat itu. Lo besok udah masuk sekolah kan ? Jadi mulai besok lo akan sibuk dengan berbagai acara yang akan lo buat itu. Dan karna tanggal 21 hari minggu, jadi untuk kegiatan selanjutnya di adain hari minggu juga. Hari senin semua acara udah beres.” Terang Reno jelas.
Tanggal 21. Otak Kartika mulai berpikir lagi. Tanggal 21 adalah hari ulang tahunnya dan jatuh di hari minggu. Berbagai ke inginan di hari ulang tahunnya ingin ia capai. Akan tetapi, ulang tahunnya berbarengan dengan kegiatan yang di buatnya sendiri. HUT Kartini. Dengan wajah yang berubah pesimis, Kartika menundukkan kepala lemas.
“Berapa hari lagi Ren ?” Tanya Kartika pelan.
“sekarang hari kamis. Besok jum’at terus sabtu, minggu lagi. 3 hari lagi dari sekarang. sesuai dengan jadwal yang di buat.”
“21 april. Hari minggu ya ?”
“Iya. Kenapa Tik ?”
“Hah, nggak apa-apa kok. Cuma masih nggak percaya aja kalo gue yang jadi panitia penyelenggaranya.”
“Tenang Tik. Ada gue ! Gue akan selalu ada buat lo. oke.” Tegas Reno semangat.
Suasana hati Kartika mulai mendung. Mendengar penuturan Reno yang menyemangatinya, hanya dibalasnya dengan senyuman simpul. Pandangan Kartika mengarah ke depan. Menatap sesuatu di depannya tanpa kepastian. Membayangkan hari ulang tahunnya yang tinggal 3 hari lagi. Tapi harus berlangsung dengan kegiatan HUT Kartini yang ia buat sendiri.
Sosok Dicky menghampiri mereka. Mengambil alih pembicaran yang terhenti itu. Entah apa yang sedang di bicarakan Dicky dengan Reno, Kartika tidak mendengarnya jelas padahal dirinya ada di antara mereka. Dengan raut muka yang kembali kusut seperti orang ling-lung, Kartika pergi beranjak posisinya. Meninggalkan dua orang laki-laki itu di depan teras rumahnya, tanpa banyak kata-kata yang keluar dari mulutnya.
***
Di ruang kelas, Kartika duduk melamun di kursinya. Pandangannya kosong, entah apa yang di pikirkannya sekarang. Suasa kelas yang gaduh menjadi semakin gaduh dengan ulah para murid yang tak bertanggung jawab. Menabuh meja dengan keras dan bernyanyi tak karuan. Hingga mengganggu ketenagan hati Kartika yang sedang gundah gulana.
“Kalian bisa diem nggak sih ! Ribut banget.” Teriak Kartika kesal.
Mendengar teriakan Kartika yang lebih keras daripada suara gaduh yang mereka buat, seluruh murid terdiam. Menghentikan kegiatan mereka yang membuat kegaduhan.
“Tika, lo kenapa ? Lo baik-baik aja kan ?” Tanya Rere heran.
“Ya Re, gue baik-baik aja.” Jawab Kartika datar, kembali ke posisinya semula.
Rere menatap Kartika heran. Setelah libur satu hari karna sakit, sifatnya tiba-tiba berubah.
“Tika. Lo di panggil pak Prapto !” Ujar salah satu teman Kartika.
Dengan cepat Kartika bangkit dari posisinya. Sudah tahu apa yang akan ia lakukan. Kartika meninggalakan ruang kelasnya, pergi menemui seseorang yang di sebutkan temannya tadi.
Di ruang OSIS, pak Prapto sudah menunggu kedatangan Kartika. Langsung mengatakan maksudnya tanpa basa-basi. Memerintahkan Kartika untuk segera mengerahkan seluruh siswa yang terlibat sebagai panitia dalam kegiatan yang akan berlangsung itu. Setelah mendapat perintah dari Pembina OSIS, Kartika langsung mengerjakannya dengan cepat. Melaksanakan kagiatan yang akan berlangsung pada hari itu dan beberapa hari kedepannya. Kali ini tanpa bantuan Reno. Karna ia sudah banyak merepotkan Reno dalam hal ini. Dan untuk kali ini Kartika akan berusaha mengerjakannya sendiri.
Kegiatan yang akan di laksanakan hari ini adalah gotong royong membersihkan seluruh pekarangan sekolah. Karna bukan saja memperingati hari Kartini tapi juga memperingati hari ulangtahun sekolah. Kartika bersama siswa lainnya yang menjadi anggota panitia bersiap melakukan persiapan. Diantaranya membuat surat edaran ke seluruh kelas. Acara tersebut akan di laksanakan sore hari di luar jam pelajaran sekolah.
“Tika lo udah siap belom sih ? Udah jam 3 nih !” Teriak Dicky kesal.
“Iya, udah nih. Bawel banget.” Jawab Kartika ketus.
“Ribet banget sih. Pake buat kegiatan goro lagi. Kayak tahun kemaren. Enggak ada yang laen apa ?” Tanya Dicky protes.
“Ya ada lah. Gue Cuma ikutin sarana Reno doang. Bodo, kalo kegiatannya sama. Terserah, gue udah capek !”
Dicky mengacuhkan ucapan Kartika, menyalakan mesin motornya bergegas pergi. Membuat Kartika diam sejenak di boncengan motornya yang melaju kencang.
Di sekolah, seluruh siswa sudah berkumpul tepat seperti yang di umumkan di surat edaran. Mereka membawa alat masing-masing untuk melakukan kegiatan bersih-bersih. Sebagai ketua panitia, Kartika bertugas membantu dan mengawasi jalannya kegiatan tersebut. Ikut berkecimpung dalam keagitan yang ia buat sendiri. Membersihkan parit, taman sekolah, dan halaman sekolah yang luas sama seperti muri-murid lainnya.
Kartika bersama teman-teman sekelasnya beristirahat di dalam kelas. Melepaskan dahaga setelah melakukan kegiatan yang melelahkan dengan meminum air dan menikmati makanan yang telah di sediakan oleh bendahara kelas mereka.
“Tik, lo kenapa nggak gabung sama panitia yang lain ?” Tanya Rere heran.
“Hah, gue males aja gabung sama mereka. Nggak asik banget.” Jawab Kartika datar.
Rere mengangkat bahunya acuh. Kembali menikmati waktu istirahatnya bersama Kartika. Karna pada saat itu Nevy tidak datang, karna mendadak tibi-tiba sakit perut. Hal itu di maklumi Kartika dan Nevy, setiap wanita yang datang bulan pasti mengalami hal yang demikian.
“Tika ini ada surat buat lo.” Ujar salah satu teman Kartika, yang ia sendiri tidak tahu namanya. Yang jelas ia teman sekelas Kartika karna berada di kelas yang sama dengannya.
Kartika menerima surat itu, tanpa menanyakan siapa yang mengirim surat itu untuknya. Perlahan Kartika membuka selembar kertas yang di sebut surat itu, tapi tidak ada amplop ataupun prangko yang menyertainya.
“Dari siapa Tik ?” Tanya Rere penasaran.
“Nggak tau Re. Belom gue baca.” Jawab Kartika sabar.
Hari ini ! Gue akan rebut apa yang seharusnya jadi milik gue !
NOW !
Isi surat itu membuat mata Kartika terbelalak saat membacanya. Surat kaleng yang berisi pemberitahuan atau ancaman di tujukan untuknya. Dengan cepat Kartika meremas kertas yang ada di tangannya. Merobeknya dan melemparkannya ke dalam tong sampah yang ada di hadapannya. Otaknya mulai berputar, mengingat kembali ucapan Sonia beberapa hari yang lalu.
Ini pasti surat dari lo. Hah, tapi gue nggak yakin lo bisa ngerebut itu dari gue. Setelah lo buat dia hancur, terus sekarang lo mau balik lagi sama dia. Nggak yakin gue kalo dia mau nerima lo lagi. Mimpi lo ! Hujat Kartika kesal.
“Siapa Tik ?” Tanya Rere heran melihat raur wajah Kartika yang semrawut.
“Ahh, bukan siapa-siapa kok Re. Orang nggak jelas, yang bisanya Cuma mimpi di siang hari doang.” Jawab Kartika ketus.
“Di dunia ini ada dua macam orang, Tika. Orang yang sedang bermimpi dan orang yang hidup di dalamnya.” Ucap Rere bermakna.
Kartika bungkam seribu bahasa. Tak menjawab lagi ucapan Rere. Entah apa yang sedang ia pikirkan sekarang. Hari semakin sore. Kegiatan bersih-bersih sudah selesai. Seluruh murid satu per satu pulang ke rumah mereka masing-masing, meninggalkan lingkungan sekolah mereka dalam keadaan bersih, asri, dan nyaman.
Sesuai dengan yang di katakan Dicky padanya sewaktu di parkiran sekolah. Kartika berjalan menuju ruang kelas Dicky untuk mengajaknya pulang. Dalam perjalanan menuju kelas kakaknya, langkah kaki Kartika terhenti di tengah jalan. Pandangannya berkeliaran, menatap sosok laki-laki dan perempuan sedang duduk di bangku depan salah satu ruang kelas. Dengan cepat ia bersembunyi di balik dinding sebuah ruang kelas. Mengawasi gerak-gerik mencurigakan dari sepasang muda-mudi tersebut. Sosok dua orang yang tak asing lagi baginya. Tangan mereka saling bersentuhan, memegang erat di salah satunya. Saling menatap penuh arti, seakan sedang membicarakan sesuatu yang sangat penting dan tidak tersampaikan ke telinga Kartika. Suasa hati Kartika mendadak berubah sesak, tak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang. Mata Kartika berubah merah, menahan genangan air yang sebentar lagi akan jatuh ke pipinya.
“Hayo ! Ngapain lo di situ ? Ngintip-ngintip lagi. Bintitan ntar mata lo.” Kejut Dicky, mengagetkan Kartika dari belakang.
“Hah, nggak ada. Udah yuk pulang.” Jawab Kartika terbata menyusun kalimatnya.
Dengan cepat Kartika menarik tangan Dicky, tak membiarkannya melihat apa yang sedang ia lihat sekarang. Membawanya pergi dari tempat itu, menjauh dan sejauh mungkin. Rasa tak percaya dengan apa yang dilihatnya tadi berkumpul jadi satu di pikirannya menjadi beban baru untuknya.
***
Malam semakin larut. Kartika masih penasaran dengan apa yang di lihatnya tadi di sekolah. Di pikirannya terus berputar nama Reno, Sonia, Reno, Sonia. Menghubungkan kedua nama itu dan membuyarkannya lagi. Terus berpikir, tak mengerjakan sesuatu yang biasanya ia lakukan. Setelah berpikir lama, ia memutuskan untuk menanyakan hal itu pada kakaknya yang merupakan sahabat terdekat Reno.
“Ky, gue boleh nanya sesuatu nggak ?” Tanya Kartika masih berpikir.
“Hem.. Tanya apa ?” Jawab Dicky datar, fokus dengan tontonannya.
“Tapi lo jangan cerita ke siapa-siapa ya ? Terutama Reno.” Pinta Kartika cepat, lalu duduk di samping kakaknya yang asik menonton.
“Yah, apaan sih ?”
Sejenak Kartika berpikir ulang lagi untuk menanyakan hal itu pada kakaknya. Dengan cepat pula ia mengambil kesimpulan.
“Ky.. Reno sama Sonia balikan ya ?” Tanya Kartika takut-takut.
Dicky menatap Kartika dalam. Memdanginya penuh arti akan sesuatu hal.
“Mungkin, bisa jadi. Tadi di sekolah dia minta pendapat sama gue, gimana kalo dia balikan sama Sonia. Gue bilang, ikutin kata hati lo. Karna hati lo yang tau perasaan lo, bukan orang lain. Emang kenapa ? Lo jealous ya ?”
Berarti bener isi surat tadi. Jadi sekarang mereka udah balikan. Gue kalah dan Sonia yang mengang. Arggg… Gue nggak terima ! Tapia pa yang bisa gue lakuin ? Kata-kata Rere bener, gue adalah orang hidup di dalam mimpi itu. Eh, kenapa gue benerin kata-kata Rere. Nggak bisa, gue masih nggak bisa terima… Kesal Kartika.
“Enak aja, nggak tuh ! Gue cuma tanya doang kok. Hemm.. gue boleh Tanya lagi nggak Ky ?” Bantah Kartika menghindar.
“Tanya apa lagi sih ?” Jawab Dicky acuh, kembali fokus dengan tontonannya.
“Besok hari apa Ky ?”
“Sabtu.”
“Besoknya lagi ?”
“Minggu”
“Tanggal berapa ?”
“21”
“Hari apa ?”
“Kartini. Udah deh ah. Nanya-nanya nggak jelas. Gue lagi sibuk nih. Sibuk banget..” Kesal Dicky menjawab pertanyaan Kartika.
“Yee.. ditanya gitu doang juga. Ya lo lagi sibuk. Cuma sibuk nonton doang, dibilang sibuk banget.. ngare..” Gerutu Kartika, pergi dari tempatnya.
Bad day.
Jum’at berlalu. Satu kegiatan dalam rangka memperingati hari Kartini dan ulangtahun sekolah telah selesai di laksanakan dengan baik. Sabtu menjelang dan minggu menunggu. Sejak datang ke sekolah, Kartika sudah sibuk dengan jadwal kegiatan selanjutnya. Beberapa kali ia harus menghadap ke Pembina OSIS dan beberapa kali juga ia harus bolak-balik ke kelasnya.
“Tika ? Lo baik-baik aja kan ?” Tanya Rere khawatir. Orang pertama yang selalu menanyakan kabar Kartika selanjutnya Nevy dan beberapa teman Kartika lainnya.
“Sibuk banget hari ini ? Capek banget ya Tik ?” Tambah Nevy.
“Gue baik-baik aja Re. Ya, kaki gue pegel-pegel Vy. Kayaknya mau copot deh..” Jawab Kartika melas.
“Sini biar gue pijetin Tik. Gue selalu siap buat bantu lo.” Sambung Yogi tak mau kalah.
“Udah deh.. Yang jelas sekarang nih gue butuh istirahat dan butuh penyegaran. Gue lagi galauuu friend !” Ujar Kartika mengeluarkan semua keluhannya.
Sorot mata teman sekelasnya menatap kearah Kartika kompak. Ingin mengetahui lebih jelasnya masalah yang sedang ia hadapi sekarang. Tak sempat untuk melayangkan pertanyaan seputar dirinya, Kartika balik menatap teman-temannya garang. Mematahkan semangat mereka untuk bertanya.
“Kenapa Tik ? Kok bisa ?” Tanya Rere, Nevy dan Yogi serempak.
“Gue lagi patah hati. Kalian-tahu-gue-lagi-patah-hati ! Bukan tempe, okey !” Jawab Kartika di pertegas.
“Urusan cowok lagi ? Siapa yang berani buat lo patah hati ? Bilang sama gue !” Ujar Yogi sok jagoan.
“Ahh udah lah. Nggak penting cerita sama kalian. Lupain, udah udah.”
“Tika dengar ya kata-kata gue. Biarlah cinta itu datang dan pergi menghampiri. Karna cinta itu akan datang kembali seiring waktu berjalan. Tapi, jika cinta itu di genggam dengan erat. Maka cinta itu akan mati, dan tak akan pernah kembali lagi.” Ucap Rere bijak.
Mendengar ucapan Rere yang bermakna besar itu, sejenak Kartika berpikir ulang tentang hal yang di alaminya sekarang. Mengambil hikmah di balik untaian cerita yang tertulis bersama Reno di hari-harinya. Karna baginya sekrang Sonia sudah mengerti akan arti sebuah ungkapan. Sesuatu yang tidak berharga itu, baru akan terasa berharga jika ia sudah tak ada lagi. Setelah memaksa otaknya untuk berpikir, Kartika mengambil kesimpulan bahwa ia memutuskan untuk tidak lagi berhubungan dengan Reno dan menjauhinya. Karna merasa sudah kalah dari Sonia dan tidak mau lagi membuat masalah dengannya.
Hari ini berjalan begitu berat bagi Kartika. Setelah mengambil keputusan untuk menjauhi Reno dan tidak berhubungan lagi dengannya, harinya tampak begitu datar. Sama seperti saat pertama ia menjadi murid baru di sekolahnya sekarang. Dua hari menjelang ulang tahunnya yang ke-17, Kartika tak begitu antusias seperti sebelumnya. Kembali menyesali keputusan orangtuanya yang memindahkan sekolahnya.
Baru ku sadari.. Cintaku bertepuk sebelah tangan…..
Kau buat remuk seluruh hatiku.. 2x
Nyanyi Kartika dengan nada-nada yang tak karuan dari dalam kamar mandi. Tak menghiraukan seseorang yang sudah menunggunya untuk segera keluar. Dengan wajah tanpa dosa, Kartika keluar dari kamar mandi setelah membiarkan Dicky menunggu sekian lama di luar.
“Gila lo !” Ucap Dicky kesal.
“Haha, iya gue emang udah gila.” Jawab Kartika membenarkan.
Bergegas menuju kamarnya untuk berganti pakaian. Kembali berpikir ulang tentang hal yang di lakukannya sekarang. Setelah kejadian tadi siang, ia menelantarkan Reno sendiri di ruang tamu rumahnya. Membiarkannya sendirian menunggu Dicky. Karna menurut Kartika bukan dirinya yang ditunggu, jadi ia tidak menemui Reno walaupun hanya sekedar menemaninya seperti yang biasa ia lakukan.
Maafin gue Ren. Mungkin ini jalan terbaik. Haha, kayak lagu Seventeen aja. Bener juga sih. Serius nih, serius. Gue harus jauhin lo, karna gue udah kalah buat menangin hati lo. dan gue nggak mau lagi cari gara-gara sama Sonia. Cukup sekali pipi gue kena tampar sama dia. Yah walaupun gue tau, itu salah gue. Maaf Ren. Gue harap hubungan lo sama Sonia akan baik-baik aja sekarang. Pikir Kartika berharap.
Memutuskan menghabiskan malam minggunya, atau lebih tepatnya besok adalah hari ulangtahunnya di dalam kamar. Tidak mengharapkan sebuah surprised party dari orangtuanya ataupun Dicky. Yang Kartika harapkan sekarang adalah sebuah ketenangan, kenyamanan untuk menentramkan hati dan perasaannya. Walaupun dalam hati yang paling dalam, Kartika menangis terisak tak terdengar oleh telinga seorang pun. Menangisi arti usia 17 dalam hidupnya yang tidak sesuai dengan apa yang ia harapkan dan apa yang di katakan teman-temannya.
***
Pagi minggu di rumah Kartika. Tak ada pesta kejutan dari orangtuanya ataupun kakaknya semalam. Hanya malam minggu yang berlalu sanagat panjang baginya. Apakah tak ada seorang pun yang ingat dengan hari ulangtahunnya, hingga membuat Kartika harus menyimpan kekecewaan di hari ulangtahunnya.
Dari : Pratiwi
Selamat ulangtahun honey bee-ku. Wish you all the best. Pokoknya di usia yang ke-17 ini lo harus jadi orang yang paling bahagia, dan berguna bagi ortu dan orang yang ada di sekitar lo. Eits, setelah gue tentunya. Nggak kok Tik, becanda. Gue masih inget ultah lo kan ? nggak kayak lo ! Dan pastinya gue masih jadi orang pertama yang ngucapin met ultah buat lo. Satu lagi, gue yakin pasti lo belum punya cowok. Huhuh.. sabar ya, gue doa’in moga lo dapet cowok cepet. Amin.
Kartika membaca pesan dari Pratiwi melalui telpon selulernya, yang dikirim pukul 00.01 dan di bacanya pada pukul 06.54. Walaupun dengan nada mengejek ia membacanya, tapi Kartika merasa senang karna seseorang masih mengingat hari ulangtahunnya dan memberi ucapan selamat. Walaupun sesorang lain yang ia harapkan untuk itu, tidak mengetahui hari ulangtahunnya dan tidak memberi ucapan selamat untuknya.
Seseorang mengetuk pintu kamarnya, memanggil namanya beberapa kali. Dengan cepat Kartika bangkit dari tidur malasnya, melangahkan kakinya menuju pintu kamar untuk membukanya. Seseorang yang tak asing lagi baginya. Berdiri di ambang pintu, memasang wajah garang.
“Lama banget ! Udah pagi nih, tidur mulu. Lo tau kan hari ini hari apa ?” Tanya seseorang itu cepat.
“Ya. Gue tau hari ini hari apa.” Jawab Kartika datar. Berharap seseorang itu mengatakan bahwa hari ini adalah hari ulangtahunnya dan meminta maaf karna tidak mengucapkan selamat kepadanya tadi malam.
“Tuh lo tau kalo hari ini HUT Kartini. Dan lo masih punya satu jadwal kegiatan lagi di sekolah. Sekarang juga lo mandi dan gue yang akan ngantar lo ke sekolah. Pak Prapto udah nelponin gue dari tadi.” Ucap Dicky mengingatkan. Kemudian pergi meninggalkan Kartika yang masih berdiri di ambang pintu kamar.
Arrrggg… Kenapa jadi gini sih ??? Hey semua semua.. Hari ini ultah gue. Nggak ada yang inget apa ? jahat banget kalian sama gue. Mama papa, ingatkah kalian dengan ultah anak perempuan kalian ini yang semata wayang ?? Sedih banget sih hidup gue. Nggak ada yang inget sama ultah gue. Kejammmm… Gerutu Kartika menangisi keadaannya sekarang.
***
Pukul 07.28 wib. Kartika sudah berada di sekolah. Walaupun hari minggu, ia tetap datang ke sekolah. Menyelesaikan kegiatan yang ia buat sendiri untuk memeriahkan hari Kartini, walaupun harus memendam kekecewaan dalam lubuk hatinya yang paling dalam. Dengan semangat ia mempersiapkan acara untuk memeriahkan HUT Kartini, sedangkan hari ini juga merupakan hari kelahirannya dan tak ada satu orang pun di sekitarnya yang memberikan ucapan selamat padanya. Kecuali Pratiwi dan beberapa temannya di sekolah terdahulu.
Beberapa siswa lainnya sudah berada di sekolah sebelum kedatangan Kartika. Melakukan beberapa persiapan untuk mengikuti cabang lomba yang di perlombakan untuk memeriahkan acara tersebut. Satu, dua, tiga dan seterusnya. Sekolah pada hari minggu yang seharusnya libur, tapi di sekolah Kartika seluruh murid datang ke sekolah untuk memeriahkan HUT Kartini.
Akan tetapi, ada yang aneh di hari itu. Selurh siawa yang satu kelas dengan Kartika bersikap aneh, berbeda dari biasanya. Mereka semua menjauhi dan memusuhi Kartika, termasuk teman baiknya di kelas Rere dan Nevy. Entah apa yang terjadi pada mereka. Akan tetapi Kartika tidak ambil pusing dengan hal tersebut, karna baginya semua akan segera baik-baik saja.
“Tika. Lo di panggil sama pak Prapto di ruang OSIS. Sekarang !” Ucap Rere ketus.
“Ngapain Re ?” Tanya Kartika sembari memeriksa barang bawaannya di tas.
“Mana gue tahu. Tanya aja sendiri sama orangnya.” Mengacuhkan pertanyaan Kartika lalu pergi meninggalkannya.
Aneh ?? Kenapa sih anak sekelas nih, kesambet setan mana. Pagi-pagi udah gitu aja sikapnya, sama gue lagi. Hah, emang mereka siapa ? Satu lagi nih Rere. Aneh, aneh, aneh banget ! Nggak kayak biasanya. Yah, lumayan cantik sih tapi masih gue yang paling cantik. Nggak pake kacamata yang segeda muka lagi, rambutnya di urai nggak di kepang dua lagi, tapi tetep giginya masih di pasang pagar kawat. Kritik Kartika kesal.
Setelah memeriksa barang bawaannya, Kartika bergegas menemui pak Prapto di ruang OSIS. Meninggalkan tasnya di ruang kelas bersama dengan tas-tas milik teman sekelasnya yang lain.
“Tika, kamu sudah mempersiapkan segala sesuatunya untuk kegiatan hari ini ?” Tanya pak Prapto memastikan.
“Iya pak sudah.” Tegas Kartika menjawab.
“Baiklah kalau begitu. Acara untuk hari ini adalah musikalisasi dan peragaan busana khas Kartini bukan ?”
“Iya pak.”
Seseorang guru lain memanggil pak Prapto ingin membicarakan sesuatu hal, dan mengharuskannya meninggalkan Kartika sendiri di ruangan itu. Setelah beberapa lama meninggalkan Kartika di ruangannya, pak Prapto kembali menemuinya masih di tempat sama.
“Sekarang, segera kamu buka ruang aula. Bapak barusan mendapat kabar, bahwa seluruh peserta dan murid lainnya sudah siap untuk memulai acara.” Perintah Pembina OSIS itu sekembalinya dari kepergiannya tadi.
Dengan jawaban yang tegas dan meyakinkan guru tersebut, Kartika pergi dari ruang tersebut. Segera menuju kelasnya, untuk mengambil kunci aula sekolah di dalam tasnya. Ruang kelas sepi, tak ada satupun murid di dalamnya tidak seperti saat sebelum ia pergi. Kartika masuk kedalam kelasnya, langsung mengambil tasnya dan memeriksa barang bawaannya. Wajahnya berubah panik. Saat mengetahui ada suatu barang yang hilang dari dalam tasnya.
Satu murid masuk kelas, beberapa murid lain mengikutinya dari belakang. Kemudian suasana kelas menjadi ramai kembali. Kartika masih sibuk mencari kunci aula di dalam tasnya. Mengeluarkan seluruh isi tasnya, kemudian memasukkannya kembali. Wajahnya tampak putus asa karna tak mendapat kunci itu. Seorang murid lain mendatanginya, menatapnya dengan sinis.
“Heh Tika, lo di panggil pak Prapto. Kayaknya lo bakal dapet masalah besar deh hari ini.” Ucaapnya ketus.
Mendengar ucapan tersebut, sorot mata Kartika menatapnya tajam tak percaya dengan apa yang di katakannya barusan. Cepat Kartika meninggalkan ruang kelasnya lagi, segera menemui pak Prapto di tempat yang sama saat pertama ia bertemu dengannya. Menyusun kata-kata yang akan ia ucapkan nanti untuk memberi penjelasan pada pak Prapto tentang hilangnya kunci tersebut.
“Iya pak ? Ada apa ?” Tanya Kartika dengan napas yang tersengal-sengal.
Sorot mata lelaki separuh baya itu menatapnya dalam, tak berkedip beberapa saat. Kemudian mengambil napas panjang dan menghembusakannya pelan.
“Kartika. Bapak ingin bertanya pada kamu, dan bapak harap kamu dapat menjawab pertanyaan bapak dengan jujur.” Ucap lelaki itu sabar.
“Iya pak. Tapi sebelumnya pak, saya ingin meminta maaf terlebih dahulu. Karna saya sudah menghilangkan kunci aula sekolah. Saya sudah berusaha keras untuk mencarinya tapi saya tidak menemukannya pak. Padahal saya yakin kalau kunci itu sudah saya bawa dan saya taruh di dalam tas. Jadi tidak mungkin kunci itu tertinggal di rumah.” Tutur Kartika merasa bersalah menundukkan kepalanya.
“Hemm.. Kartika, awalnya saya memanggil kamu kesini karna saya kehilangan handphone saya. Bukannya bapak menuduh kamu, tapi tadi bapak menaruh hp bapak di atas meja. Dan tadi saya meninggalakn kamu sebentar, bapak tidak tau apa yang kamu lakukan tadi disini. Setelah kamu pergi hp bapak sudah tidak ada lagi. Nah sekarang kamu menghilangkan kunci aula. Jadi acara pada hari ini bagaimana ? seluruh murid sudah berkumpul di sekolah dan menunggu aula dibuka.”
Kartika menggelengkan kepala pelan, tidak tahu harus memberi jawaban apa kepada lelaki di hadapannya itu.
Hahhh.. Ucapnnya bener. Gue bakal dapet masalah terbesar untuk hari ini dan mungkin seterusnya. Tapi gue nggak terima kalo gue di tuduh maling. Mana gue tau kalo hap tuh ilang, yang jelas sekarang gue lagi pusing cari kunci aula. Bapak kehilangan hape saya kehilang kunci. Kita sama-sama kemalingan pak…. Desis Kartika dalam hati.
Lelaki itu bangkit dari duduknya, berdiri di hadapan Kartika. Kemudian mengajaknya pergi dari ruangan itu, menuju ruang kelasnya untuk memastikan hal itu. Di ruang kelas ramai dengan murid yang notabennya mereka semua adalah teman sekelas Kartika. Dari yang sebelumnya gaduh, suasana kelas berubah menjadi tenang sekembalinya Kartika ke ruang kelas. Tapi kali ini ia tidak sendirian, karna di sampingnya berdiri seorang guru yang sangat familiar bagi mereka. Seluruh mata mengarah padanya, menatapnya dengan sorot mata yang beragam.
“Nah Tika, coba sekarang kamu periksa kembali tas kamu.” Perintah guru itu.
Kartika memeriksa kembali tasnya, mengeluarkan seluruh isi di dalam tasnya. Matanya langsung terbelalak, melihat sebuah benda asing berada di dalam tasnya. Benda yang bukan hak miliknya, tapi berada di dalam tasnya. Suara riuh kembali menggema di ruang kelas. Menyoraki Kartika dengan kata-kata yang enak di dengar di telinganya. Kemudian mengikuti langkah sosok lelaki separuh baya itu keluar dari ruang kelasnya, meninggalkan suara-suara yang terus menyorakinya.
“Kartika, bapak tidak habis pikir dengan apa yang kamu lakukan ? Kakak kamu, Dicky. Dia selalu menyanjung kamu, tapi ternyata semua tidak seperti apa yang ia ceritakan pada bapak. Kamu sangat berbeda dengan kakak kamu. Kakak kamu memiliki akhlak yang baik, sedang kamu. Bapak masih tidak bisa pikir dengan hal yang kamu lakukan. Bapak akan bicara dengan kakak kamu, dan kamu boleh pergi sekarang.” katanya bernada kecewa.
Kenapa harus Dicky lagi ? Kenapa ? Gumam Kartika dalam hati.
Kepala Kartika tertunduk malu dengan apa yang di katakan guru itu. Pergi dari ruangannya, dengan wajah sedihnya. Terus berpikir mengapa hal tersebut bisa terjadi. Diruang kelas, seluruh teman-temannya sudah menunggu kedatangannya. Dengan berbagai ekspresi raut wajah yang berbeda-beda pula mereka menatap Kartika.
“Ya ampun, gue nggak habis pikir deh. Katanya siswa teladan, yang pling bek, dan paling pinter di kelas. Eh ternyata, nggak taunya maling…” Celetuk salah satu teman di kelasnya.
Ia masih bungkam seribu bahasa, tak meladeni ucapan temannya itu. Di tempat duduknya, Rere sudah menunggu dengan duduk di sampingnya. Sama seperti teman-teman yang lain, Rere juga ikut-ikutan menatapnya dengan ekspresi wajah yang lain dari bisanya.
“Rere..” Ucap Kartika pelan, menatapnya penuh arti.
“Ngapain lo liat gue gitu. Gue nggak nyangka gue sama lo Tik. Lo selalu merasa diri lo hebat dan lebih baik daripada kita semua. Eh nggak taunya lo tuh munafik. Sombong, angkuh, keras kepala. Lo sadar nggak kalo diri lo tuh nggak lebih baik dari kita.” Ucap Rere ketus.
“Ya, gue setuju sama lo Re. Lo tuh munafik Tik. Apa yang lo banggain tentang sekolah lama lo tuh, bulsit semuanya. Hah, nggak nyangka gue sama lo selama nih. Lo sekarang maling hape-nya pak Prapto, nah besok apa lagi yang mau paling dari kita Tik.” Tambah Nevy menjatuhkan.
Mendengar perkataan dari teman-teman terdekatnya yang memojokkan dirinya, sontak membuat Kartika terkejut.
“Maksud kalian ngomong gitu apa ? GUE BUKAN ORANG MUNAFIK !!! Yang gue omongin tuh bener. Kalian tuh nggak lebih baik daripada gue yang bisanya jadi pengecut. Mojokin gue kayak gini. Gue bukan maling, gue bilang sekali lagi. GUE BUKAN MALING !!” Bentak Kartika kesal dengan emosinya yang meledak-ledak.
Setelah beberapa lama menahan emosinya, akhirnya Kartika tak sanggup lagi menahannya. Meluapkan semua kekesalannya, dengan semua tuduhan teman-temannya yang memojokkan dirinya. Menuduhnya dengan tuduhan yang dia sendiri tidak pernah melakukannya.
“Yeee.. mana ada maling teriak maling. Penjara penuh Tik !” Teriak Yono kencang, hingga membuat seluruh teman-temannya ikut menyorakinya.
“Tika. Asal lo tau, lo tuh yang pengecut. Selama ini lo nggak jujur sama kita, kalo kak Dicky tuh kakak lo. Dan lo malah nutup-nutupin itu semua dari kita-kita. Lo tuh pengecut ! Bisanya Cuma manfaatin jabatan kakak biar pak Prapto milih lo jadi ketua panitia acara ini. Nah sekarang malah kacau gini kan acaranya.” Tambah Yogi ketus.
“Terserah apa kata kalian. Kalian tuh nggak tau masalahnya, jadi kalian jangan ikut campur. Gue tegasin sekali lagi. GUE BUKAN PENGECUT !!!” Ucap Kartika menegaskan kalimatnya setengah menahan tangis.
Seluruh murid tidak menghiraukan penegasan dari Kartika. Mereka semua kembali menyorakinya dengan tuduhan yang sama sekali tak pernah ia lakukan. Kartika kembali bungkam seribu bahasa, tidak tahu kata-kata apa lagi yang akan di ucapkan untuk membuat teman-temannya diam. Duduk di kursinya, sendirian. Hanya sendirian, karna teman-temannya yang tadi menyorakinya akhirnya pergi meninggalkannya sendiri di ruang kelas. Entah siapa yang memberi aba-aba kepada mereka, sehingga dengan kompaknya mereka pergi secara bersamaan meninggalkannya.
Apa yang harus gue lakuin sekarang ?? Kenapa sih semua jadi kayak gini ? Bukan gue yang maling tuh hape ! Kenapa teman-teman gue jadi kayak gini semua ? Mereka jauhin gue, nge-buli gue, emang gue punya salah apa sama mereka ? Semua yang gue certain tentang sekolah gue dulu bener adanya, gue nggak bohong. Kalo jadi ketua panitia tuh, bukan keinginan gue. Dari mana mereka tau Dicky kakak gue ? Pasti waktu itu, saat gue nggak masuk sekolah. Semua gara-gara dia. Temen-temen gue musuhin gue, gue di fitnah maling dan sekarang HUT Kartini yang sebenernya juga ultah gue jadi kacau gini. Semua salah Dicky, bukan gue !! Bisik Kartika dalam hati melimpahkan semua kesalahannya pada Dicky.
Menenangkan dirinya sejenak di ruang kelas. Menumpahkan semua kekecewaannya, menangis sepuas-puasnya tanpa ada yang melihat, menegur bahkan mendengar tangisannya. Sekarang ia benar-benar sendiri. Tak ada Dicky ataupun Reno yang biasanya selalu berada di sisinya. Sahabatnya Pratiwi, ia tak ingin menceritakan kisahnya hari kepadanya karna itu akan membuat dirinya tambah merasa di kucilkan. Ia memutuskan untuk ke toilet sekolah. Membersihkan wajahnya serta merapikan raut wajahnya yang kusut setelah menangis sepuas-puasnya.
Berjalan menyusuri koridor sekolah. Menyusuri setiap sudut ruang yang di lewatinya. Menatap sekumpulan murid-murid sekolah lainnya di depan sebuah ruang kelas. Matanya kembali terbelalak, saat menyorot sosok yang sangat ia kenal. Parasaan hatinya kembali goyah, menerima kenyataan yang harus ia terima dengan lapang dada.
Kartika. Lo harus kuat, kuat, kuat. Lo harus bisa terima kenyataan itu. Kenyataan kalo Reno udah jadi milik Sonia, bukan milik lo. Kenapa lo harus nangis. Toh nggak ada lagi yang akan ngehapus air mata lo yang jatuh dipipi, lo sendiri yang akan ngapusnya. Lo harus tenang. Hadapin semua dengan tenang. Bersikap dewasa lah, Dicky bukan bayang-bayang hidup lo. Dia kakak lo dan akan menjadi seorang kakak yang melakukan hal terbaik untuk adeknya. Dan Reno, lupain semua hanyalan lo tentang dia. Dia cuma mimpi indah semata yang sekarang berubah jadi mimpi buruk lo. Gumam Kartika, menenangkan dirinya mencoba bersikap dewasa.
Ia kembali ke ruang kelasnya. Suasananya tidak berubah, masih sepi tak berpenghuni setelah terjadi keributan sebelumnya. Seluruh murid di kelas, pergi meninggalkannya sendiri. Kartika berjalan menuju mejanya, hendak mengambil tasnya. Niatnya untuk pergi menemui pak Prapto dan meminta maaf atas apa yang terjadi serta siap menerima hukuman darinya. Sejenak pandangannya tertuju pada selembar kertas yang terlipat, tertempel di atas mejanya. Di lipatan depan surat tertera nama seseorang yang berhak atas surat itu. Dengan cepat ia mengambil surat itu dan membacanya.
Untuk Kartika
Jika sebuah telur di pecahkan kekuatan dari luar, maka kehidupan didalam telur akan BERAKHIR. Tapi.. Jika sebuah telur di pecahkan dari dalam, maka kehidupan baru telah LAHIR. Hal-hal besar selalu dimulai dari DALAM. Allah tidak pernah menjanjikan bahwa : langit itu selalu biru, bunga selalu mekar, dan mentari selalu bersinar. Tapi ketahuilah bahwa Dia selalu memberi pelangi disetiap badai, senyum disetiap derai air mata, berkah disetiap cobaan, jawaban disetiap doa. Hidup bukanlah tujuan, melainkan perjalanan maka nikmatilah. Hidup adalah tantangan, hadapilah. Hidup adalah anugerah, terimalah. Hidup adalah tugas,selesaikanlah. Hidup adalah cita-cita, capailah. Hidup adalah misteri, singkaplah. Hidup adalah kesempatan, ambillah. Hidup adalah janji, penuhilah. Hidup adalah keindahan, bersyukurlah. Hidup adalah teka-teki, pecahkanlah.
Oh ternyata ?
Intonasi suara Kartika membaca surat itu tak terdengar, hanya mantanya yang berkeliaran membaca setiap kata yang ditulis di surat itu. Melipatnya kembali dan memasukkannya kedalam tas.
Telur ? Hidup ? Bodo ahh, apaan gue nggak maksud artinya. Yang jelas gue sekarang harus terima kenyataan tentang hidup gue. Pergi nemuin pak Prapto, terus terima semua resikonya. Apapun hukuman yang di kasih, gue bakal terima dengan ikhlas pak. Yang penting jangan hubung-hubungin masalah gue sama prestasi dia di sekolah ini. Ini masalah gue, jadi gue yang harus nyelesaiinnya.
Diruang OSIS, pak Prapto sudah menunggu kedatangan Kartika. Mempersilahkannya duduk, menanyakan beberapa hal dan setelah itu siap memberikan hukuman yang setimpal dengan perbuatannya.
“Kartika coba jelaskan kembali. Apa benar bukan kamu yang mengambil hape bapak ?” Tanyanya memastikan sebelum bertindak.
“Iya pak, bukan saya. Saya berani sumpah pak ! Saya juga tidak tahu kalau hape bapak bisa didalam tasnya. Sedangkan saya sendiri kehilangan kunci aula sekolah pak. Sekali lagi, bukan saya pelakunya pak. Pasti ada seseorang yang menjebak saya. Maafkan saya pak.” Tegas Kartika memperjelas.
“Jangan menuduh orang lain Tika. Buktinya, hape saya ada di tas kamu. Bapak tidak mau ada saling tuduh menuduh di sini. Bapak sudah berbicara dengan Dicky, dan dia meminta maaf atas nama kamu atas perbuatan kamu itu. Tapi, bagaimana bisa bapak menerima permintaan maaf dia. Sedangkan kamu sudah menghilangkan kunci aula sekolah ?”
“Tolong pak, jangan bawa-bawa kakak saya dalam masalah ini. Saya akan melakukan apa saja, asalkan bapak mau menerima permintaan maaf saya. Dan kunci aula itu, saya janji pak saya akan segera menemukannya. Mungkin saya lupa membawanya pak, jadi tertinggal di rumah.”
“Nah, tadi kamu bilang kamu yakin kunci itu sudah kamu bawa. Dan sekarang kamu bilang kalau kunci itu mungkin tertinggal di rumah. Bagaimana bapak bisa memaafkan kamu, sedangakan perkataan kamu berbelit seperti ini.”
Dengan sangat kecewa, ia kembali menundukkan kepalanya. Tidak tahu harus menjawab apa.
“Baiklah, bapak akan menerima permintaan maaf kamu. Dan sebagai hukumannya, kamu harus hormay bendera selama setengah jam. Karna sekarang jga bertepatan dengan hari Kartini, jadi apa salahnya kalau kamu hormay bendera. Sebagai tanda kamu menghormati jasa-jasanya. Bagaimana ?” Tawar guru tersebut kemudian.
“Baik pak, saya terima.” Jawab Kartika tegas. Sanggup menerima tawarannya tersebut.
Setelah menerima tawaran dari guru tersebut yang memberinya hukuman hormat bendera, Kartika bergegas pergi dari ruangannya. Melaksanakan hukaman yang telah di terimanya. Akan tetapi sebelum itu, ia kembali ke ruang kelasnya. Menaruh tas yang tadi ia bawa.
Cuaca hari itu tidak bersahabat dengan hukuman yang harus di terima Kartika. Pukul 10.12 wib. Matahari memancarkan sinarnya terang. Tak ada tanda-tanda awan hitam yang akan menutupinya.
Kartika berdiri di lapangan upacara sekolah menghormati bendera merah putih yang berkibar diatas tiang, padahal hari itu bukan hari senin. Tak ada siswa lain yang melakukan hal itu. Mereka berdiri di depan setiap ruang kelas yang mengitari lapangan upacara, menjadikan Kartika sebagai tontonan. Diantara mereka, ternyata teman-teman sekelasnya juga melakukan hal sama akan tetapi lebih dari itu. Tak sekedar menonton Kartika yang menghormati bendera tapi juga menyorakinya kembali, sama seperti di kelas.
Beberapa teman sekelasnya mendatangi Kartika, ikut berdiri di lapangan upacara, tapi bukan itu yang mereka lakukan. Mereka kembali membuli Kartika, tak ada hentinya.
“Sukurin lo Tik, ini balasan buat orang kayak lo !” Teriak salah satu temannya, di ikuti teriakan dari teman-teman yang lain.
Pandangannya menyusuri ke setiap celah teman-temannya berdiri. Mencari sosok Rere ataupun Nevy, yang dulu selalu membelanya. Sekarang semua begitu sulit baginya, seakan berbagai masalah itu tak henti untuk menerpanya. Berharap akan ada seseorang yang membantunya keluar dari masalah itu.
Sosok seorang gadis yang tak asing lagi baginya, berjalan mengarahnya. Menatapnya dengan sorot mata yang jauh berbeda saat terakhir mereka bertemu. Berhenti di hadapan Kartika.
“Tika ? Lo kenapa bisa gini ?” Tanyanya ramah.
“Hah lo seneng kan sekarang ! Ini kan yang lo rencanain. Gue ucapin selamat buat lo. lo berhasil buat hidup gue ancur sekarang.” Ucap Kartika ketus.
“Maksud lo Tik ?”
“Lo bisa menuhin janji lo kemaren. Lo bilang, lo bakal rebut apa yang jadi milik lo. Sekarang lo bisa nepatin itu. Plus sekarang lo bisa ngancurin hidup gue. Makasih banget…”
Senyum simpul mengembang di bibir gadis yang berdiri di hadapannya. Mentapnya dalam, bersahabat. Tidak seperti sorot mata Kartika yang menatapnya sinis.
“Hem.. lo salah Tika. Semua itu nggak bisa gue penuhin. Lo yang menang, bukan gue. Gue kalah dari lo. Maaf kalo selama ini gue udah buat hidup lo kacau. Dan sekarang gue bakal hidup lo kayak dulu lagi, sebelum lo kenal sama gue. Kita akan mulai dari awal.” Ucap Sonia kemudian, pergi meninggalkan Kartika.
Sorot matanya masih lengket dengan sosok gadis yang tadi berdiri di hadapannya. Mentapnya penuh arti dengan ucapan yang di katakannya tadi.
Pukul 10.29 wib. Kartika masih menjalani hukumannya. Terik matahari makin bersinar terang, menyinari semua yang ada di permukaan bumi. Teman-teman yang tadi mengilinginya ikut pergi bersama dengan kepergian Sonia. Kembali sendirian di tengah lapangan upacara tanpa ada lagi yang mengerumuninya.
Sekarang gue Cuma sendiri. Nggak ada lagi yang mau nemenin gue. Jahatttt..... Gue pengen balik ke sekolah gue yang dulu. Gue kangen sama temen-temen lama gue. Tiwi, gue kangen banget sama lo. Hari-hari gue lebih berwarna di sana, sedang di sini semua buram, kacauuu.. Gue benci sekolah di sini. Gue pengen balik lagi ke sekolah yang dulu. Walaupun nggak ada Reno di sana, tapi gue seneng. Nggak kayak di sini, penuh masalah. Gumam Kartika berharap.
Tak ada angin yang berhembus. Tak ada awan hitam yang menggumpal di bawah langit. Air mengguyur tubuh Kartika hingga basah. Seketika tubuhnya menjadi kaku, diam tak berkutik sedikitpun. Menerima guyuran air dengan ikhlas tanpa menolaknya.
“Haahhahahaha, sukurin lo Tik. Emang enak. Itu hadiah buat orang kayak lo.” Teriak salah satu temannya yang juga ikut-ikutan mengguyurnya dengan air.
“Heyyy.. Maunya kalian tuh apa sih ???” Bentak Kartika kesal.
Di hadapan Kartika seluruh teman satu kelasnya berdiri mengelilinganya. Seakan tak ingin membiarkannya lari dari lapangan itu.
“Lo Tanya mau kita apa Tik ? Mau kita tuh…. Nih !” Ucap Rere selangkah lebih maju dari barisan yang lain.
Dari balik tubuhnya, Rere mengeluarkan tangannya yang menggenggam sesuatu. Kemudian memecahkannya tepat di atas kepala Kartika. Telur. Di ikuti gerakan tangan teman-temannya yang lain, melakukan hal yang sama dengan Rere. Tubuh Kartika yang mungil itu di selimuti dengan sesuatu yang tepat di bilang sebagai adonan kue. Pertama air, kemudian telur, di tutup dengan tepung. Di panggang di bawah terik matahari dan menunggunya sampai matang lalu siap untuk di santap.
BUKAAANNN…… Bukan itu akan terjadi. Ternyata semua itu adalah kejutan untuk Kartika di hari ulangtahunnya yang ke-17. Membuatnya marah dan merasa sendirian di hari ulangtahunnya. Ternyata semua itu hanyalah rekayasa semata yang telah direncanakan kakaknya, Dicky bersama teman-temannya yang lain termasuk Reno.
Barisan yang mengelilinginya terbuka, seakan memberi jalan bagi seseorang. Dari balik barisa, tampak beberapa siswa lain yang berjalan mengarah padanya. Kepala Kartika tertunduk malu, tak percaya dengan apa terjadi sekarang padanya. Seseorang yang ia harapkan itu berada di antara siswa laki-laki itu di ikuti sorak sorai dari teman-temannya. Melangkah lebih jauh dari lainnya, berhenti di hadapan Kartika. Di atas tangannya, terlihat ia sedang membawa kue tart yang cukup besar bertuliskan happy birthdays Kartika. Kue itu untuknya, special dibawakan oleh seseorang yang selalu ia tunggu.
“Tika, ini buat lo. Tiup dong, atau perlu gue bantu ?” Ucapnya menggoda, menunjukkan kue yang di atasnya telah menyala lilin dengan angka 17.
Kartika masih menundukkan kepalanya, tak percaya dengan semua apa yang di lihatnya sekarang. Seseorang itu tidak lupa dengannya. Ia tahu hari ulangtahunnya, dan sekarang dia berdiri di hadapannya. Perlahan Kartika menegakkan kepala, menatap seseorang yang ada di hadapannya itu. Segera melakukan apa yang di katakannya tadi. Teman-temannya yang lain menatap Kartika iri, tapi rasa bahagia juga ikut terpancar di raut wajah mereka. Senang melihat Kartika yang berbahagia hari itu.
“make a wish dulu dong.” Tambahnya kemudian.
Sorot matanya kembali tertuju pada seseorang di hadapannya. Menghentikan niatnya yang ingin segera meniup api lilin, sebelum angin yang meniup api itu.
Ya Allah, hambamu yang lemah dan tak berdaya ini. Setelah di terpa hujan, badai, dan sekarang gempa. Mau ngucapin makasih makasih makasih, sebanyak-banyaknya. Karna hari ini tepat hari ultah gue yang ke-17, semua yang gue impiin dan harapin jadi kenyataan. Walaupun nggak sesuai dengan apa yang udah gue rencanain. Tapi, hari ini gue seneng banget. Dan gue harap waktu berhenti di hari ini, jam ini, menit ini dan detik ini. Agar semua ini nggak akan cepet berlalu dan hilang gitu aja. Buat Dicky, kakak gue yang paling bawel tapi gue akuin lo emang yang terbaik buat gue. Gue makasih banget sama lo. Doa gue di hari ini, semoga hari-hari gue selanjutnya akan berjalan lancar seperti air yang mengalir. Walaupun gue tau itu nggak akan mungkin. Terus, gue harap sesuatu yang belum gue raih akan segera tercapai, jadi anak yang sholehah, berbakti pada kedua orangtua serta berguna bagi bangsa dan negara. Amin.. Nggak muluk-muluk kok, Cuma agak di lebihin dikit. Doa Kartika panjang.
Menarik napas panjang dan menghembuskannya. Memadamkan seluruh api yang menyala di atas kue tartnya. Mengembangkan senyumnya yang lebar menatap seseorang yang masih berdiri sabar di hadapannya. Membalas senyuman Kartika dengan colekan crim dari kue tart yang di bawanya. Sontak hal itu membuat seluruh teman-teman Kartika ikut mencolekinya dengan crim kue dan kembali menaburinya dengan sisa tepung yang ada.
Kejadian itu langsung terhenti ketika salah seorang guru datang menghampiri mereka. Dengan cepat mereka meghentikan kegiatan itu, berdiri diam menatap kearahnya yang masih terus berjalan dan berhenti di hadapan Kartika. Target sasaran mereka.
“Kartika, maafkan bapak. Ini semua ide Dicky, bapak hanya menurutinya. Tapi bapak salut sama kamu, karna kamu siap menerima resiko dari perbuatan yang telah kamu lakukan. Walaupun sebenarnya kamu tidak pernah melakukannya. Dan sekarang, ayo kita mulai kegiatan kita. Merayakan HUT Kartini yang juga bertepatan dengan ulangtahun Kartika. Ini kunci aula. Laksanakan tugasmu.” Perintak pak Prapto bijak.
Seluruh murid kemabali bersorak sorai, ikut berbahagia dengan hal itu. Melaksanakan kembali tujuan utama mereka datang ke sekolah di hari minggu. Yakni merayakan HUT Kartini.
***
Now !
Acara semula kembali digelar dan berlangsung sesuai jadwal. Walaupun sebelumnya terjadi accident yang tidak terjadwal. Acara yang di laksanakan hari ini adalah perlombaan busana kebaya dan yang terakhir musikalisi puisi. Perlombaan yang pertama, Kartika tidak berada di tempat untuk menyaksikannya. Selain karna phobia dengan baju kebaya ia juga harus membersihkan tubuhnya yang penuh dengan tepung dan telur. Membersihkannya sampai bersih, tak ingin meninggalkan kotoran sedikitpun di tubuhnya. Hingga membuat Rere dan Nevy yang menunggu di depan toilet sekolah jenuh.
Setelah beberapa puluh menit kemudian, Kartika keluar dari toilet. Mengenakan baju bersih yang telah di bawakan Rere sebelumnya.
“Gila ! Lama banget nungguin lo Tik. Ngapain aja sih di dalam ?” Tanya Nevy bosan.
“Yaa bersiin badan gue lah. Salah kalian sendiri, ngapain pake acara ceplok telor di kepala gue terus pake di taburin tepung segala. Emangnya gue baskom adonan. Kasian rambut gue nih. Habis sampo 5 bungkus tauk…” Balas Kartika tak mau di salahkan.
“Rambut segitu panjangnya juga, habis 5 bungkus. Rere aja yang rambutnya panjang Cuma abis satu botol. Ya nggak Re ?” Celetuk Nevy membalas.
“Yaiyalah. Wajar aja dong Vy. Rambut dia lebih panjang daripada gue. Tapi hari ini ada yang beda dari Rere deh ?? apaan ya ?” Ucap Kartika berpikir sejenak.
“Apa yang beda Tika. Inilah gue. Rere yang sebenarnya.” Jawab Rere bernada.
“Maksud lo, rambut dia nggak di kepang dua lagi ? Nggak pake kacamata yang segeda muka lagi ? Tapi masih pake behel ? Gitu ?” Nevy memperjelas.
Kartika hanya termangu dengan penuturan Nevy yang terang-terangan.
“Ohh itu. Itu Cuma buat gaya-gayaan aja Tika. Kemaren-kemaren gue tuh lagi pengen-pengennya jadi gadis desa. Biar agak terliat modern, gue pake kacamata yang gede. Gitu.. Kalo behel, udah dari dulu kali Tik..” Tutur Rere jujur.
Mendengar penuturan Rere, Kartika tersipu malu dengan jawabannya yang jujur. Setelah sebelumnya telah mengumpat penampilan Rere saat pertama kali bertemu dengannya di kelas. Gelak tawa mengiringi perjalan mereka menuju aula sekolah, tempat acara berlangsung. Di selingi candaan Nevy saat mengerjai Kartika dan membuatnya marah.
Perjalanan pendek mereka berhenti di sebuah gedung yang besar, berbeda dengan gedung-gedung lain di sekitarnya. Tempat di adakannya acara yang memeriahkan peringatan HUT Kartini. Canda tawa mereka terhenti saat memasuki ruang acara. Seluruh murid berkumpul di tempat tersebut, dengan satu tujuan yang sama. Menyaksikan cabang lomba yang di perlombakan dalam memeriahkan HUT Kartini, musikalisasi puisi.
Kartika dan dua temannya duduk di barisan kursi paling depan, karna tersisa 3 kursi kosong yang berada di barisan depan. Acara selanjutnya di mulai. Pembawa acara menyampaikan bahwa sesaat lagi akan ada penampilan dari band sekolah mereka. Mata Kartika terbelalak melihat seseorang yang tak asing lagi baginya naik ke atas panggung.
Dicky, Reno ? mau ngapain mereka bedua. Ikut-ikutan aja. Mau nyanyi apa sih ? emang bisa nyanyi ? Desis Kartika mencela.
Alunan suara musik mulai terdengar. Audiens menikmati setiap alunan musik yang dipetik dan dipukul oleh pemainnya. Lantunan kata-kata indah dinyanyikan merdu, mengikuti alunan nada yang di mainkan. Sama halnya dengan Kartika, ia menarik kata-katanya barusan. Ia sangat menikmati sebuah lagu yang di bawakan oleh kakaknya, terutama karna ada Reno disana. Menghanyati setiap untaian kata yang keluar dari mulut Reno. Seakan ada sesuatu yang tersirat dari lagu yang dinyanyikannya itu.
Semakin ku lihat masa lalu, semakin hatiku tak menentu
Tetapi satu sinar terangi jiwaku, saat ku melihat senyummu
Dan kau hadir merubah segalanya, menjadi lebih indah
Kau bawa cintaku setinggi angkasa, membuat ku merasa sempurna
Dan membuatku butuh tuk menjalani hidup berdua denganmu selama-lamanya
Kaulah yang terbaik untukku.
Salah satu dari bait lagu yang melekat di memori ingatan Kartika. Kata-kata yang di ucapkan Reno penuh arti saat menyanyikannya. Hingga penampilan band itu selesai, berganti dengan penampilan peserta lomba. Pandangan Kartika berubah kosong. Entah apa yang sedang ia pikirkan sekarang. Mnegingat kembali kata-kata yang di ucapkan Sonia padanya di lapangan tadi.
“Tika ?” Sapanya ramah.
Pandangannya tertuju pada sosok gadis yang berdiri di hadapannya, begitu pula dua temannya tadi. Raut wajah yang sama, saat ia menemui Kartika di lapangan tadi.
“Eh, kak Sonia. Tika, kita berdua pergi dulu bentar ya cari makanan.” Ucap Rere kemudian, membawa serta Nevy pergi bersamanya.
Sonia duduk di sebelah Kartika. Menatapnya dengan damai.
“Lo mau ngapain lagi nemuin gue ? Nggak bosan-bosan lo ya.” Ujar Kartika ketus.
“Hem.. Gue nggak mau apa-apa kok Tik. Lo masih kayak dulu, belum berubah. Gue nemuin lo, karna gue sadar. Gue yang salah dan gue mau minta maaf sama lo. Lo mau nggak maafin gue ?” Tutur Sonia mengulurkan tangan kanannya.
“Maksud lo apa ? Gue nggak ngerti kata-kata lo. Lo minta maaf sama gue ? Bukannya kita berdua emang salah ya. Terus kenapa lo minta maaf duluan ?”
“Kita emang sama-sama salah Tika. Tapi gue sadar, kalo meminta maaf duluan tuh lebih baik daripada kita yang menunggu kata maaf. Itu yang di bilang Reno sama gue.”
Kartika diam, tak menjawab kata-kata Sonia lagi. Selain karna ada nama Reno, ia juga enggan untuk membahas masalah itu lagi. Baginya sekarang ya sekarang, dulu ya dulu.
“Lo yang menang Tika. Gue yang kalah. Karna Reno lebih milih lo daripada gue. Dia udah ngelupain semua kenangan tentang gue dan buka lembaran baru bareng lo, bukan gue. Kita sekarang Cuma teman Kartika, nggak lebih. Kejutan di ultah lo hari ini, semua dia yang ngerancanain bareng Dicky, kakak lo. Gue iri sama lo. Lo punya segalanya, sedangkan gue. Gue udah nggak punya apa-apa lagi selain diri gue sendiri.” Tambah Sonia lirih.
“Maaf Sonia. Tapi gue udah maafin lo dari kemaren-kemaren dan lupain semua kejadian itu. Gue nggak mau ungkit-ungkit masa lalu lagi, sekarang ya sekarang, dulu ya dulu. Buat apa lagi di ungit-ungkit. Lo nggak sendirian Sonia. Lo punya temen-temen yang selalu ada buat lo dan gue. Gue akan jadi temen lo, yang akan selalu ada buat lo. Broken home bukan lah akhir dari kahidupan lo. Jalanin hidup lo yang sekarang dengan iklas, semua akan menuntunnya ke kehidupan yang lebih baik nantinya.” Balas Kartika besikap dewasa.
“Makasih Tika. Sekarang lo temuin Reno. Dia nunggu lo di taman samping. Ini dari dia yang di kasih ke gue. Lo harus baca.” Ucap Sonia, memberikan secarik kertas pada Kartika.
Mendengar perkataan Sonia, Kartika langsung mengambil kertas itu dan bergegas pergi meninggalkannya. Dalam perjalan menemui Reno, Kartika membaca isi surat yang di berikan Sonia tadi padanya. Tanpa memandang arah jalannnya.
Kita pernah dilukai dan mungkin pernah melukai, tapi karena itu kita belajar tentang bagaimana cara menghargai, menerima, dan memperhatikan. Kita pernah dibohongi dan mungkin pernah membohongi, tapi dari itu kita belajar kejujuran. Andaikan kita tidak pernah melakukan kesalahan dalam hidup ini, mungkin kita tidak pernah belajar arti dari meminta maaf dan memberi maaf. Setiap waktu yang telah kita habiskan dalam hidup ini tidak akan terulang kembali. Namun ada satu hal yang masih tetap bisa kita lakukan, yaitu belajar dari masa lalu untuk hari esok yang lebih baik. Hidup adalah proses. Hidup adalah belajar. Tanpa batas umur. Tanpa ada kata tua. Jatuh berdiri lagi. Kalah mencoba lagi. Gagal bangkit lagi.
BRUUKKKK… Tubuhnya menabrak seseorang di depannya kemudian jatuh. Menatap sosok laki-laki di hadapannya kesal. Seakan tak percaya dengan kejadian yang terjadi sekarang. Dengan sigap, Kartika langsung berdiri di hadapannya.
“Lo lagi. Ganggu jalan gue aja. Minggir !” Ucap Kartika ketus.
“Ehh lo ya, adek nggak tau terimakasih sama kakaknya. Udah di buatin surprised di hari ultah yang ke-17, eh sekarang malah ketus-ketus gitu. Jalan nggak pake mata, kayak di kejar setan aja lo.” Balas Dicky tak kalah ketusnya, menghalangi jalan Kartika.
“Yee, kalo jalan ya pake kaki dong Ky. Nggak pake mata, emang mata bisa jalan ? Penting nih, gue mau lewat. Minggir sana.” Perintah Kartika tak sabaran.
“Mau kemana sih Tik ? Hemm.. Ntar dulu gue inget-inget. Arah jalan lo kesana. Berarti lo mau nemuin Reno kan ? Mending sekarang lo ngaku deh sama gue ! Lo suka kan sama dia ?”
“Huhh siapa bilang. Sotoy lo ah !”
“Jangan bohong deh. Gue udah tau dari dulu Tik. Dari awal lo ketemu sama dia, terus minta di certain semua tentang dia. Emang lo kira gue oon gitu ? Nggak tau ! Asal lo tau, dia tuh juga suka sama lo. Tapi sikap lo belakangan ini ke dia, buat dia kecewa sama lo. Ngeselin juga lo ya, kayak Sonia.”
“Serius lo Ky ?? Enak aja, sekarang gue udah bukan Kartika yang dulu. Kartika yang sekarang udah berumur 17 tahun. Week, gue sama Sonia juga udah temenan, bukan musuh lagi. Bye gue mau nemuin Reno. Pengen dengar langsung dari dia !” Ujar Kartika masih menyembunyikan perasaannya, berlalu pergi dari hadapan kakaknya.
“Dasar cewek ! Nggak pernah tau apa isi hatinya sendiri.” Celetuk Dicky mengomentari.
Langkah kakinya terhenti. Tepat di mana Reno berada, seperti yang dikatakan Sonia tadi padanya. Perlahan Kartika berjalan menghampirinya. Akan tetapi langkahnya kembali terhenti. Kali ini tepat di belakang kursi Reno duduk. Hanya berdiri kaku terus menatapnya, tak berani melangkah lebih dekat lagi. Walaupun demikian, Reno menyadari kehadiran Kartika di dekatnya.
“Tika ? Ngapain lo disitu, sini duduk.” Ajaknya ramah, sama seperti di lapangan tadi.
Kali ini Kartika berani melangkahkan kakinya untuk berada lebih dekat dengannya. Masih menutupi perasaannya dari Reno. Tangannya masih memegang surat dari Sonia tadi.
“Apaan tuh Tik ? Cob ague liat.” Ucap Reno langsung mengambil kertas yang di pegang Kartika.
Jantung Kartika kembali berdetak kencang tak karuan saat Reno mengambil surat itu dan membacanya. Takut ia akan marah padanya, karna mengambil surat yang di berikannya pada Sonia.
“Eee, gue bisa jelasin kok Ren.” Tutur Kartika terbata.
Seulas senyum mengebang dibibir Reno. Menatap Kartika dengan sorot mata yang sama, saat ia mengajarinya bermain gitar.
“Nggak perlu kok Tik, gue udah tau. Gue yang nyuruh Sonia buat kasih surat ini ke lo. Sebagai bukti kalo lo sama dia udah baikan, nggak musuhan lagi. Berarti dia udah minta maaf sama lo atas kejadian waktu itu dan lo udah maafin dia.”
“Maksud lo Ren ?”
“Kejadian waktu dia nampar lo. Gue udah tau semuanya Tika, lo nggak bisa bohong dari gue. Lo udah terima surat dari gue juga kan ?”
Surat ? Ohh, maksudnya surat yang isinya tentang telur telur itu ya ? Jadi surat itu dari lo Ren. Hemm.. Kata-katanya sangat bijak Ren, berkesan banget. Penuh arti. Tapi sayang, lo ngasihnya di waktu yang tidak tepat. Sebenernya tepat sih, tapi waktu itu pikiran gue lagi kacau. Jadi surat lo gue umpat abis-abisan. Sekali lagi tapinya. Tapi, kalo tau suratnya dari lo, gue bakal bacanya penuh dengan penghayatan. TELAT, TELAT ! UDAH TELAT TIKA !!! Gumam Kartika berkeluh kesah sendiri.
“Gimana menurut lo surat gue ? Bagus nggak ?” Tanyanya kemudian, mengalihkan pembicaraan.
“Bagus, keren, gue suka sama kata-katanya. Dewasa, bijak, gue suka.”
“Lo cuma suka sama kata-katanya. Lo suka nggak sama gue ?” Tanya Reno tiba-tiba.
Sejenak Kartika terdiam mendengar pertanyaan Reno yang mendadak. Suasana diantara Kartika dan Reno tiba-tiba menjadi dingin. Tidak seperti biasanya, yang selalu enjoy. Walaupun Kartika menyembunyikan perasaannya dari Reno. Tapi kali ini berbeda.
“Hem.. penampilan band lo tadi keren loh. Bagus banget. Terus lagunya juga enak, gue suka.” Balas Kartika mencoba mengalihkan pertanyaan Reno.
Akan tetapi Reno tidak ambil pusing dengan apa yang di katakan Kartika. Dengan cepat ia menarik kedua tangan Kartika, menggenggamnya erat. Memposisikan tubuhnya berhadapan dengan Kartika. Hingga ia bisa menatap dengan jelas, sebuah sinar yang terpancar dari sorot mata Kartika saat menatapnya.
“Apaan sih lo Ren ? Di sekolah nih.” Bisik Kartika mengingatkan.
“Bodo, gue nggak peduli. Lo mau tau lagu itu buat siapa ? Lagu itu khusus buat lo, nggak ada yang lain. Gue udah tau semuanya Tika. Lo juga punya perasaan yang sama dengan gue. Dicky, Sonia, mereka udah cerita semua tentang lo ke gue. Dan sebenarnya gue juga udah tau dari awal. Tapi gue masih belum percaya sebelum denger kata-kata itu dari lo sendiri. Sekarang gue mau denger itu dari mulut lo langsung.” Tegas Reno, memperjelas kata-katanya.
Kartika bungkam seribu bahasa, tak menjawab pertanyaan Reno. Matanya berkeliaran mencari titik pandang yang lain, tapi itu tidak bisa dilakukannya. Sorot mata Reno terus mengawasi arah pandangnya.
Mati gue. Apa yang harus gue jawab ? Gue nggak tau mau ngomong apa ke lo Ren. Kenapa lo nggak langsung percaya aja sama cerita mereka. Jadi gue nggak mati kutu gini. tega benget sih lo Ren… Gue seneng waktu lo bilang, gue sama lo punya perasaan yang sama. Tapi gue sedih, karna lo buat gue ada di posisi ini. Oke gue bakal jawab pertanyaan lo. Ya, gue suka sama lo Ren. Gue mau lo jadi pacar gue. Puas lo ! Itukan yang pengen lo denger.
“Tika jawab pertanyaan gue ? Gue mau mulai dari awal sama lo. Bukan sama Sonia. Tapi oke, kalo lo mau gue mulai dari awal sama Sonia. Gue bakal lakuin itu, asal lo seneng.” Pasrah Reno, melepaskan genggaman tangan Kartika darinya.
“Oke, gue jawab sekarang. Lo mau denger langsung dari gue kan ? Ya, gue suka sama lo, gue sayang sama lo dan.. Ahhh, bodo. Yang penting gue nggak mau lo balik sama Sonia. Gue pengen lo cuma jadi milik gue. Puas lo.” Ujar Kartika cepat, tanpa mengulang kembali kata-katanya.
Wajahnya memerah, menahan malu yang tak terbendung lagi olehnya. Mengungkapkan secara gamblang perasaannya yang sebenarnya pada Reno. Setelah sekian lama menutup-nutupinya, akhirnya terbongkar juga.
“Lo tuh ya ? Nggak salah kalo gue minta certain sama Dicky tentang sikap lo, dan semua tentang lo. Lo tuh egois. Maunya menang sendiri. Dasar, Bee…” Ucap Reno kemudian, menatap wajah Kartika lekat.
“Apaan sih lo, ikut-ikutan manggil gue Bee kayak sahabat gue. Satu lagi gue nggak egois. Lo tuh yang egois. Gue benci lo.” Jawab Kartika kesal dengan sikap Reno yang membuatnya bingung.
Melihat sikap Kartika yang demikian, Reno kembali menarik tangannya. Memeganggnya lebih erat dari sebelumnya. Hingga memaksa Kartika untuk menatapnya kembali, setelah sebelumnya memalingkan wajahnya dari Reno.
“Tika. Dengar kata-kata gue. Lo harus dengerin ini dan lo harus tau ini. Cukup sekali gue bilang ke lo, nggak pake siaran ulang. GUE JUGA SUKA SAMA LO ! GUE SAYANG SAMA LO ! GUE NGGAK MAU KEHILANGAN LO ! GUE MAU LO CUMA JADI MILIK GUE, BUKAN ORANG LAIN ! DAN GUE MAU LO TERIMA ITU SEMUA !” Kata Reno mempertegas dan memperjelas kalimat yang di ucapkannya.
Kartika kembali bungkam. Berpikir sejenak dengan semua kalimat yang diucapkan Reno barusan. Berpikir secara jernih, berpikir, berpikir dan berpikir.
“Awalnya gue kira kalo perasaan gue bertepuk sebelah tangan Ren ? Tapi, setelah denger itu semua dari lo. Gue percaya kalo lo juga punya perasaan yang sama dengan gue. Dan gue harap lo bisa jadi yang terbaik buat gue dan sebaliknya.”
“Tika, Tika. Lo tuh beda dari orang lain. Lo ya lo, bukan yang lain. Masih tetep dengan sifat asal lo. Sombong, angkuh, nyebelin, keras kepala, tapi ngangenin. Nggak ketemu sehari serasa nggak ketemu setahun. Udah 17 tahun sekarang ya, jadi udah bisa bersikap dewasa dong ?” Kata Reno mulai menggoda Kartika.
“Ahh lo mulai deh. Tapi, untuk hari ini makasih ya. Gue seneng banget hari nih.” Ucap Kartika, mengembangkan senyum simpulnya.
Suasana yang semula dingin, berubah menjadi hangat. Di antara keduanya terjalin suatu ikatan akan perasaan yang sama. Duduk berdua dibangku taman, tanpa memperdulikan sorot mata yang ada di sekitar mereka. Menatap iri dengan suasana kehangatan yang terjalin di antara mereka.
Sekarang gue tahu dan gue ngerasain itu semua. Usia 17 tahun. Angka satu untuk diriku sendiri dan angka tujuh untuk tujuh hal baru yang akan membuat diriku lebih dewasa. Sekarang semua udah lengkap. Gue udah ngerasain apa yang lo ceritain ke gue, tentang ulangtahun yang ke-17, Wi. Dan gue akan menutup cerita gue tentang sekolah lama, dan buka lembaran baru di sekolah gue yang sekarang. Makasih, untuk semua temen-temen gue. Terutama kakak gue. Semua begitu indah dan begitu cepat. Tapi satu hal yang akan selalu gue inget tentang itu semua. Arti sebuah kedewasaan. Bukan karna bertambahnya umur, tapi cara berpikir. Umur bukan jaminan seseorang akan dewasa, tapi cara berpikirnya. Yang akan membuatnya lebih dewasa.
Rabu, 27 November 2013 | Diposting oleh Unknown di 09.58 |
Usia 17
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar